Setahun Comeback ke Indonesia, Tantangan Terbesar Honor Ternyata Bukan Soal Produk

Setahun setelah kembali meramaikan pasar ponsel Indonesia, Honor mengakui tantangan terbesarnya belum sepenuhnya soal spesifikasi atau harga produk. Hambatan utama justru datang dari persepsi pasar, terutama keraguan konsumen apakah merek ini benar-benar kembali untuk jangka panjang.

Situasi itu menjadi penting karena Honor pernah hadir di pasar Indonesia pada 2018, lalu perlahan mundur pada 2019. Setelah jeda enam tahun, Honor baru kembali resmi menjual ponsel di Indonesia pada akhir Februari 2025, sehingga wajar jika sebagian konsumen masih menunggu bukti konsistensinya.

Aryo Meidianto Aji, Head of Public Relations PT Trinova Digital Indonesia selaku distributor Honor di Indonesia, mengatakan banyak konsumen masih mempertanyakan keberadaan dan komitmen merek tersebut. Menurut dia, kebingungan itu muncul karena Honor sempat pergi, lalu kembali, dengan jalur distribusi yang juga baru.

Aryo menegaskan Honor serius membangun bisnis di Indonesia dan tidak berencana kembali hengkang. Namun, ia juga mengakui proses membangun ulang kepercayaan pasar tidak bisa terjadi secara instan karena transformasi seperti ini membutuhkan waktu.

Membangun ulang kepercayaan pasar

Bagi Honor, tantangan reputasi ini punya dampak langsung terhadap strategi bisnis. Saat konsumen masih ragu terhadap keberlangsungan merek, faktor layanan purna jual, ketersediaan produk, dan konsistensi distribusi menjadi penentu yang tak kalah penting dibanding fitur perangkat.

Karena itu, Honor tidak langsung tampil agresif di segmen flagship. Perusahaan memilih fokus pada kelas entry-level dan mid-range, dua segmen yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan mayoritas pasar Indonesia.

Aryo menilai tidak semua merek efektif ketika memaksakan diri masuk ke pasar premium. Menurut dia, ada vendor yang justru kuat di segmen bawah tetapi kemudian mengejar pasar atas yang porsi market share-nya lebih kecil.

Pendekatan Honor saat ini adalah menawarkan perangkat yang lebih dahulu banyak dicari dan dibeli konsumen. Strategi tersebut sekaligus menjadi cara perusahaan untuk memperluas basis pengguna sambil membangun kembali keyakinan pasar terhadap mereknya.

Taruhan di segmen harga terjangkau

Strategi itu terlihat dari peluncuran Honor X6c dan Honor X7d di Indonesia. Keduanya ditempatkan di segmen entry-level dan mid-range, dengan daya tahan perangkat sebagai salah satu nilai jual utama.

Honor X6c menyasar pengguna yang lebih luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Perangkat ini dijual seharga Rp 2,99 juta untuk varian 6/256 GB, sehingga ditempatkan sebagai opsi yang lebih terjangkau bagi pasar massal.

Di kelas harganya, Honor X6c mengandalkan layar dengan refresh rate 120 Hz, baterai 5.300 mAh, dan sertifikasi IP64 untuk ketahanan terhadap debu serta percikan air. Ponsel ini juga mengantongi sertifikasi tahan banting SGS hingga ketinggian 1,5 meter.

Sementara itu, Honor X7d diarahkan untuk pengguna profesional yang membutuhkan kapasitas penyimpanan lebih besar dan fitur yang lebih tinggi. Di Indonesia, ponsel ini hadir dengan RAM 8 GB dan media penyimpanan 512 GB.

Honor X7d dibanderol Rp 4,5 juta dan membawa kamera 108 MP serta baterai 6.500 mAh. Perangkat ini juga disebut sudah memiliki sertifikasi tahan banting dari ketinggian 2 meter, mempertegas fokus Honor pada aspek durabilitas.

After sales jadi kunci

Selain produk, Honor menempatkan layanan purna jual sebagai bagian penting dari upaya menghapus keraguan konsumen. Langkah ini menjadi krusial karena salah satu pertanyaan terbesar setelah comeback biasanya berkaitan dengan dukungan servis dan jaringan perbaikan.

Aryo mengatakan Honor saat ini memiliki lebih dari 10 titik layanan after sales di Indonesia. Salah satu titik tersebut terintegrasi langsung dengan Experience Store Honor di Mal Gandaria City, Jakarta Selatan.

Untuk menjangkau luar kota, Honor bekerja sama dengan Unicom. Pola ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berusaha hadir lewat peluncuran perangkat, tetapi juga lewat infrastruktur layanan yang bisa memberi rasa aman kepada pengguna.

Bagi Honor, kehadiran jaringan purna jual menjadi pesan bahwa comeback ke Indonesia tidak berhenti pada momentum peluncuran produk baru. Di tengah persaingan pasar yang padat, keberhasilan merek ini tampaknya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya membuktikan bahwa mereka benar-benar hadir, tersedia, dan siap melayani konsumen dalam jangka panjang.

Source: tekno.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button