Samsung dipastikan menghentikan aplikasi Messages miliknya dan prosesnya dimulai dalam 10 minggu. Aplikasi itu akan dihapus dari toko aplikasi, lalu berhenti berfungsi, sementara pada Galaxy S26 aplikasi tersebut bahkan tidak lagi terpasang secara bawaan.
Samsung mendorong pengguna beralih ke Google Messages agar pengalaman berkirim pesan di Android terasa seragam. Langkah ini terdengar sederhana, tetapi keputusan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru tentang masa depan RCS, teknologi yang semestinya membuat pesan standar ponsel jauh lebih modern.
Samsung Tinggalkan Aplikasi Pesan Sendiri
Keputusan Samsung menutup Messages menandai perubahan besar dalam strategi messaging perusahaan. Dengan langkah ini, Samsung praktis menyerahkan pengalaman pesan bawaan ke Google Messages, padahal aplikasi Samsung selama ini juga sudah mendukung RCS.
RCS digambarkan sebagai penerus SMS yang membawa fitur seperti grup chat, berbagi file, dan tanda baca pesan. GSMA, lembaga pengatur standar seluler, menyebut RCS bertujuan memberi pengalaman pesan yang lebih interaktif langsung lewat aplikasi bawaan di ponsel.
Ironi di Tengah Dorongan Standarisasi
Langkah Samsung terasa ironis karena alasan yang dipakai justru “konsistensi.” RCS sendiri memang dirancang untuk menyatukan pengalaman berkirim pesan lintas perangkat dan menghadirkan fitur yang lebih kaya, termasuk enkripsi end-to-end dan kemampuan video yang lebih baik.
Namun, kondisi yang terjadi sekarang justru mempersempit pilihan. Ekosistem pesan global makin terkonsentrasi pada dua klien utama, yaitu Google Messages dan iMessage, sementara jalurnya bergantung pada arsitektur operator yang rumit.
Dampak ke Masa Depan RCS
Masalah terbesar RCS bukan pada fiturnya, melainkan pada kebutuhan banyak pihak untuk ikut mendukungnya. Apple dan Google sama-sama tidak membuka dunia pesan di ponsel mereka untuk aplikasi pihak ketiga secara bebas, sehingga pengembangan RCS tetap bergantung pada kompatibilitas antarjaringan dan antaroperator.
Situasi itu membuat RCS berkembang, tetapi sekaligus kehilangan sifat terbukanya. Untuk pengguna biasa, yang paling terasa bukan kompleksitas standar teknisnya, melainkan apakah pesan bisa dikirim, diterima, dan tampil dengan fitur yang sama di semua perangkat.
Apple Juga Bergerak, Tapi Arah Pasarnya Tetap Rumit
Di saat Samsung mundur, Apple justru melangkah ke arah yang berbeda lewat pembaruan iPhone yang akan membawa pesan berbasis operator menjadi end-to-end encrypted. Fitur itu disebut akan hadir pada akhirnya, tetapi bergantung pada adopsi standar baru oleh semua operator yang terlibat.
Perkembangan ini memperlihatkan paradoks di pasar messaging modern. Di satu sisi, RCS disebut makin matang dan membawa fitur keamanan yang lebih baik, tetapi di sisi lain jumlah pemain yang benar-benar menguasai klien pesan semakin sedikit.
Kenapa Ini Jadi Masalah untuk Pengguna
Bagi pengguna ponsel, yang paling penting adalah pengalaman yang sederhana dan konsisten. Namun, ketika Samsung menyerahkan peran aplikasi pesannya ke Google Messages, kendali atas pengalaman itu makin terkunci pada segelintir platform besar.
Di luar pesan bawaan, aplikasi seperti WhatsApp bergerak lebih cepat karena mereka menguasai penuh platform dan ujung komunikasinya. Model seperti itu memberi fleksibilitas lebih besar dibanding RCS yang harus bergantung pada persetujuan banyak operator sekaligus.
Dengan semakin sedikitnya aplikasi pesan bawaan yang benar-benar berdiri sendiri, RCS berisiko menjadi standar yang makin luas tetapi tidak makin bebas. Samsung mungkin mengambil langkah yang praktis untuk pengguna Android, tetapi keputusan ini juga menunjukkan bahwa masa depan messaging standar masih dibayangi oleh kontrol platform yang sangat terpusat.
