Selama bertahun-tahun, banyak sistem operasi ponsel datang dan pergi, tetapi webOS tetap punya tempat khusus di ingatan para penggemar teknologi. Setelah mencoba perangkat lama yang menjalankannya, kesan utamanya jelas: antarmuka ini terasa sangat modern untuk ukuran OS yang sudah berusia lama.
webOS pertama kali tampil lewat Palm Pre yang rilis pada 6 Juni 2009. Saat itu, sistem ini terlihat menonjol karena menawarkan cara pakai yang berbeda dari kebanyakan ponsel pintar lain, meski distribusinya terbatas dan perjalanan produknya singkat.
Rasa pakai yang masih terasa segar
Salah satu hal yang paling cepat terasa adalah penggunaan gestur. Alih-alih bergantung pada tombol navigasi tradisional, webOS menempatkan area gestur di bawah layar yang berfungsi sebagai pusat kontrol utama.
Dari area itu, pengguna bisa menggeser untuk melihat aplikasi terbaru dalam bentuk kartu. Aplikasi juga bisa ditutup dengan mengusapnya ke atas, sebuah pola yang kemudian terasa sangat akrab di banyak ponsel Android modern.
Multitasking yang jadi ciri utama
webOS tidak hanya mengandalkan gestur untuk berpindah menu, tetapi juga untuk membuka dan mengelola banyak aplikasi sekaligus. Dari tampilan multitasking, geseran ke atas bisa membuka peluncur aplikasi lengkap, sementara geseran pelan memunculkan dock berisi lima ikon dengan animasi yang halus.
Dalam penggunaan aplikasi, area gestur juga punya fungsi tambahan. Geseran pendek ke samping dipakai untuk kembali ke halaman sebelumnya, sementara pada peramban web gestur itu bisa dipakai maju dan mundur antarhalaman.
Pengaruhnya ke Android terlihat jelas
Jejak webOS pada Android mudah dikenali, terutama pada aspek navigasi dan multitasking. Beberapa pola yang kini terasa standar di Android ternyata sudah hadir lebih dulu di webOS dalam bentuk yang sangat matang.
Contohnya, layar kunci webOS memakai ikon gembok yang ditarik ke atas untuk membuka perangkat. Pemberitahuan tampil sebagai ikon di bar status, meski posisinya berada di bagian bawah layar, dan notifikasi itu bisa disapu dari tampilan Dashboard.
Mengapa webOS dianggap lebih maju
Kesannya bukan sekadar nostalgia. Saat dipakai sekarang, webOS masih terasa intuitif dan tidak mudah disebut kuno, meski versi terakhirnya sudah dirilis hampir 15 tahun lalu.
Hal itu juga berkaitan dengan tim di baliknya. Desain awal webOS dipimpin oleh empat orang, termasuk Matias Duarte, nama yang kemudian dikenal luas oleh pengguna Android.
Duarte masuk ke Google pada 2010 sebagai Director of Android User Experience. Ia sempat mengerjakan Android 3.0 Honeycomb, lalu pengaruh desain yang lebih matang mulai terlihat kuat pada Android 5.0 Lollipop.
Perjalanan singkat, pengaruh panjang
Secara sejarah, webOS memang tidak punya umur panjang. Setelah Palm Pre, Palm Pixi hadir lima bulan kemudian, disusul versi Plus untuk Pre dan Pixi pada Januari 2010, lalu Pre 2 di akhir tahun itu.
Ketika HP mengambil alih Palm, perusahaan ini merilis Veer, Pre 3, dan TouchPad pada 2011. Versi terakhir dari visi webOS ala Palm kemudian muncul dari HP pada Januari 2012.
Meski perjalanan komersialnya pendek, webOS meninggalkan warisan yang besar di dunia antarmuka ponsel. Android baru mendapatkan navigasi gestur yang benar-benar layak pada 2019, sementara webOS sudah mematangkan konsep itu jauh sebelumnya.
Kini, pengalaman mencoba webOS menunjukkan satu hal penting: banyak ide yang dianggap baru di ponsel modern ternyata sudah dirancang sangat baik sejak awal oleh Palm. Dalam konteks desain dan multitasking, webOS masih layak disebut sebagai salah satu sistem operasi mobile paling berpengaruh yang pernah ada.







