Saat Ponsel Privasi Digugat Balik, Kontroversi AI+ Mengusik Kepercayaan Pengguna

Kontroversi AI+ berubah dari ulasan produk biasa menjadi sengketa yang menyentuh isu lebih besar: privasi data, klaim “Made in India”, dan batas antara kritik publik dengan perlindungan reputasi perusahaan. Perdebatan itu kini tidak lagi hanya soal satu merek ponsel, tetapi juga soal transparansi industri teknologi India.

Di pusat polemik ini ada AI+, merek smartphone yang dibawa Madhav Sheth melalui NxtQuantum Shift Technologies India Pvt. Ltd. Setelah sejumlah kreator teknologi mempertanyakan klaim perusahaan, AI+ membantah tuduhan tersebut dan membawa perkara ini ke jalur hukum, sehingga perhatian publik makin meluas.

AI+ masuk pasar pada Juli 2025 dengan posisi yang sangat jelas sebagai merek smartphone India yang berfokus pada privasi. Perusahaan menekankan keamanan data, infrastruktur cloud lokal, dan teknologi yang dikembangkan untuk pengguna India.

Narasi utama AI+ bertumpu pada kedaulatan data. Perusahaan menyatakan data pengguna disimpan pada infrastruktur cloud berbasis India dan ditangani melalui layanan yang disetujui di dalam negeri, sambil menegaskan perangkatnya dirancang serta diproduksi di India.

Dari ulasan teknis ke tuduhan serius

Kontroversi mulai membesar setelah kanal teknologi India seperti TechWiser dan TechBar mengunggah video yang mempertanyakan praktik perangkat lunak dan branding AI+. Temuan mereka cepat menyebar di media sosial dan memicu perdebatan luas di kalangan konsumen maupun pengamat industri.

Salah satu tuduhan yang paling banyak dibahas berkaitan dengan perangkat lunak tersembunyi di ponsel AI+. TechWiser melaporkan bahwa setelah menganalisis perangkat AI+ dengan Android Debug Bridge atau ADB, kanal itu menemukan aplikasi yang tidak terlihat di antarmuka pengguna biasa.

Menurut TechWiser, sebagian aplikasi tersebut tampak terhubung dengan perusahaan yang berbasis di Shanghai. Temuan itu kemudian memicu pertanyaan soal kesesuaian antara pemasaran AI+ yang berfokus pada privasi dengan praktik perangkat lunak yang berjalan di perangkat.

Isu lain muncul pada fitur privacy dashboard milik AI+, yang dirancang untuk membantu pengguna memantau izin aplikasi di perangkat. TechWiser menyatakan beberapa layanan Google tampak mengambil izin tanpa tercermin sepenuhnya dalam sistem pelaporan dashboard tersebut.

Jika benar secara teknis, temuan itu dinilai dapat mengaburkan transparansi fitur yang justru dijual sebagai alat pemantauan privasi. Bagi pengguna, persoalannya bukan hanya soal izin aplikasi, tetapi juga apakah perangkat memberi gambaran yang utuh tentang aktivitas sistem.

Klaim “Made in India” ikut dipertanyakan

Perdebatan lalu bergeser ke identitas AI+ sebagai merek smartphone India. Kanal Mrwhosetheboss menyoroti kemiripan desain dan spesifikasi sejumlah perangkat AI+ dengan smartphone yang sudah beredar dari pabrikan China.

Sorotan itu memunculkan keraguan tentang seberapa besar perangkat keras dan perangkat lunak AI+ benar-benar dikembangkan secara mandiri di India. Kritik ini menjadi sensitif karena AI+ sejak awal memakai pesan kuat tentang produksi domestik dan teknologi lokal.

AI+ menolak tuduhan tersebut. Perusahaan tetap menyatakan produk, sistem operasi, dan infrastruktur pendukungnya dirakit dan dikelola di India.

Nama Madhav Sheth ikut membuat isu ini makin disorot karena ia dikenal luas di industri smartphone India. Sebelum memimpin AI+, Sheth pernah memimpin realme India, sehingga setiap klaim dan bantahan dari AI+ mendapat perhatian lebih besar dari publik.

Respons perusahaan dan jalur hukum

Dalam dokumen pengadilan, AI+ menyebut tuduhan para reviewer dibangun di atas analisis teknis yang tidak lengkap atau tidak akurat. Perusahaan juga menegaskan kembali bahwa data pengguna tetap disimpan di India dan komitmen privasinya tidak berubah.

AI+ juga menyatakan video-video tersebut menimbulkan kerugian reputasi. Perusahaan menilai tuduhan yang beredar tidak diverifikasi secara independen oleh ahli teknis yang diakui.

Perselisihan kemudian masuk ke Delhi High Court. Pada April 2026, pengadilan mengabulkan perintah sementara yang membatasi TechWiser dan TechBar untuk menerbitkan konten yang dianggap merendahkan AI+ dan pendirinya selama perkara masih diperiksa.

Perintah itu juga memuat klausul John Doe. Klausul ini berpotensi menjangkau pihak-pihak yang belum teridentifikasi tetapi terlibat dalam unggahan serupa atau konten terkait lainnya.

Pada tahap sementara itu, pengadilan mencatat bahwa tuduhan yang beredar belum didukung oleh tinjauan teknis yang layak dari lembaga independen. Pengadilan juga menilai pernyataan seperti itu dapat menimbulkan kerusakan komersial jika belakangan terbukti tidak akurat.

Perkara belum selesai, perhatian kian meluas

Putusan sementara itu langsung memicu debat di komunitas teknologi dan hukum. Sebagian pihak melihatnya sebagai langkah wajar untuk melindungi reputasi perusahaan, tetapi pihak lain khawatir dampaknya terhadap kebebasan ulasan independen dan kritik di internet.

Pada Mei 2026, sengketa ini memasuki babak baru ketika TechWiser menantang injunction tersebut. Dalam sidang-sidang berikutnya, muncul pertanyaan tentang bagaimana perintah ex parte awal diperoleh.

Delhi High Court kemudian mengarahkan pendiri AI+, Madhav Sheth, untuk hadir di pengadilan. Langkah itu diambil ketika pengadilan menelusuri tuduhan yang berkaitan dengan proses diperolehnya injunction.

Hingga kini belum ada penentuan akhir atas tuduhan pokok dalam perkara tersebut. Artinya, klaim tentang temuan perangkat lunak, tingkat risiko privasi, dan akurasi branding “Made in India” masih belum diputus secara final.

Kontroversi ini juga mendapat sorotan internasional setelah kreator teknologi Arun Maini, atau Mrwhosetheboss, membahas sengketa tersebut. Keterlibatannya membawa isu AI+ ke audiens global dan memperluas diskusi ke wilayah hak konsumen, akuntabilitas perusahaan, peliputan teknologi, dan kebebasan berbicara di era digital.

Source: true-tech.net

Berita Terkait

Back to top button