Membuat konten travel kini tidak lagi identik dengan tas penuh kamera, lensa, tripod, dan gimbal. Travel content creator asal Indonesia, Andy Garcia, menilai smartphone sudah cukup mumpuni untuk merekam momen perjalanan sekaligus memenuhi kebutuhan unggahan media sosial.
Pandangan itu ia sampaikan dalam workshop Galaxy S26 Ultra #YouandAICan di Hanoi, Vietnam. Menurut Andy, perangkat yang terlalu banyak justru bisa menggeser fokus utama saat bepergian, dari menikmati perjalanan menjadi sibuk mengejar konten.
Andy mengatakan pengalaman traveling bisa terasa kurang menyenangkan ketika perhatian habis untuk mengurus perlengkapan. Pengguna harus menyiapkan ruang lebih besar di tas atau koper, sekaligus memikirkan pengisian daya dan keamanan tiap perangkat selama perjalanan.
Karena itu, ia menyarankan pendekatan yang lebih sederhana. Smartphone dipilih karena lebih praktis dan dinilai mampu menghasilkan sekitar 95 sampai 98 persen kualitas yang mirip kamera mirrorless untuk kebutuhan tertentu.
Utamakan momen, bukan kerumitan alat
Tips pertama yang ditekankan Andy adalah mengurangi gear yang dibawa. Semakin banyak alat, semakin besar pula kerepotan yang muncul, mulai dari penyimpanan hingga pemeliharaan selama di jalan.
Menurut dia, beban itu bisa membuat kreator kehilangan momen penting. Saat perangkat lebih ringkas, pengguna bisa bergerak lebih cepat dan lebih leluasa menangkap kejadian yang muncul spontan.
Konten travel kini cenderung lebih autentik
Andy juga menyoroti perubahan selera penonton di media sosial. Ia melihat tren kini bergerak ke konten yang lebih natural, raw, autentik, dan sederhana, bukan semata video yang terlalu sinematik.
Bagi pembuat konten travel, perubahan ini membuka peluang besar untuk memaksimalkan smartphone. Gaya visual yang lebih dekat dengan pengalaman asli perjalanan justru dianggap lebih relevan dan terasa akrab bagi penonton.
Pendekatan tersebut juga membuat proses produksi lebih ringan. Pengguna tidak harus terpaku pada setelan rumit atau pengambilan gambar yang terlalu teknis untuk menghasilkan konten yang menarik.
Manfaatkan LOG video untuk edit lebih leluasa
Dalam workshop itu, Andy mengaku cukup sering memakai fitur LOG video di Samsung Galaxy S26 Ultra. Format ini dipilih karena memberi ruang edit yang lebih fleksibel saat proses color grading.
Menurut dia, video LOG yang tampil flat memudahkan pengaturan warna, highlight, dan shadow sesuai kebutuhan. Fleksibilitas ini membantu kreator membentuk karakter visual masing-masing tanpa terlalu dibatasi hasil warna bawaan kamera.
Bagi pembuat konten travel, keuntungan ini terasa penting ketika kondisi cahaya berubah cepat. Satu lokasi bisa memiliki suasana pagi, siang, atau malam yang sangat berbeda, sehingga ruang koreksi warna menjadi lebih berguna.
Pilih lensa tele untuk foto landmark
Untuk pemotretan landmark atau bangunan besar, Andy menyarankan penggunaan lensa tele. Lensa ini disebut bisa menghasilkan efek kompresi yang membuat subyek dan latar belakang terlihat lebih proporsional.
Efek itu membantu bangunan atau obyek jauh tampak lebih dekat secara visual. Hasilnya, foto bisa terlihat lebih estetik dibanding mengambil gambar terlalu dekat ke obyek utama.
Teknik ini juga berguna saat lokasi ramai dan ruang gerak terbatas. Pengguna tetap bisa mendapatkan komposisi yang rapi tanpa harus memaksa berdiri di titik yang terlalu dekat.
Tangkap dulu, framing bisa menyusul
Andy menyarankan pengguna untuk tidak terlalu lama mengatur komposisi ketika sedang traveling. Fokus utama sebaiknya tetap pada menangkap momen secepat mungkin, lalu framing bisa disesuaikan saat editing.
Cara ini menurut dia lebih efektif untuk situasi yang bergerak cepat. Namun, pendekatan tersebut membutuhkan resolusi kamera tinggi agar hasil foto tetap tajam saat di-crop atau diatur ulang.
Untuk kebutuhan itu, Andy memanfaatkan mode 200 MP di Galaxy S26 Ultra. Resolusi tinggi memberi keleluasaan lebih besar saat melakukan crop tanpa terlalu mengorbankan detail gambar.
Fitur AI bisa memangkas banyak hambatan saat di perjalanan
Selain kamera, Andy juga menilai fitur AI berperan besar saat traveling. Ia menyebut Gemini, Circle to Search, dan Live Translate sebagai fitur yang sangat membantu dalam aktivitas perjalanan.
Fitur-fitur itu bisa dipakai untuk mencari informasi tempat wisata, menerjemahkan bahasa asing, hingga menemukan lokasi dari video media sosial. Menurut Andy, kegunaan semacam ini termasuk hal yang paling sering dibutuhkan saat bepergian.
AI, dalam konteks ini, bukan sekadar pelengkap. Bagi kreator travel, alat bantu seperti pencarian cepat dan terjemahan langsung dapat mempercepat pengambilan keputusan di lapangan.
Workflow cepat tetap penting setelah pengambilan gambar
Andy juga menekankan bahwa pembuatan konten tidak berhenti saat foto atau video sudah direkam. Proses memindahkan file ke perangkat editing menjadi bagian penting dari workflow selama perjalanan.
Untuk itu, ia memanfaatkan fitur Quick Share di Samsung Galaxy S26 Ultra. Fitur tersebut memudahkan transfer file dari smartphone ke laptop tanpa perlu kabel tambahan, sehingga alur kerja tetap ringkas dan cepat.
Kombinasi perangkat yang lebih sederhana, gaya konten yang autentik, serta alur kerja yang praktis menjadi inti pendekatan yang ia dorong. Dengan cara itu, perjalanan tetap bisa dinikmati, sementara momen penting tetap terdokumentasi dengan efektif lewat smartphone.
Source: tekno.kompas.com






