Generasi Z sedang menghidupkan kembali iPod bekas sebagai alat detoks digital. Perangkat pemutar musik lawas itu dipilih untuk membatasi ketergantungan pada ponsel pintar dan mengurangi gangguan saat mendengarkan musik.
Fenomena ini ikut mendorong lonjakan minat di pasar barang bekas sepanjang 2025. Data dari Axios menunjukkan pencarian kata kunci “iPod Classic” di eBay naik 25 persen pada periode Januari hingga Oktober 2025, sementara “iPod Nano” meningkat 20 persen pada periode yang sama.
Harga ikut terkerek naik
Permintaan yang tinggi membuat nilai jual iPod bekas melonjak tajam. The New York Times melaporkan harga perangkat itu naik hingga 60 persen dibandingkan 2023, dengan beberapa unit terjual sampai USD 600.
Kenaikan tersebut bahkan membuat sebagian iPod bekas dinilai setara dengan iPhone 17e. Meski begitu, daya tarik iPod tetap kuat karena perangkat ini bisa memutar musik secara luring tanpa iklan dan tanpa pengaruh algoritma internet.
Alasan anak muda kembali ke iPod
Bagi banyak pengguna muda, fokus menjadi alasan utama memilih perangkat tunggal untuk musik. Menggunakan iPod membantu mereka mendengarkan lagu tanpa harus membuka aplikasi musik di ponsel yang mudah memicu distraksi.
Di lingkungan sekolah, faktor aturan juga ikut berperan. Sebagian sekolah melarang ponsel, tetapi masih mengizinkan pemutar musik, sehingga iPod kembali mendapat tempat di kalangan pelajar.
Apple belum menunjukkan tanda produksi ulang
Di tengah popularitas tersebut, Apple belum memberi sinyal akan memproduksi ulang iPod. Namun, penemu iPod Tony Fadell menyampaikan pandangannya bahwa perangkat itu sebaiknya dihidupkan kembali dalam versi modern.
“Apple harus menghidupkan kembali iPod tapi dalam versi modern,” ujar Tony Fadell.
iPod Touch yang dihentikan pada 2022 tetap menjadi generasi terakhir dari lini produk itu. Sejak pertama diluncurkan 21 tahun lalu, iPod telah terjual 450 juta unit dan kini kembali diburu bukan karena kecanggihannya, melainkan karena fungsinya yang sederhana.







