AMD Sentil Nvidia RTX Spark, Merasa Terlambat Saat Strix Halo Sudah Lebih Dulu Melaju

Persaingan AMD dan Nvidia di pasar PC berbasis AI memasuki babak baru setelah Nvidia memperkenalkan superchip RTX Spark di Computex 2026. Alih-alih menunjukkan kekhawatiran, AMD justru menanggapi peluncuran itu dengan nada percaya diri dan sindiran terbuka.

Rahul Tikoo, Senior Vice President and General Manager Client Business AMD, menilai Nvidia datang terlambat ke arena ini. Menurut dia, AMD sudah lebih dulu bermain di segmen PC AI dengan memori lokal besar selama hampir dua tahun.

Tikoo mengatakan kehadiran Nvidia justru disambut positif karena menegaskan pentingnya kategori perangkat ini. Ia menekankan bahwa memori lokal berkapasitas besar kini menjadi elemen krusial untuk menjalankan beban kerja agen AI secara lokal.

Nvidia memosisikan RTX Spark sebagai fondasi generasi baru perangkat high-end. Chip ini menggabungkan CPU berarsitektur Arm, GPU Blackwell, dan memori terpadu berkapasitas besar untuk menangani beban kerja AI berat langsung di perangkat.

Fokus pada AI on-device membuat pertarungan tidak lagi hanya soal kencangnya prosesor. Kapasitas memori yang besar kini menjadi pembeda utama, terutama untuk menjalankan Large Language Models atau LLM secara lokal.

Di titik ini, AMD merasa punya pijakan kuat. Tikoo menyoroti bahwa RTX Spark mendukung memori terpadu hingga 128GB, tetapi angka itu menurutnya bukan hal baru karena Strix Halo milik AMD sudah mencapai kapasitas yang sama.

Ia juga menyinggung spesifikasi CPU yang dibawa Nvidia. Dalam pernyataannya, Tikoo menyebut RTX Spark hadir dengan CPU 20-core, sementara Strix Halo menawarkan CPU 16-core/32-thread.

Sindiran AMD bukan hanya soal menyamai spesifikasi Nvidia saat ini. Perusahaan itu juga sudah menyiapkan langkah berikutnya lewat Gorgon Halo yang dijadwalkan meluncur pada kuartal ketiga tahun ini.

Gorgon Halo diproyeksikan membawa memori terpadu hingga 192GB. AMD juga disebut tetap mempertahankan inti CPU Zen 5 dan grafis RDNA 3.5 pada chip generasi berikutnya itu.

Jika rencana tersebut berjalan sesuai jadwal, AMD berpotensi lebih dulu memperluas batas kapasitas memori di PC AI kelas atas. Ini penting karena model AI yang semakin besar menuntut ruang memori yang juga ikut membesar.

Adu kuat bukan cuma hardware

Meski percaya diri di sisi perangkat keras, AMD tidak menutup mata pada satu area yang selama ini menjadi benteng utama Nvidia. Area itu adalah ekosistem software, yang selama bertahun-tahun didominasi Nvidia lewat CUDA.

Dominasi CUDA membuat banyak pengembang AI terbiasa membangun dan menjalankan beban kerja mereka di atas platform Nvidia. Keunggulan itu selama ini menjadi salah satu alasan mengapa Nvidia kuat, bahkan saat persaingan hardware makin ketat.

AMD kini mencoba mengikis hambatan tersebut melalui ROCm. Andrej Zdravkovic, Chief Software Officer AMD, menilai platform itu sekarang sudah jauh lebih ramah bagi pengembang.

Menurut Zdravkovic, transisi dari infrastruktur Nvidia ke ROCm kini menjadi sangat mudah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa AMD tidak hanya ingin menang di atas kertas melalui spesifikasi, tetapi juga ingin merebut kepercayaan developer.

AMD bahkan membawa pesan yang sangat agresif untuk pasar. Zdravkovic menyebut pengembang AI saat ini membuat keputusan yang keliru jika tidak membeli laptop berbasis Strix Halo.

Pernyataan itu memperlihatkan arah strategi AMD yang jelas. Perusahaan ingin menegaskan bahwa perangkat AI modern harus dinilai dari kombinasi memori besar, kemampuan komputasi lokal, dan kematangan software pendukung.

Kenapa peluncuran RTX Spark penting

Masuknya Nvidia ke kategori ini menandakan pasar PC AI premium semakin serius. Ketika dua pemain besar saling menekan lewat spesifikasi dan software, konsumen dan pengembang akan melihat pilihan perangkat yang makin beragam.

Debut RTX Spark di Computex 2026 juga mengubah peta persaingan dari sekadar laptop atau PC cepat menjadi mesin yang benar-benar disiapkan untuk AI lokal. Artinya, beban kerja yang sebelumnya lebih identik dengan server atau cloud mulai diarahkan ke perangkat pribadi.

Dalam konteks itu, sindiran AMD terhadap Nvidia bukan sekadar perang kata-kata. Komentar tersebut menjadi cara AMD menegaskan bahwa mereka merasa sudah memiliki pengalaman lebih dulu di segmen PC AI dengan memori lokal besar.

Nvidia tetap datang dengan kekuatan nama besar dan reputasi software yang mapan. Namun AMD mencoba membangun narasi bahwa perusahaan itu bukan lagi penantang yang tertinggal, melainkan pemain yang sudah lebih dahulu menyiapkan fondasi di kategori ini.

Pertarungan berikutnya kemungkinan akan ditentukan oleh seberapa baik masing-masing pihak menggabungkan hardware dan software dalam satu ekosistem yang mudah dipakai. Untuk saat ini, peluncuran RTX Spark justru memberi AMD panggung untuk menyerang balik dan menegaskan posisinya di pasar PC AI kelas atas.

Source: inet.detik.com

Berita Terkait

Back to top button