Sony termasuk nama besar di industri elektronik, tetapi jejaknya di pasar HP justru terasa jauh lebih sempit. Di Indonesia, HP Sony tidak dijual secara resmi, sehingga banyak calon pembeli hanya bisa mencarinya lewat luar negeri atau jasa titip.
Keputusan itu tidak muncul tanpa alasan. Pemicunya antara lain HP Sony yang tidak memenuhi TKDN, harga yang tinggi dan dinilai kurang cocok dengan pasar Indonesia, persaingan yang berat, serta anggapan bahwa pasar Indonesia kurang menguntungkan bagi Sony.
Fokus pada dua lini saja
Di pasar HP, Sony juga tidak bermain di banyak segmen seperti merek lain. Perusahaan asal Jepang itu hanya berfokus pada dua seri, yaitu Sony Xperia 1 sebagai kelas flagship dan Sony Xperia 10 sebagai kelas mid-range.
Strategi ini membuat pilihan konsumen menjadi terbatas. Sony tidak menawarkan HP entry level, gaming, flagship murah, foldable, atau model yang dibuat untuk kegunaan tertentu.
Dilansir laman resmi Sony, Xperia 1 dibanderol sekitar Rp30 jutaan. Sementara itu, Xperia 10 dijual sekitar Rp9 jutaan.
Fitur lama yang masih dipertahankan
Di saat banyak HP flagship lain mulai meninggalkan fitur lama, Sony justru mempertahankannya. Beberapa model baru Sony masih membawa jack audio 3,5 mm dan slot MicroSD.
PhoneArena menyebut Xperia 1 VIII masih hadir dengan dua fitur itu. Bahkan, Xperia 1 VII yang dirilis pada 2025 masih memakai side mounted fingerprint, padahal banyak flagship lain sudah beralih ke in-display fingerprint.
Bagi sebagian orang, pilihan ini terasa tertinggal. Namun, ada juga pengguna yang menilai Sony tetap membantu karena masih menyediakan fitur yang kini mulai jarang ditemui.
Layar tanpa notch yang jadi pembeda
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari HP Sony ada pada layarnya. Menurut NoteBookCheck dan Mashable, Sony tidak memakai notch di bagian atas layar seperti banyak HP modern lain.
Sebagai gantinya, Sony memakai layar full screen dengan bezel tebal di bagian atas dan bawah. Area bezel atas itu dipakai untuk kamera depan, speaker, dan sejumlah sensor.
Desain ini memberi tampilan yang berbeda dari tren pasar. Di sisi lain, bentuknya juga bisa terasa aneh bagi pengguna yang terbiasa dengan layar berponi atau punch hole.
Bodi panjang dan ramping
Sony juga punya ciri fisik yang tidak biasa lewat rasio layar 21:9. GSMArena mencatat format ini hadir pada HP flagship seperti Sony Xperia 1 VI dan Xperia 1 V.
Rasio tersebut membuat bodi HP Sony terlihat lebih panjang dan ramping dibanding banyak HP modern lain yang umumnya memakai rasio 19,5:9. Bentuk ini membuat HP lebih nyaman digenggam dengan satu tangan.
Namun, ukuran yang memanjang juga punya konsekuensi. Jari pengguna jadi lebih sulit menjangkau bagian ujung atau atas layar.
Identitas yang kuat, tetapi tidak selalu mudah diterima
Kombinasi desain, fitur, dan format layar membuat HP Sony punya karakter yang kuat. Di mata para penggemarnya, karakter itu justru menjadi nilai utama karena memberi identitas yang berbeda dari Samsung, Apple, atau Xiaomi.
Meski begitu, keunikan tersebut tidak otomatis cocok untuk semua orang. Banyak konsumen yang lebih memilih HP mainstream karena lebih familiar dan terasa lebih praktis untuk kebutuhan harian.
Source: www.idntimes.com






