Samsung Electronics membuka awal tahun dengan lonjakan kinerja yang sangat kuat. Perusahaan mencatat pendapatan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal pertama yang berakhir 31 Maret 2026, didorong terutama oleh permintaan AI yang terus mengangkat bisnis memori.
Di saat banyak perusahaan chip masih menghadapi tekanan biaya dan ketidakpastian rantai pasok, Samsung justru membukukan pendapatan konsolidasi KRW 133,9 triliun. Angka itu naik 43 persen dibanding kuartal sebelumnya dan disertai laba operasional rekor sebesar KRW 57,2 triliun.
Kinerja ini menegaskan posisi bisnis semikonduktor Samsung sebagai mesin pertumbuhan utama perusahaan. Divisi Device Solutions (DS), khususnya bisnis Memory, menjadi penopang terpenting berkat kuatnya permintaan pasar AI dan keunggulan teknologi Samsung di pasar memori.
Permintaan terhadap infrastruktur dan layanan AI ikut mengubah peta bisnis chip global. Dalam konteks itu, memori menjadi komponen yang sangat diburu, dan Samsung berada di posisi yang diuntungkan karena portofolio serta kapasitas teknologinya.
Meski hasil kuartal pertama sangat kuat, Samsung juga menyampaikan peringatan penting soal pasokan. Dalam earnings call, perusahaan memperkirakan kekurangan pasokan memori yang sedang berlangsung kecil kemungkinan mereda sebelum 2027.
Bahkan, tekanan pasokan diperkirakan dapat memburuk dalam periode mendatang. Reuters melaporkan bahwa Samsung menilai kesenjangan antara permintaan pelanggan dan suplai akan makin lebar pada 2027.
Eksekutif bisnis chip memori Samsung, Kim Jaejune, mengatakan pasokan perusahaan saat ini masih jauh di bawah permintaan pelanggan. Ia juga menyebut, berdasarkan permintaan yang sudah diterima untuk 2027, jurang antara suplai dan permintaan pada tahun itu diperkirakan lebih lebar dibanding 2026.
AI angkat memori, tetapi tidak semua unit ikut melesat
Di luar bisnis chip, performa unit lain Samsung bergerak lebih beragam. Bisnis MX dan Networks membukukan pendapatan konsolidasi KRW 38,1 triliun dan laba operasional KRW 2,8 triliun pada kuartal pertama.
Penjualan smartphone premium membantu Divisi Device eXperience (DX) mencatat kenaikan penjualan kuartalan 19 persen. Ini menunjukkan bahwa produk kelas atas masih memberi kontribusi penting di tengah fokus pasar pada AI dan semikonduktor.
Namun, tidak semua lini bisnis menikmati momentum yang sama. Samsung menyebut beberapa unit, termasuk Foundry Business dan divisi Display, mengalami penurunan karena faktor musiman, kenaikan harga memori, dan tekanan biaya.
Tekanan pada bisnis foundry menjadi catatan tersendiri dalam laporan kali ini. Walau Samsung mencetak rekor pendapatan dan laba operasional secara keseluruhan, pendapatan dari bisnis foundry justru menurun pada kuartal pertama.
Divisi display Samsung juga menghadapi tantangan yang serupa. Samsung Display Corporation mencatat pendapatan konsolidasi KRW 6,7 triliun dan laba operasional KRW 0,4 triliun pada kuartal pertama.
Penurunan laba di bisnis panel kecil dan menengah dipicu efek musiman serta dampak kenaikan harga memori. Meski begitu, permintaan terhadap monitor gaming OLED membantu menjaga penjualan tetap stabil.
Perangkat konsumen masih menopang, Harman ditekan biaya
Pada bisnis Visual Display dan Digital Appliances, Samsung membukukan pendapatan KRW 14,3 triliun. Laba operasional dari unit ini tercatat KRW 0,2 triliun pada kuartal pertama 2026.
Harman juga belum sepenuhnya pulih pada awal tahun. Kinerjanya turun akibat kenaikan biaya dan faktor musiman, walau Samsung memperkirakan penjualan akan membaik pada paruh kedua tahun ini berkat pasokan otomotif dan penjualan audio premium.
Gambaran ini menunjukkan bahwa rekor Samsung pada kuartal pertama tidak datang dari semua lini secara merata. Dorongan terbesar tetap berasal dari memori, sementara sejumlah bisnis lain masih harus menghadapi siklus musiman dan biaya yang meningkat.
Fokus paruh kedua tahun ini
Untuk paruh kedua tahun ini, Samsung memperkirakan permintaan memori akan tetap kuat. Pendorong utamanya tetap sama, yakni ekspansi infrastruktur AI dan pertumbuhan layanan berbasis AI.
Perusahaan juga menyiapkan strategi pertumbuhan lanjutan lewat perangkat flagship, ponsel foldable, dan chip canggih. Di sisi manufaktur semikonduktor, Samsung menyebut pengembangan node 1.4nm dan proses 2nm generasi kedua sebagai bagian dari langkah berikutnya.
Arah ini memperlihatkan bagaimana Samsung mencoba menyeimbangkan dua kebutuhan sekaligus. Di satu sisi, perusahaan ingin memaksimalkan ledakan permintaan memori untuk AI, sementara di sisi lain tetap membangun fondasi teknologi jangka panjang di foundry dan perangkat premium.
Pasar kini akan mencermati apakah peringatan Samsung tentang krisis pasokan memori akan menjadi sinyal lebih luas bagi industri chip. Jika permintaan AI terus meningkat lebih cepat daripada kapasitas suplai, dominasi pemain besar seperti Samsung di bisnis memori bisa menjadi faktor yang makin menentukan dalam beberapa tahun ke depan.
Source: www.gadgets360.com






