HP Samsung lawas masih menarik dibeli bukan karena sekadar nostalgia. Daya tarik utamanya ada pada kombinasi fitur yang lengkap, desain yang berbeda, harga yang lebih ramah, dan keberanian Samsung bereksperimen pada model-model lama.
Di tengah pasar HP yang makin seragam, banyak pengguna justru mencari perangkat yang punya karakter. Pilihan seperti ini terasa semakin relevan saat model baru di berbagai kelas harga dianggap lebih mahal dan beberapa fitur lama mulai menghilang.
Fitur yang dulu lebih lengkap
Salah satu alasan paling kuat ada pada kelengkapan fiturnya. Model lawas seperti Samsung Galaxy S9 masih membawa layar curved, slot microSD, LED notifikasi, dan audio jack 3,5 mm, sementara Samsung Galaxy S10 punya heart rate monitor.
HP Samsung modern memang tetap kaya fitur, termasuk kamera telephoto, wireless charging, dan fitur AI. Namun, banyak fitur khas itu justru tidak lagi hadir di model terbaru, terutama di lini flagship.
Desain yang tidak monoton
HP Samsung lawas juga tampil lebih berani dari sisi desain. Sementara model modern cenderung memakai susunan tiga atau lima kamera vertikal, seri lawas punya pendekatan yang jauh lebih variatif.
Ada model dengan satu kamera, ada yang memakai desain memanjang ke samping, dan ada pula yang menempatkan frame kamera menyatu dengan bodi. Di bagian depan, variasinya juga terasa lewat home button di Samsung Galaxy A7, kamera depan di sisi kanan layar pada Galaxy S10 series, hingga layar melengkung penuh pada Galaxy S9.
Harga yang lebih masuk akal
Bagi banyak pembeli, harga menjadi alasan utama melirik HP Samsung lawas. Samsung Newsroom Indonesia menyebut seri flagship seperti Samsung Galaxy S26 series dibanderol sekitar Rp16 juta sampai Rp31 jutaan, sedangkan seri mid-range seperti Samsung Galaxy A57 sekitar Rp7 juta sampai Rp8 jutaan.
Bandingkan dengan seri lawas yang lebih murah. Samsung Galaxy S23 series berada di kisaran Rp12 juta sampai Rp25 jutaan, Samsung Galaxy A53 mulai Rp5 jutaan, dan unit bekas membuat harga flagship lawas bisa turun mulai Rp3 jutaan.
Inovasi yang pernah jadi pembeda
Samsung di masa lalu dikenal lewat langkah-langkah yang berani. Salah satunya adalah variable aperture pada kamera Samsung Galaxy S9, yang membuat bukaan kamera bisa menyesuaikan kondisi lingkungan secara otomatis.
CNET juga menyoroti Galaxy S4 Zoom yang membawa lensa telephoto besar dengan pembesaran optikal 10 kali. Pada 2019, Samsung Galaxy S10 Plus bahkan hadir dengan dua kamera depan yang punya fungsi berbeda.
Pilihan seri yang lebih beragam
Dulu, Samsung tidak hanya mengandalkan tiga lini utama seperti sekarang. Samsung Indonesia menyebut perusahaan kini hanya menjual Galaxy S, Galaxy Z, dan Galaxy A, sehingga pilihan konsumen jauh lebih terkonsentrasi.
Sebaliknya, HP Samsung lawas punya rentang seri yang lebih luas. Ada Galaxy Young untuk kelas entry level, Galaxy J yang dikenal terjangkau namun tetap kompetitif, Galaxy M untuk pemburu baterai besar, hingga Galaxy Note bagi pengguna yang menginginkan layar besar dan S-Pen.
Masih menarik, tetapi ada batasnya
Bagi yang ingin sensasi klasik, HP Samsung lawas masih banyak dicari di marketplace dan penjual HP bekas. Namun, spesifikasinya sudah tertinggal dan perangkat seperti ini tidak ideal dijadikan HP utama.
Itulah sebabnya minat pada Samsung lawas biasanya datang dari pengguna yang mencari karakter, fitur tertentu, atau harga yang lebih rendah. Di pasar yang makin padat dengan desain serupa, nilai nostalgia pada HP lama Samsung masih punya tempat sendiri.
Source: www.idntimes.com






