Xiaomi kembali menyalakan persaingan di kelas menengah-premium lewat Xiaomi 17T dan 17T Pro. Duo ini hadir hanya delapan bulan setelah generasi T series sebelumnya, dan Xiaomi menyebut peluncuran lebih cepat terjadi karena kemajuan kerja sama imaging dengan Leica.
Langkah itu penting karena T series selama ini menjadi lini ketiga Xiaomi, di bawah Ultra dan seri angka standar. Di banyak pasar luar China, seri ini kerap diposisikan sebagai pilihan bernilai tinggi, meski harga ponsel Xiaomi biasanya lebih mahal di Eropa dan wilayah seperti Singapura akibat bea impor dan biaya operator pihak ketiga.
Desain dan layar yang tetap fokus ke pengalaman premium
Secara tampilan, kedua ponsel memakai desain unibody aluminium dengan layar datar. Xiaomi 17T Pro membawa panel OLED 6,8 inci dengan refresh rate hingga 144Hz, sedangkan 17T memakai OLED 6,6 inci hingga 120Hz.
Keduanya dibekali bezel tipis dan tingkat kecerahan hingga 3.500 nits. Bedanya, layar Pro bisa turun sampai 1 nit, yang lebih nyaman untuk penggunaan di ruangan gelap.
Mesin baru, beda tipis di luar, kuat di baterai
Di sektor dapur pacu, Xiaomi memasang chip Dimensity dari MediaTek pada keduanya. Model Pro memakai Dimensity 9500, sementara model standar menggunakan 8500 Ultra.
Kamera telefoto juga menjadi sorotan. Kedua perangkat membawa lensa periskop 115mm yang diklaim sangat baik untuk portrait, tetapi sensor kamera utama pada Pro memakai sensor baru yang dikembangkan Xiaomi sendiri.
Perbedaan paling jelas justru ada di baterai. Xiaomi 17T Pro membawa kapasitas 7.000 mAh, sedangkan 17T mengusung 6.500 mAh.
Jika dibandingkan dengan 15T Pro yang berumur hampir delapan bulan, 17T Pro membawa silikon yang sedikit lebih baru, kamera utama baru, dan baterai jauh lebih besar. Kapasitas 7.000 mAh itu naik dari 5.500 mAh, namun bodinya hanya sedikit lebih tebal, yaitu 8,3 mm versus 7,9 mm.
Leica Live Moment jadi fitur software paling menarik
Di luar hardware, Xiaomi menambahkan fitur baru bernama Leica Live Moment pada 17T Pro dan 17T. Fitur ini bekerja seperti Live Photos di iPhone, tetapi membawa branding Leica.
Cara kerjanya sederhana. Saat tombol rana ditekan, ponsel merekam klip video pendek sebelum dan sesudah foto diambil, sehingga pengguna tidak hanya mendapat gambar diam, tetapi juga potongan momen singkat.
Fitur ini berguna untuk memilih frame terbaik ketika subjek berkedip atau ketika momen bergerak cepat. Untuk kebutuhan media sosial, setiap foto juga otomatis punya klip video singkat yang bisa dipakai ulang.
Xiaomi juga menambahkan sejumlah filter yang terinspirasi dari pemrosesan gambar Leica. Kombinasi ini membuat hasil kamera terasa lebih hidup, sementara 17T Pro sendiri tetap diposisikan sebagai kamera yang kuat untuk portrait 115mm dan street photography.
Performa, baterai, dan software
Dari sisi performa, kedua ponsel disebut cukup bertenaga untuk menangani berbagai kebutuhan. Antarmukanya terasa cepat dan mulus, dengan fitur AI bawaan Google yang sudah terintegrasi.
Xiaomi 17T Pro menonjol berkat baterai besar 7.000 mAh yang diklaim sanggup bertahan seharian penuh dalam banyak skenario penggunaan. Pengisian kabel 100W juga membuat baterai bisa penuh dari nol dalam waktu kurang dari satu jam.
Keduanya menjalankan Android 16 dengan HyperOS di atasnya. Sistem ini menawarkan multitasking yang kuat dan opsi kustomisasi yang solid, meski tetap ada beberapa catatan kecil pada sisi software.
Ketersediaan dan posisi pasar
Xiaomi menyebut kedua ponsel akan mulai dijual di Eropa dan sejumlah pasar Asia seperti Singapura, Thailand, Hong Kong, dan Malaysia. Harga akan berbeda tergantung kawasan, dengan versi standar diperkirakan setara sekitar $500 hingga $600, sedangkan model Pro sekitar $800 hingga $950.
Di pasar Asia Tenggara, harga cenderung berada di sisi bawah rentang tersebut. Sementara itu, pasar Eropa kemungkinan akan melihat banderol di sisi yang lebih mahal, sejalan dengan pola harga Xiaomi selama ini di luar China.







