Nokia pernah berdiri sebagai penguasa tunggal pasar ponsel global, sampai namanya nyaris identik dengan kata “ponsel” itu sendiri. Namun, dominasi yang dibangun sejak era 1990-an hingga awal 2000-an itu runtuh ketika industri smartphone bergeser ke arah yang berbeda.
Ben Wood dari CCS Insight menilai masa kejayaan Nokia begitu kuat sampai orang tidak membicarakan merek, melainkan nomor model seperti 3210. Kini, kebiasaan konsumen berubah total karena merek ponsel justru disebut lebih dulu sebelum varian atau modelnya.
Titik balik saat iPhone mengubah industri
Apple menjadi pemicu perubahan besar setelah meluncurkan iPhone pada Januari 2007. Saat itu, Nokia masih terlihat sangat percaya diri dengan posisi pasar yang mereka kuasai.
Wood mengatakan manajemen Nokia merasa hampir mustahil untuk melakukan kesalahan. Keyakinan itu muncul justru ketika peta persaingan mulai berubah cepat di sekitar mereka.
Perubahan paling penting datang dari cara Apple membaca kebutuhan pengguna. Nokia unggul di hardware, tetapi Apple menjadikan software sebagai pusat pengalaman pengguna.
Wood menggambarkan bahwa Nokia memang membuat ponsel hebat dan melewati dekade panjang inovasi hardware. Namun, Apple melihat bahwa perangkat cukup berbentuk kotak persegi panjang dengan layar, sementara sisanya ditentukan oleh software.
Symbian tertinggal dari iOS
Di tengah pergeseran itu, platform Symbian yang menjadi andalan Nokia dinilai tidak mampu mengejar fleksibilitas iOS. Banyak analis menilai perusahaan gagal memahami betapa pentingnya software dalam ekosistem smartphone modern.
Data Gartner memperlihatkan penurunan yang sangat tajam. Nokia menguasai 49,4 persen pangsa pasar smartphone global pada tahun 2007, lalu turun bertahap menjadi 43,7 persen, 41,1 persen, dan 34,2 persen, sebelum anjlok hingga tinggal 3 persen pada paruh pertama 2011.
Penurunan itu tidak hanya soal produk, tetapi juga soal cara perusahaan membaca arah industri. Nokia terlalu lama bertumpu pada kekuatan lama ketika pasar mulai menuntut model bisnis dan teknologi yang berbeda.
Budaya kerja yang membuat masalah sulit terlihat
Masalah Nokia juga datang dari dalam perusahaan. Penelitian Tim O. Vuori dari Universitas Aalto dan Qui Huy dari INSEAD Singapura menemukan atmosfer kerja yang mencekam dalam proses inovasi perusahaan.
Studi berjudul Distributed Attention and Shared Emotions in the Innovation Process: How Nokia Lost the Smartphone Battle itu melibatkan wawancara dengan 76 manajer level atas, manajer menengah, engineer, dan pakar eksternal. Hasilnya menunjukkan para manajer menengah takut melaporkan realita lapangan, terutama saat target penjualan meleset.
Para eksekutif juga khawatir mengakui kelemahan Symbian karena takut investor, pemasok, dan pelanggan setia berpaling. Dalam situasi seperti itu, laporan yang naik ke puncak organisasi tidak selalu mencerminkan kondisi riil.
Vuori dan Huy juga mencatat bahwa sebagian pimpinan organisasi tidak memiliki pemahaman teknis yang cukup dalam. Kondisi ini memengaruhi keputusan teknologi dan penetapan target bisnis di saat Apple banyak dipimpin oleh para engineer.
Strategi jangka pendek mengalahkan rencana jangka panjang
Kesalahan berikutnya ada pada alokasi sumber daya. Riset tersebut menunjukkan manajemen Nokia lebih memprioritaskan pengembangan varian ponsel baru untuk mengejar keuntungan pasar jangka pendek.
Langkah itu mengorbankan fokus untuk membangun sistem operasi baru yang kompetitif dalam jangka panjang. Fenomena ini disebut miopia temporal, yakni kegagalan mempertimbangkan dampak jangka panjang saat mengambil keputusan taktis.
Tekanan ekonomi, hambatan struktur organisasi, dan faktor psikologis membuat perusahaan sulit berinovasi secara lincah. Padahal, Nokia memiliki nilai-nilai seperti Respect, Challenge, Achievement, dan Renewal, meski sebagian karyawan menilai penerapannya tidak konsisten.
Akuisisi Microsoft dan akhir era ponsel Nokia
Saat bisnis seluler terus merosot, Microsoft masuk untuk membeli divisi perangkat genggam Nokia. Menurut Wood, Microsoft saat itu juga menghadapi tantangan besar di pasar mobile dan membutuhkan mitra strategis untuk memperkuat ekosistem Windows Phone di ponsel flagship Nokia.
CEO Microsoft saat itu, Steve Ballmer, menyebut akuisisi itu ditujukan untuk mempercepat inovasi di pasar perangkat bergerak. Gartner juga menilai Microsoft harus berubah menjadi lebih dari sekadar penyedia software agar bisa bersaing dengan Apple dan Google.
Pada 2014, Microsoft meresmikan akuisisi divisi perangkat keras Nokia dengan nilai sekitar 7,2 miliar dollar AS. Setelah itu, Nokia tidak sepenuhnya berhenti berbisnis, tetapi beralih ke infrastruktur jaringan melalui Nokia Solutions and Networks dan pengembangan peta digital lewat divisi Here.
Layanan Here sempat digunakan di sekitar 80 persen sistem navigasi bawaan dashboard mobil global. Di sisi lain, portofolio paten teknologi mobile Nokia diperkirakan Forbes bernilai sekitar 4 miliar dollar AS, sementara hak lisensi merek ponselnya kemudian diakuisisi HMD Global pada 2016.







