Pasar ponsel pintar Indonesia memulai kuartal pertama 2026 dengan pelemahan yang jelas, tetapi ada satu sisi yang justru mencatat rekor. Laporan terbaru Counterpoint menunjukkan pengiriman smartphone di Indonesia turun 9 persen secara tahunan, sementara segmen premium di atas $600 melonjak 30 persen dan mencapai kontribusi tertinggi sepanjang sejarah.
Kontras ini memperlihatkan pasar yang makin terbelah. Konsumen di kelas bawah menahan pembelian karena harga perangkat naik tajam, sedangkan pembeli di kelas atas tetap aktif menyerap perangkat mahal meski kondisi pasar secara umum sedang lesu.
Kenaikan harga dipicu oleh krisis pasokan komponen memori global yang mendorong biaya produksi naik. Dampaknya terasa pada model lama maupun perangkat baru, dengan harga jual di pasar melesat di kisaran 7 hingga 45 persen.
Paling terpukul adalah segmen entry-level. Di kelompok ini, banyak konsumen memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas karena selisih harga perangkat baru dinilai terlalu tinggi.
Meski ekonomi domestik Indonesia disebut sedang bergeliat positif berkat belanja pemerintah dan momentum musim perayaan yang bergeser ke kuartal pertama, industri smartphone belum mampu memanfaatkan kondisi itu. Tekanan inflasi komponen tetap menjadi faktor dominan yang menahan laju pasar.
Di tengah situasi tersebut, OPPO masih mampu bertahan di posisi puncak pasar domestik. Namun, volume pengirimannya juga turun cukup dalam, yakni 24 persen secara tahunan.
Kekuatan OPPO ditopang lini kelas menengah, terutama seri A. Segmen ini dinilai lebih tahan terhadap gejolak harga, sehingga membantu meredam tekanan dari biaya produksi yang membubung.
Xiaomi membuntuti ketat di posisi kedua dengan pangsa pasar 21 persen. Produsen ini mengandalkan optimalisasi spesifikasi pada Redmi A-series dan perluasan konsep gerai retail terintegrasi untuk menjaga daya saing.
Samsung menjadi satu-satunya merek di lima besar yang masih mencatat pertumbuhan positif. Pengiriman produsen asal Korea Selatan itu naik 8 persen secara tahunan, didorong stabilitas harga retail dan loyalitas konsumen yang kuat.
Respons pasar terhadap lini flagship Samsung Galaxy S26 Series juga disebut jauh lebih masif dibandingkan Galaxy S25 Series. Hal itu ikut menguatkan posisi Samsung di tengah pasar yang sedang lesu.
Sebaliknya, vivo dan Infinix mengalami penurunan paling tajam di antara merek besar. Keduanya sama-sama mencatat anjlok lebih dari 30 persen secara tahunan karena sangat bergantung pada pasar ponsel di bawah $150 yang kini melemah.
Pasar murah itu tertekan oleh minimnya peluncuran produk baru dan lonjakan harga. Karena itu, vivo dan Infinix mulai menggeser strategi ke segmen menengah atas, termasuk lewat Infinix Note 60 Pro.
Di kategori merek lainnya atau Others, pangsa pasar melonjak menjadi 16 persen dari sebelumnya 8 persen pada periode yang sama tahun lalu. Penguatan ini banyak disokong kembalinya Apple secara konsisten setelah sanksi larangan jual mereka di Indonesia dicabut pada April 2025.
Kehadiran Apple ikut mengangkat performa pasar premium di tanah air. Dengan tren premiumization yang masih berlanjut, Counterpoint memperkirakan penurunan di kelas bawah belum akan cepat tertutup, sementara harga smartphone di Indonesia diproyeksikan terus naik dan pemulihan pasar baru terjadi pada paruh kedua tahun ini.
