
Motorola Indonesia menyatakan belum terdampak langsung oleh krisis kelangkaan memori global yang dipicu tingginya kebutuhan industri kecerdasan buatan. Country Head Motorola Indonesia Bagus Prasetyo menegaskan bahwa pasokan komponen untuk produk Motorola di Tanah Air masih tergolong aman, meski pasar teknologi saat ini tengah menghadapi tekanan besar.
Pernyataan itu disampaikan di Jakarta Selatan, Senin (9/3/2026), di tengah kekhawatiran industri atas kenaikan harga komponen dan potensi penurunan spesifikasi perangkat. Motorola menilai situasi ini memang nyata, tetapi perusahaan belum merasakan gangguan pasokan yang berarti.
Motorola mengandalkan dukungan ekosistem Lenovo
Bagus Prasetyo menjelaskan bahwa Motorola mendapat keuntungan karena berada dalam grup Lenovo. Posisi itu memberi akses pada dukungan rantai pasok yang lebih kuat dibandingkan banyak merek lain yang lebih bergantung pada pasar komponen terbuka.
Ia menyebut Lenovo punya basis IT, server, dan manufaktur database yang kuat. Menurutnya, struktur tersebut membantu Motorola menjaga kestabilan pasokan saat industri lain mulai merasakan dampak kelangkaan memori.
“Kami sejauh ini masih belum merasakan atau terdampak langsung akibat pasokan (memori) yang kurang,” kata Bagus Prasetyo dalam keterangan resminya. Pernyataan ini memberi sinyal bahwa Motorola masih memiliki ruang aman di tengah situasi pasokan yang melemah di berbagai segmen perangkat elektronik.
Kelangkaan memori muncul dari lonjakan kebutuhan AI
Masalah pasokan memori bermula dari meningkatnya permintaan untuk proyek infrastruktur AI sejak pertengahan 2025. Prioritas industri bergeser ke kebutuhan AI, sehingga pasokan komponen untuk ponsel, PC, dan laptop menjadi lebih ketat.
Dampaknya terasa pada harga yang naik dan ketersediaan komponen yang makin terbatas. Kondisi ini diperkirakan tidak cepat pulih, karena prediksi dari IDC menyebut gangguan bisa berlanjut hingga 2026 bahkan 2027.
TrendForce juga menggambarkan situasi serupa. Lembaga riset itu menilai harga perangkat berpotensi terus naik, sementara spesifikasi produk, terutama di kelas menengah dan bawah, berisiko diturunkan untuk menjaga biaya produksi.
Tekanan biaya mulai dirasakan industri lain
Krisis memori tidak hanya menjadi perhatian Motorola, tetapi juga sejumlah pemain besar lain di industri teknologi. HP sebelumnya menyebut harga memori sudah mencapai 35 persen dari total biaya komponen PC.
Di sisi lain, OPPO dan OnePlus dikabarkan akan menaikkan harga produk mereka secara serentak mulai 16 Maret 2026. Apple juga disebut-sebut menghadapi penundaan peluncuran MacBook Pro dan Mac Studio akibat situasi serupa.
Rangkaian respons itu menunjukkan bahwa kelangkaan memori telah menjadi persoalan industri, bukan sekadar isu di satu atau dua perusahaan. Saat komponen utama makin mahal, produsen harus memilih antara menahan harga, menekan margin, atau mengubah spesifikasi produk.
Motorola belum terdampak, tetapi penyesuaian harga tetap terbuka
Meski pasokan disebut aman, Motorola Indonesia tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga di kemudian hari. Bagus menilai langkah itu bisa terjadi karena pasar komponen bergerak mengikuti prioritas industri saat ini.
“Prioritas untuk pemenuhan rantai pasok itu ada pada industri AI dan pastinya industri-industri pendukung yang lain akan mengikuti apa yang ada di pasar saat ini,” ujarnya. Sikap ini menandakan Motorola tetap waspada terhadap tekanan biaya yang bisa muncul sewaktu-waktu.
Dalam situasi seperti ini, keunggulan Motorola justru terletak pada kemampuannya menjaga suplai lebih stabil dibandingkan pesaing yang lebih rentan terhadap gejolak pasar komponen. Namun, tekanan harga di tingkat komponen tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan, terutama jika krisis memori terus berlanjut dan memengaruhi biaya produksi perangkat di pasar Indonesia.
Source: telset.id








