Xiaomi Tahan Diri Di Ambang Rilis, HP 5,5 Mm Dibatalkan Karena Baterai Dan Panas

Xiaomi memilih membatalkan proyek smartphone ultra-tipis yang nyaris masuk jalur produksi massal, meski perangkat itu hanya setebal 5,5 milimeter dan sudah disiapkan untuk menjadi pesaing langsung iPhone Air. Keputusan itu diambil karena perusahaan menilai desain setipis itu terlalu berisiko mengorbankan baterai, pendinginan, dan kenyamanan pakai harian.

Pengakuan tersebut datang dari Lu Weibing, Presiden Xiaomi, dalam siaran langsung pada 16 Mei 2026. Ia menyebut perusahaan rela menanggung kerugian finansial daripada merilis perangkat yang tampak mengesankan, tetapi mengecewakan saat digunakan setiap hari.

Prototipe nyaris siap produksi

Proyek yang dibatalkan itu bukan sekadar konsep awal. Xiaomi sudah menuntaskan tooling, menyiapkan rantai pasok, dan mempersiapkan lini produksi sebelum akhirnya menghentikan seluruh rencana.

Perangkat prototipe tersebut dirancang dengan bodi premium, dual kamera belakang, dan chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 dari Qualcomm. Dari sisi tampilan, ponsel ini diproyeksikan menjadi salah satu yang paling tipis di dunia.

Di balik desain itu, Xiaomi menemukan dua hambatan besar. Ruang bodi 5,5 mm tidak cukup longgar untuk menampung baterai besar dan sistem pendingin yang layak.

Baterai kecil dan panas jadi masalah utama

Xiaomi memperkirakan kapasitas baterai yang mungkin dipasang hanya sekitar 3.000–3.200 mAh. Angka itu sekelas dengan iPhone Air yang disebut memiliki baterai 3.149 mAh, tetapi jauh di bawah standar flagship modern yang umumnya memakai baterai 5.000 mAh atau lebih.

Masalah lain datang dari chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang berperforma tinggi, tetapi juga menghasilkan panas signifikan saat dipakai untuk gaming, perekaman video 8K, atau multitasking berat. Untuk menjaga performa stabil, chip itu memerlukan vapor chamber cooling yang butuh ruang vertikal minimal 6–7 mm.

Dengan ketebalan 5,5 mm, Xiaomi menilai perangkat hanya bisa mengandalkan heat pipe sederhana atau grafit foil. Solusi itu dinilai tidak cukup untuk mencegah thermal throttling, sehingga performa bisa turun drastis setelah beberapa menit pemakaian intensif.

Lu Weibing menegaskan bahwa semakin tipis perangkat, semakin sulit memasukkan baterai besar, pendingin yang layak, dan hardware berkinerja tinggi tanpa mengorbankan pengalaman harian. Pernyataan itu menjadi alasan utama Xiaomi memilih menghentikan proyek tersebut.

Mundur saat semuanya hampir selesai

Keputusan Xiaomi disebut berat karena pembatalan dilakukan saat proyek sudah memasuki tahap sangat lanjut. Produk itu tidak dihentikan di fase ide, melainkan ketika semua persiapan produksi hampir rampung.

Tooling logam disebut sudah selesai, pemasok komponen sudah dikontrak, dan lini perakitan di pabrik telah disiapkan. Membatalkan di titik itu berarti menelan kerugian besar, namun Xiaomi menilai kualitas pengalaman pengguna lebih penting daripada mengejar tren bodi tipis.

Langkah tersebut juga berlawanan dengan strategi Apple yang tetap merilis iPhone Air seharga $999. Perangkat itu dinilai membawa spesifikasi yang minim, termasuk satu kamera dan baterai kecil, meski dipasarkan sebagai produk premium.

iPhone Air jadi pelajaran pasar

Respons pasar terhadap iPhone Air justru memperkuat kalkulasi Xiaomi. Menurut laporan MacRumors, Apple memangkas produksi iPhone Air hingga 80% setelah survei menunjukkan permintaan yang nyaris nol.

Konsumen disebut tidak tertarik membayar $999 untuk ponsel dengan satu kamera, baterai 3.149 mAh, dan kemampuan yang tidak unggul untuk gaming maupun produktivitas. Situasi ini membuat keputusan Xiaomi terlihat lebih hati-hati dan lebih dekat dengan kebutuhan pasar.

Lu Weibing mengatakan Xiaomi tidak ingin menjual ilusi. Ia menegaskan perusahaan ingin menjual pengalaman nyata, bukan sekadar angka tipis pada lembar spesifikasi.

Arah baru Xiaomi bergeser ke seri Max

Alih-alih mengejar desain ultra-tipis, Xiaomi kini mengarahkan fokus ke Xiaomi 17 Max. Model ini tidak diposisikan hanya sebagai versi layar besar, tetapi sebagai peningkatan menyeluruh di banyak sisi.

Seri itu disebut akan membawa baterai 8.000 mAh, kamera utama 200MP hasil kolaborasi dengan Leica, serta Snapdragon 8 Elite Gen 5 dengan sistem pendingin canggih. Desainnya memang lebih besar, tetapi dipilih agar lebih andal saat dipakai untuk beban berat.

Lu Weibing juga membedakan pendekatan Plus dan Max. Menurutnya, Plus biasanya hanya memberi layar lebih besar dengan hardware yang sama, sedangkan Max berarti semua komponen ikut ditingkatkan, termasuk baterai, kamera, pendingin, dan speaker.

Dalam konteks itu, pembatalan ponsel 5,5 mm menunjukkan bahwa Xiaomi kini lebih mengutamakan fungsi nyata daripada pencitraan desain. Di tengah persaingan ponsel premium yang makin padat, keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa tipis tidak selalu berarti lebih baik.

Exit mobile version