Perangkat wearable pada 2026 mulai bergeser dari sekadar pelacak langkah dan layar kecil untuk notifikasi. Fokus industrinya kini mengarah ke fungsi yang lebih nyata, yakni perangkat yang tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga menafsirkannya untuk membantu kesehatan, performa harian, dan mobilitas.
Perubahan itu membuat faktor kegunaan akhirnya mengejar hype yang selama ini melekat pada kategori ini. Dari smart ring dengan akurasi kelas medis sampai kain pintar yang tertanam sensor, tren wearable terbaru semakin menekankan manfaat yang terasa dalam penggunaan sehari-hari.
Smart ring makin jadi pilihan utama
Smart ring kini keluar dari bayang-bayang smartwatch dan mulai menjadi pilihan utama bagi pengguna yang ingin pemantauan terus-menerus tanpa perangkat besar di pergelangan tangan. Bentuknya lebih ringkas, tampil lebih subtil, dan tidak bergantung pada layar.
Perangkat seperti Oura Ring 4 dan Samsung Galaxy Ring mendorong tren ini dengan skor energi berbasis AI. Metrik itu menggabungkan kualitas tidur, heart rate variability atau HRV, dan aktivitas harian untuk memberi gambaran seberapa kuat tubuh siap beraktivitas pada hari itu.
Daya tahan baterai juga menjadi nilai jual penting di kategori ini. Pada 2026, masa pakai baterai smart ring secara rutin sudah bisa melampaui 10 hari, sehingga lebih praktis untuk pemantauan kesehatan harian tanpa sering diisi ulang.
Pemantauan glukosa tanpa tusukan mulai masuk pasar konsumen
Salah satu perkembangan paling penting di wearable adalah pelacakan glukosa non-invasif. Jika continuous glucose monitor atau CGM kelas medis sudah lama ada, 2026 disebut menjadi fase ketika sensor non-invasif mulai terintegrasi ke smartwatch premium dan patch khusus.
Teknologi ini bekerja dengan sensor optik dan analisis keringat untuk memantau kadar glukosa tanpa tusukan jarum. Dampaknya besar, terutama bagi pengguna yang ingin melihat hubungan antara pola makan, asupan sebelum latihan, camilan siang, dan perubahan energi secara real time.
Bagi atlet dan pengguna yang fokus pada metabolisme, data ini membuka akses yang sebelumnya lebih dekat dengan kalangan profesional elit. Informasi glukosa menjadi alat untuk mengatur strategi pengisian energi dengan lebih presisi sepanjang hari.
Wearable mulai memprediksi, bukan hanya melaporkan
Tren lain yang menonjol adalah munculnya digital twin berbasis AI. Apple dan Garmin disebut telah memasukkan teknologi ini ke dalam ekosistem mereka untuk memanfaatkan data biometrik historis yang sudah terkumpul selama bertahun-tahun.
Lewat pendekatan ini, wearable membangun model digital dari kondisi fisiologis pengguna. Hasilnya bukan sekadar catatan tentang apa yang sudah terjadi, melainkan simulasi tentang bagaimana tubuh bisa merespons beban latihan tertentu atau kurang tidur.
Fungsi prediktif ini membuat wearable bergerak ke ranah pencegahan. Jika AI mendeteksi tren penurunan pada penanda imun sebelum gejala terasa, sistem bisa menyarankan hari istirahat untuk membantu menghindari kelelahan berlebih atau sakit.
Navigasi haptik kurangi ketergantungan pada layar
Perangkat wearable juga semakin mengurangi kebutuhan untuk terus melihat layar. Navigasi haptik menjadi salah satu fitur yang menonjol, terutama lewat pakaian pintar dan cincin yang memakai pola getaran untuk memberi arahan.
Getaran lembut di sisi kanan pergelangan, misalnya, bisa menandakan belokan. Pola ritme yang stabil juga dapat memberi tahu bahwa pengguna sudah mencapai tujuan.
Pendekatan ini dinilai lebih aman dan intuitif untuk komuter perkotaan dan pesepeda. Pengguna tetap bisa fokus ke jalan tanpa terganggu tampilan layar yang menyala.
Hearables berkembang jadi asisten dan pemantau tubuh
Earbud kini berkembang menjadi hearables yang lebih cerdas. Pada 2026, terjemahan real-time berbasis AI dengan latensi rendah disebut sudah menjadi fitur standar di perangkat kelas atas dari Sony dan Google.
Fitur itu memungkinkan percakapan langsung diterjemahkan hampir secara real time dan diperdengarkan langsung ke telinga pengguna. Artinya, hearables tidak lagi hanya berfungsi untuk mendengarkan musik atau menerima panggilan.
Kemampuannya juga meluas ke pemantauan kesehatan. Beberapa perangkat kini dilengkapi sensor detak jantung kelas klinis dan akselerometer pelacak postur yang dapat memberi peringatan saat pengguna terlalu lama membungkuk di meja kerja.
Pakaian jadi perangkat keras baru
Smart fabric menjadi salah satu tanda paling jelas bahwa wearable tidak lagi selalu berbentuk jam atau gelang. Kain pintar kini bergerak dari perlengkapan olahraga khusus ke pakaian harian yang lebih umum.
Pada 2026, kemeja dan kaus kaki dengan mikro-sensor tertanam mulai digunakan untuk melacak aktivasi otot dan simetri gaya berjalan. Data ini membuka peluang pemantauan yang lebih dekat ke gerakan tubuh sebenarnya, bukan hanya sinyal dari satu titik sensor.
Masalah baterai yang selama ini menjadi kelemahan wearable juga mulai dicoba diatasi lewat kinetic charging. Beberapa jaket kelas atas disebut memanfaatkan gerakan tubuh untuk menghasilkan sedikit listrik yang kemudian mengisi daya perangkat terhubung secara perlahan sepanjang hari.
Source: tech.sportskeeda.com






