OnePlus Pad 4 tampil sebagai tablet Android bertenaga besar dengan fokus kuat pada gaming, multimedia, dan multitasking. Namun setelah pemakaian selama tiga pekan, gambaran yang muncul bukan sekadar soal performa tinggi, melainkan juga kompromi yang masih membayangi pasar tablet Android.
Perangkat ini memang membawa banyak hal yang diharapkan dari tablet kelas atas. Meski begitu, keunggulan hardware OnePlus Pad 4 belum sepenuhnya otomatis menjadikannya pesaing paling lengkap, karena ekosistem aplikasi tablet Android masih tertinggal dibanding iPad.
Performa jadi daya tarik utama
Salah satu pelajaran paling menonjol dari pemakaian OnePlus Pad 4 adalah tenaga yang nyaris berlebihan untuk kelas tablet Android. Perangkat ini ditenagai Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5, dan kinerjanya disebut nyaris tidak goyah dalam berbagai skenario penggunaan.
Game berjalan sangat mulus tanpa penurunan frame yang terasa dan tanpa masalah panas yang berarti. OxygenOS juga dinilai cukup optimal untuk layar besar, sehingga kombinasi hardware dan software terasa selaras saat dipakai untuk hiburan maupun produktivitas.
Meski begitu, ada satu penurunan yang cukup aneh pada konfigurasi memori. Varian dasar kini dimulai dari RAM 8GB, padahal model sebelumnya menawarkan 12GB sebagai standar.
Dalam pemakaian harian, penurunan itu tidak langsung terasa mengganggu. Namun untuk penggunaan jangka panjang, terutama jika tablet dipakai untuk tugas yang lebih berat seperti editing, kapasitas RAM dasar yang lebih kecil bisa menjadi batasan.
Baterai besar benar-benar terasa manfaatnya
OnePlus Pad 4 dibekali baterai 13.380mAh dan dukungan pengisian 80W SuperVOOC. Di atas kertas spesifikasi ini memang menjanjikan, dan pengalaman nyata menunjukkan hasil yang sejalan.
Daya tahan standby menjadi salah satu keunggulan paling menonjol. Dalam satu contoh penggunaan, baterai berada di 68% sebelum ditinggal selama empat hari, lalu hanya turun ke 62% saat perangkat tetap tersambung ke Wi-Fi dan notifikasi tetap aktif.
Karakter seperti ini dianggap sangat penting untuk tablet. Tidak seperti ponsel yang dipakai setiap hari, tablet sering kali diambil hanya saat diperlukan, sehingga standby yang irit membuat perangkat tetap siap dipakai tanpa harus lebih dulu diisi daya.
Layar masih bagus, tapi belum ideal
OnePlus tetap memakai panel IPS LCD pada Pad 4. Ukurannya 13,2 inci, mendukung Dolby Vision, refresh rate hingga 144Hz, dan tingkat kecerahan tinggi mencapai 1.000 nits dalam high brightness mode.
Secara umum, kualitas panel ini tetap dinilai sangat baik. Kecerahan tambahan juga membantu pemakaian di luar ruangan, sementara kombinasi layar besar dan delapan speaker membuat pengalaman menonton terasa menyenangkan.
Namun kritik lama belum hilang. Pada kelas tablet flagship, panel LCD dinilai belum bisa menandingi reproduksi warna dan kontras OLED, dan perbedaan itu terlihat jelas saat diletakkan berdampingan dengan panel OLED.
Artinya, layar OnePlus Pad 4 tetap kuat untuk konsumsi konten. Hanya saja, ia belum mencapai titik yang benar-benar tak terbantahkan di segmen premium.
Desain premium, tetapi bobot jadi konsekuensi
Dari sisi desain, OnePlus Pad 4 tetap mempertahankan kesan premium. Tablet ini hadir dengan bodi logam unibody, modul kamera yang relatif kecil di sudut kanan atas, bezel depan yang cukup tipis, serta tombol volume terpisah yang masih dipertahankan.
Ketebalannya hanya 5,9 mm. Angka itu memang bukan yang paling tipis di kelasnya, tetapi tetap memberi kesan ramping dan modern.
Masalahnya, desain tipis itu dipadukan dengan baterai yang sangat besar. Hasilnya, perangkat terasa cukup berat dan menjadi kurang nyaman bila dipakai lama tanpa case.
Karena itu, aksesori pelindung justru terasa penting sejak awal. Bahkan saat dipakai di atas meja, penyangga atau case dianggap perlu agar tablet tidak terus-menerus harus dipegang dengan tangan.
Open Canvas jadi nilai jual yang paling matang
Di luar performa mentah, pelajaran lain yang paling kuat justru datang dari sisi pengalaman pakai. Open Canvas tetap menjadi salah satu fitur terbaik pada tablet OnePlus.
Sistem multitasking ini memungkinkan hingga tiga aplikasi berjalan berdampingan. Pada layar 13,2 inci, fitur tersebut terasa natural dan jauh lebih berguna dibanding split-screen biasa atau jendela melayang.
Kombinasi aplikasi seperti Slack, Google Docs, dan Chrome disebut bisa berjalan dengan sangat nyaman untuk menulis, riset, dan komunikasi. Layar besar membuat perpindahan kerja antaraplikasi menjadi lebih efisien tanpa harus bolak-balik membuka tab.
OnePlus juga dinilai punya fondasi software yang kuat untuk produktivitas. Bahkan ada anggapan pengalaman multitasking ini masih bisa meningkat lagi ketika fitur App Bubbles dari Android 17 hadir nanti.
Terkendala bukan oleh perangkat, melainkan ekosistem
OnePlus Pad 4 pada dasarnya dinilai punya hampir semua syarat untuk sukses sebagai tablet Android. Desainnya premium, performanya sangat kuat, baterainya impresif, dan software multitasking-nya matang.
Kendala utamanya justru datang dari luar perangkat itu sendiri. Ekosistem aplikasi tablet Android dinilai belum berkembang setara iPad, terutama untuk aplikasi kreatif, aplikasi profesional, dan pilihan game AAA yang lebih serius.
Situasi ini membuat OnePlus Pad 4 berada di posisi yang agak unik. Sebagai perangkat keras, tablet ini disebut sangat bagus, tetapi ruang geraknya masih dibatasi oleh dukungan aplikasi yang belum sepenuhnya mengikuti kemampuan hardware-nya.
Ada pula catatan soal OnePlus yang sedang mengurangi operasinya di beberapa wilayah. Meski demikian, di pasar seperti India, tempat tablet OnePlus disebut masih cukup berhasil, Pad 4 tetap terlihat masuk akal sebagai salah satu pilihan tablet Android terbaik untuk gaming dan multimedia saat ini.
Source: www.androidcentral.com






