Ledakan kebutuhan chip untuk kecerdasan buatan atau AI memberi dorongan besar bagi Korea Selatan. Dalam 20 hari pertama Juli 2026, nilai ekspor Korea Selatan mencapai US$54,9 miliar, naik 52,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan itu terjadi ketika kelangkaan chip memori global menekan industri elektronik konsumen, termasuk ponsel, laptop, dan konsol game. Permintaan AI yang terus meningkat disebut memicu ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan chip memori di berbagai sektor.
Industri semikonduktor menjadi penggerak utama kenaikan perdagangan luar negeri negara tersebut. Pengapalan chip naik hampir tiga kali lipat di tengah ekspansi teknologi AI yang belum mereda.
Data Layanan Bea Cukai Korea Selatan yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan ekspor pada periode 1-20 Juli tahun sebelumnya berada di level US$36 miliar. Kenaikan menjadi US$54,9 miliar membuat nilai pengiriman luar negeri bertambah hampir US$19 miliar dalam perbandingan tahunan.
Chip memori menjadi mesin utama
Ekspor semikonduktor melonjak 180% secara tahunan menjadi US$22,1 miliar. Angka tersebut menempatkan chip sebagai sektor dengan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekspor Korea Selatan pada periode awal Juli.
Korea Selatan memang menjadi basis bagi perusahaan chip memori besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Tingginya permintaan komponen untuk AI membuat industri ini menjadi salah satu penopang paling kuat bagi aktivitas ekspor negara tersebut.
| Sektor | Nilai Ekspor | Perubahan Tahunan |
|---|---|---|
| Semikonduktor | US$22,1 miliar | Naik 180% |
| Produk minyak bumi | US$3,41 miliar | Naik 33,4% |
| Mobil | US$3,24 miliar | Turun 10,6% |
| Baja | US$2,64 miliar | Naik 11,1% |
| Kapal | US$2,44 miliar | Naik 70,8% |
Besarnya kenaikan semikonduktor terlihat kontras dengan kinerja sejumlah sektor ekspor lain. Mobil, misalnya, justru mencatatkan penurunan pengiriman sebesar 10,6% menjadi US$3,24 miliar.
Produk minyak bumi masih membukukan pertumbuhan 33,4% dengan nilai ekspor US$3,41 miliar. Sektor ini berada di bawah semikonduktor, tetapi tetap ikut menopang kenaikan pengiriman Korea Selatan ke pasar global.
Pengiriman baja meningkat 11,1% menjadi US$2,64 miliar. Ekspor kapal tumbuh lebih cepat, yakni 70,8%, hingga mencapai US$2,44 miliar.
Surplus perdagangan melebar
Di sisi lain, impor Korea Selatan juga naik 20% secara tahunan menjadi US$42,7 miliar pada 1-20 Juli 2026. Namun, pertumbuhan impor yang lebih rendah dibandingkan ekspor menghasilkan surplus perdagangan US$12,2 miliar.
Surplus tersebut menggambarkan jarak yang cukup lebar antara nilai barang yang dikirim ke luar negeri dan barang yang masuk ke Korea Selatan. Kinerja chip menjadi faktor paling menonjol di balik perbaikan neraca perdagangan pada periode tersebut.
Kenaikan kebutuhan chip memori datang bersamaan dengan tekanan yang dirasakan produsen perangkat elektronik konsumen. Ketika pasokan komponen tidak seimbang dengan permintaan, industri ponsel, laptop, dan konsol game ikut terdampak oleh kelangkaan.
Bagi Korea Selatan, situasi itu membuka peluang besar karena ekspor chip memori melonjak jauh lebih cepat daripada sektor-sektor lainnya. Data perdagangan awal Juli memperlihatkan bahwa permintaan terkait AI kini menjadi salah satu pendorong paling penting bagi ekspor negara tersebut.
Dengan nilai semikonduktor yang mencapai US$22,1 miliar, kontribusi industri chip mengambil porsi besar dari total ekspor US$54,9 miliar. Pergerakan ini mempertegas posisi chip memori sebagai kekuatan utama Korea Selatan saat permintaan AI global terus berkembang.
Source: www.cnbcindonesia.com






