Aturan baterai baru di Uni Eropa mulai memicu banyak asumsi soal masa depan ponsel Samsung. Namun perubahan yang paling mungkin terjadi bukan kembalinya desain lama dengan penutup belakang yang bisa dibuka pakai tangan dan baterai yang dapat dicopot dalam hitungan detik.
Arah kebijakan ini justru lebih menekan kemudahan perbaikan, bukan nostalgia desain smartphone era lama. Artinya, ponsel Galaxy generasi berikutnya kemungkinan tetap terlihat seperti flagship modern, tetapi cara membukanya dan mengganti baterainya bisa dibuat jauh lebih sederhana.
Banyak pengguna mengira regulasi ini akan memaksa produsen menghadirkan lagi baterai yang benar-benar dapat dilepas tanpa alat. Pandangan itu muncul karena aturan tersebut menyebut perangkat dengan baterai portabel, termasuk smartphone, harus memastikan baterai “mudah dilepas dan diganti oleh pengguna akhir kapan saja”.
Namun penjelasan hukum yang lebih rinci menunjukkan maknanya tidak sesederhana itu. Pasal 11 dalam Regulation (EU) 2023/1542 menjelaskan bahwa baterai dianggap mudah dilepas oleh pengguna akhir jika dapat dikeluarkan dengan alat yang tersedia secara komersial, tanpa alat khusus, kecuali alat tersebut disertakan gratis bersama produk, serta tanpa memerlukan panas atau pelarut untuk membongkar perangkat.
Fokus pada kemudahan servis
Rumusan ini penting karena menegaskan bahwa Uni Eropa tidak secara eksplisit meminta produsen kembali ke konsep baterai copot-pasang seperti ponsel lama. Yang disasar justru tingkat kerumitan perbaikan pada perangkat modern yang kini sangat bergantung pada lem kuat dan proses bongkar yang rumit.
Pada banyak smartphone masa kini, panel belakang kaca direkatkan rapat dan baterainya juga ditempel sangat kuat di dalam bodi. Penggantian baterai sering membutuhkan pemanasan perangkat, pelepasan lem secara hati-hati, pembongkaran panel yang rapuh, dan penanganan komponen internal yang tersusun sangat padat.
Kondisi itu membuat perbaikan menjadi sulit, berisiko, dan mahal, terutama bagi pengguna biasa. Karena itu, regulasi baru lebih masuk akal dibaca sebagai dorongan untuk membuka akses baterai dengan lebih mudah, bukan perintah untuk mengubah total bentuk smartphone premium.
Jika pendekatan ini diterapkan, Samsung masih berpeluang mempertahankan banyak elemen desain modern pada ponselnya. Bagian belakang kaca, rangka logam, pengisian daya nirkabel, hingga ketahanan air seperti IP68 tetap bisa dipertahankan selama penggantian baterai tidak lagi bergantung pada alat khusus, heat gun, atau perlengkapan servis profesional.
Perubahan bisa terjadi di balik bodi
Dampak terbesar justru kemungkinan terjadi pada rancangan internal dan metode perakitan. Galaxy masa depan seperti Galaxy S27 Ultra diperkirakan tetap mirip dengan flagship sekarang dari sisi tampilan, tetapi konstruksi bagian belakang dan akses ke komponen di dalamnya bisa didesain ulang agar lebih mudah dibuka.
Samsung juga dinilai sudah mulai bergerak ke arah tersebut. Beberapa perangkat Galaxy terbaru memakai pull tab atau pouch pada baterai, yang memudahkan proses pelepasan tanpa harus mengikis lem secara agresif.
Langkah berikutnya bisa saja menyentuh cara panel belakang dilepas. Samsung mungkin perlu memikirkan metode penyegelan baru atau desain panel belakang yang tetap kuat dan tahan air, tetapi bisa dibuka memakai alat sederhana yang tersedia luas di pasaran.
Pendekatan seperti itu akan lebih sejalan dengan bunyi aturan Uni Eropa. Regulasi tersebut tidak menuntut smartphone kembali memakai tutup plastik belakang yang tipis atau desain bongkar-pasang tanpa alat, melainkan menolak ketergantungan pada panas, pelarut, dan alat proprietary saat baterai perlu diganti.
Mengapa dampaknya bisa meluas ke luar Eropa
Perubahan ini juga berpotensi tidak berhenti di pasar Eropa. Jika Samsung perlu menyesuaikan desain Galaxy agar mematuhi regulasi baru, perusahaan kemungkinan besar akan menerapkannya secara global ketimbang membuat satu versi khusus Eropa dan versi lain untuk negara lain.
Alasannya cukup praktis. Menjaga dua desain perangkat keras yang berbeda untuk model yang sama akan menambah kompleksitas produksi dan biaya manufaktur.
Pola seperti ini sudah pernah terlihat pada regulasi teknologi konsumen sebelumnya. Ketika Uni Eropa mendorong adopsi USB-C, perubahan itu pada akhirnya tidak berhenti sebagai solusi regional, melainkan diterapkan lebih luas.
Karena itu, pembahasan soal aturan baterai Uni Eropa tidak semata relevan bagi pembeli ponsel di Eropa. Jika Samsung memilih jalur desain tunggal untuk lini Galaxy mendatang, perubahan cara baterai diakses dan diganti bisa dirasakan pengguna di banyak pasar, meski tanpa kebangkitan kembali ponsel dengan penutup belakang yang bisa dicopot begitu saja.
