
Huawei tidak lagi hanya dikenal sebagai pemain jaringan telekomunikasi dan enterprise. Di pasar perangkat konsumen, perusahaan asal Shenzhen itu kini menunjukkan bahwa tekanan dari sanksi Amerika Serikat justru mendorong mereka mencari jalur baru untuk tetap tumbuh.
Perubahan paling menarik terlihat di dua arena sekaligus, yaitu smartphone dan wearable device. Saat akses ke layanan GMS diputus, Huawei memang terpukul di ponsel pintar, tetapi perusahaan itu pelan-pelan membangun kekuatan baru lewat HarmonyOS, chipset Kirin, dan lini perangkat pintar yang makin agresif.
Dari ponsel ke ekosistem mandiri
Sejarah smartphone Huawei dimulai sekitar 2003, saat perusahaan ini masih dikenal sebagai produsen peralatan jaringan. Langkah masuk ke Android dimulai melalui Huawei U8220 yang tampil di MWC Barcelona pada akhir Februari 2009 dengan layar sentuh 3,5 inci, Android 1.5, dan kamera 3,2 megapiksel.
Setelah itu, Huawei melanjutkan serangan lewat seri Ascend yang muncul pada 2010. Salah satu model pentingnya adalah Ascend P1, yang diumumkan di CES pada Januari 2012 dan dirilis pada Mei 2012, dengan bodi ultra-tipis 7,69 mm, layar Super AMOLED 4,3 inci, dan prosesor dual-core 1,5 GHz.
Dorongan itu mengangkat pengiriman handset Huawei hingga sekitar 108 juta unit pada 2015. Pada periode yang sama, Huawei menjadi produsen smartphone terbesar ketiga di dunia dan produknya tersedia di lebih dari 150 negara dan wilayah.
Perusahaan kemudian memperluas strategi dengan Nova Series untuk kelas menengah dan Honor sebagai sub-brand untuk segmen budget. Di kelas premium, Huawei mengandalkan seri P dan Mate untuk melawan Samsung dan iPhone, lalu memperkuat citra lewat kerja sama dengan Leica pada kamera perangkat flagship.
Pernah jadi raja, lalu terpukul sanksi
Puncak ambisi Huawei sempat terlihat pada kuartal II-2020, ketika berbagai laporan pasar mencatat perusahaan itu menggeser Samsung dan merebut posisi nomor satu smartphone dunia. Pada April 2020, Huawei disebut menguasai 21,4% pangsa pasar smartphone global, sementara Samsung berada di 19,1%.
Namun posisi itu tidak bertahan lama. Sanksi Amerika Serikat memutus akses Huawei ke GMS dan teknologi chipset penting lain, sehingga penjualan globalnya turun tajam dan Honor harus dilepas.
Dari tekanan itu, Huawei memilih jalur kemandirian teknologi. Perusahaan membangun HarmonyOS, mengembangkan ekosistem aplikasi HUAWEI AppGallery, dan memperkuat chipset Kirin yang diklaim memiliki performa tinggi, efisiensi energi superior, serta keunggulan pemrosesan AI.
Bangkit lewat pasar domestik
Strategi baru tersebut mengubah arah bisnis Huawei. Pada Agustus 2024, penjualan Huawei bahkan melampaui iPhone, sebelum perusahaan kembali menguasai pasar domestik dan menduduki posisi teratas smartphone China pada kuartal pertama 2026.
Counterpoint Research mencatat Huawei memegang pangsa pasar 20% dalam tiga bulan pertama 2026, tertinggi sejak kuartal keempat 2020. Dua seri premium yang mengangkat posisi itu adalah Huawei Pura 90 yang berfokus pada pencitraan AI dan Huawei Mate 80 yang menonjolkan produktivitas serta perangkat keras canggih.
Keduanya memakai prosesor Kirin 9030, HarmonyOS 6.1, dan desain premium. Huawei juga mempertahankan daya tarik melalui ponsel lipat, dengan pangsa pasar 35% di China hingga kuartal kedua 2026, terutama berkat Mate XT yang harganya sering melebihi US$2.800.
Wearable jadi medan baru yang lebih menjanjikan
Di saat ruang gerak smartphone masih dibatasi, Huawei justru semakin agresif di wearable device. IDC mencatat Huawei memimpin pasar smartwatch global pada Q3-2025 dengan pengiriman tertinggi, dan tren itu berlanjut dalam tiga kuartal pertama tahun ini.
Kinerja tersebut ditopang Watch Ultimate 2, Watch D2, seri GT 6, serta jam tangan FIT yang lebih terjangkau. IDC juga mencatat Huawei mengirimkan 28,6 juta smartwatch dengan pangsa pasar 18,6% secara global dan 20,8 juta unit dengan pangsa pasar 35,5% di China.
Pertumbuhan global Huawei pada periode itu mencapai 21,6%. Meski pasar domestik masih menyumbang 27,0% penjualan terbesar, angka global tersebut menunjukkan upaya Huawei memperluas basis pengguna di luar China.
Xiaomi berada di posisi kedua dengan 27,9 juta unit global dan 15,9 juta unit di China. Apple menempati peringkat ketiga secara global, sedangkan Samsung berada di posisi keempat dengan 11,8 juta unit dan pangsa pasar 7,6%.
Produk baru untuk mengunci dominasi
Untuk memperkuat posisi di wearable, Huawei menggelar peluncuran produk global di Bangkok, Thailand, pada 7 Mei 2026. Di bawah tema “Now Is Your Spark”, perusahaan memperkenalkan Watch Fit 5 Series, Watch GT Runner 2 Racing Legend Edition, MatePad Pro Max, Huawei Watch Ultimate Design, Huawei Watch Kids X1 Series, dan Huawei Nova 15 Max.
Watch Fit 5 Series akan masuk pasar Indonesia mulai 12 Mei 2026 dengan sejumlah peningkatan di sektor kesehatan dan olahraga. Huawei menghadirkan dua model, yaitu Watch Fit 5 Pro dan Watch Fit 5, yang sama-sama ditujukan untuk pengguna aktif dengan kebutuhan pemantauan kesehatan, kebugaran, dan aktivitas harian.
Model Pro membawa fitur Diabetes Risk Study yang diklaim pertama di industri wearable. Fitur ini memakai teknologi PPG untuk menganalisis parameter tertentu terkait risiko diabetes setelah perangkat digunakan dalam periode tertentu, sejalan dengan perhatian yang makin besar terhadap penyakit metabolik seperti diabetes di Indonesia.









