Google bersiap kembali ke pasar laptop dengan pendekatan yang berbeda dari era Pixelbook. Alih-alih menghidupkan lagi lini lama itu, perusahaan ini disebut memperkenalkan ekosistem baru bernama Googlebook yang sejak awal dirancang untuk menonjolkan kecerdasan buatan Gemini.
Perubahan ini menarik perhatian karena Googlebook tidak diposisikan sebagai laptop biasa. Perangkat ini disebut hadir dengan label “Designed for Gemini Intelligence”, menandakan AI bukan sekadar fitur tambahan, melainkan pusat pengalaman penggunaan.
Kabar kemunculan Googlebook mencuat menjelang gelaran Android Show I/O Edition. Bocoran yang beredar melalui PC Guia dan XDA Developers menyebut Google memilih nama baru untuk menandai arah strategi yang lebih luas di pasar komputasi personal.
Yang paling menonjol, Google tidak bergerak sendirian. Perusahaan ini disebut menggandeng lima manufaktur global besar, yakni Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo, untuk membangun ekosistem Googlebook yang dijadwalkan mulai hadir pada akhir September.
Langkah tersebut menunjukkan pergeseran penting dalam strategi perangkat Google. Fokusnya kini bukan hanya menghadirkan satu laptop buatan sendiri, melainkan mendorong Android masuk lebih dalam ke kategori laptop lewat mitra hardware besar.
Dalam konteks ini, Googlebook dipandang sebagai upaya serius untuk membawa pengalaman Android ke format desktop yang lebih matang. Jika arah ini berjalan sesuai rencana, posisi laptop Android bisa menjadi jauh lebih relevan untuk kebutuhan kerja harian.
AI jadi nilai jual utama
Salah satu fitur yang paling disorot adalah Magic Pointer. Fitur ini ditenagai Gemini dan disebut mampu memahami konten yang sedang tampil di layar untuk kemudian menawarkan tindakan yang relevan secara instan.
Contoh yang muncul adalah kemampuan menggabungkan dua gambar menjadi poster band hanya dalam hitungan detik. Fitur seperti ini menunjukkan bahwa AI pada Googlebook diarahkan untuk mempercepat proses kreatif, bukan sekadar menjawab pertanyaan atau merangkum teks.
Googlebook juga disebut membawa fitur Create My Widget. Fitur ini memungkinkan pengguna membuat pelacak jadwal langsung dari perintah teks dengan mengambil data dari layanan seperti Kalender atau Gmail.
Pendekatan tersebut mengarah pada kebutuhan produktivitas yang lebih praktis. Pengguna tidak harus melalui banyak langkah manual karena sistem mencoba menerjemahkan instruksi sederhana menjadi alat kerja yang langsung bisa dipakai.
Bukan sekadar laptop Android biasa
Googlebook disebut menjalankan sistem operasi berbasis Android yang ditujukan untuk produktivitas generasi muda. Informasi ini penting karena menandakan Google ingin mengubah persepsi bahwa Android hanya cocok untuk ponsel atau tablet.
Meski spesifikasi detail perangkat masih belum dibuka, ada spekulasi bahwa sistem ini terkait dengan Aluminium OS. Platform itu sebelumnya disebut sebagai versi Android bergaya desktop yang sangat responsif.
Jika benar digunakan sebagai fondasi, maka Googlebook bisa menjadi wujud nyata dari ambisi lama Google untuk menghadirkan Android dalam format komputasi yang lebih fleksibel. Ini sekaligus membuka peluang integrasi lintas perangkat yang lebih mulus antara ponsel dan laptop.
Integrasi ponsel Android jadi senjata tambahan
Selain AI, Googlebook juga disebut menonjolkan hubungan yang lebih erat dengan ponsel Android. Salah satu fitur yang disebut hadir adalah Cast My Apps, yang memungkinkan akses ke aplikasi smartphone langsung dari layar laptop.
Melalui fitur ini, pengguna disebut bisa menjalankan aplikasi seperti Adobe Acrobat atau Photoshop dari ponsel ke laptop tanpa hambatan berarti. Arah ini memperlihatkan bahwa Google ingin menjadikan ponsel sebagai bagian aktif dari pengalaman komputasi, bukan perangkat yang berdiri sendiri.
Belum ada kepastian apakah fitur eksklusif tertentu akan dibatasi pada seri Pixel 10 Pro atau Pixel 10 Pro Fold. Namun, sinergi antara perangkat seluler dan laptop tampak menjadi salah satu fondasi utama pengembangan Googlebook.
Dari sisi desain, Notebookcheck menyebut Googlebook mengusung bodi tipis bergaya futuristik. Salah satu ciri yang menonjol adalah elemen lampu warna-warni khas Google yang disebut Glowbar.
Identitas visual itu bisa menjadi pembeda penting di tengah pasar laptop yang cenderung seragam. Google tampaknya berupaya menggabungkan bahasa desain yang mudah dikenali dengan fitur AI yang kuat agar Googlebook tampil sebagai kategori baru, bukan sekadar alternatif laptop konvensional.
Kehadiran Googlebook juga memunculkan pertanyaan baru soal masa depan laptop Pixel. Saat Google memilih nama baru, membangun ekosistem dengan banyak mitra, dan menempatkan Gemini sebagai fondasi utama, arah ini terlihat lebih luas daripada sekadar meneruskan warisan Pixelbook.
Dengan peluncuran yang disebut dimulai akhir September, persaingan di segmen laptop produktivitas diperkirakan akan memanas. Terlebih, Google kini tidak hanya menjual perangkat, tetapi juga menawarkan model komputasi baru yang bertumpu pada Android, integrasi ponsel, dan AI Gemini sebagai pusat pengalaman.
Source: www.suara.com





