Banyak ponsel lama sebenarnya masih bisa diisi daya secara nirkabel, asalkan perangkatnya diberi perangkat tambahan yang tepat. Cara paling praktis adalah memakai receiver eksternal atau casing pengisian khusus yang menambahkan kemampuan wireless charging ke port pengisian biasa.
Receiver eksternal bekerja dengan menampung kumparan induksi yang dibutuhkan untuk pengisian nirkabel. Aksesori ini tinggal dicolokkan ke port charging ponsel, lalu ponsel diletakkan di atas pad nirkabel seperti biasa.
Cara ini tetap bergantung pada kecocokan konektor. Kabel atau receiver yang dipilih harus sesuai dengan slot USB di ponsel, dan pada beberapa model, aksesori bisa dipasang permanen dengan perekat di bagian belakang case.
Sebagian receiver juga cukup tipis untuk diselipkan di bawah casing pelindung standar. Salah satu contoh yang disebut adalah Nillkin Magic Tag, yang menunjukkan bahwa solusi ini bisa dibuat ringkas tanpa harus mengorbankan perlindungan dasar ponsel.
Pilihan yang lebih rapi, tapi lebih mahal
Bagi pengguna yang ingin menggabungkan pengisian nirkabel dan proteksi dalam satu paket, charging case menjadi opsi lain. Aksesori ini bekerja mirip receiver eksternal, tetapi kumparannya berada di dalam cangkang yang lebih kuat sehingga ponsel tetap terlindungi.
Seperti receiver biasa, charging case tetap mengambil alih port pengisian. Namun, casing ini sering masih bisa dilepas saat pengguna ingin mengembalikan slot itu untuk pengisian kabel yang lebih cepat.
Kelemahannya ada pada harga. Receiver seperti Nillkin Magic Tag disebut dibanderol sekitar $15, sementara charging case seperti Aircharge Wireless Charging Case berada di kisaran $40 hingga $50.
Kalau ingin tanpa port, modifikasi jadi jalur lain
Solusi lain memang ada, tetapi jauh lebih rumit. Sejumlah orang memasang kumparan induksi “asing” langsung ke ponsel lama agar pengisian nirkabel bisa berjalan tanpa memakan slot USB.
Beberapa produsen bahkan mengisi ceruk pasar ini dengan membuat komponen khusus. Berbeda dari receiver eksternal, kumparan jenis ini dirancang menempel pada baterai internal dan harus menyentuh titik kontak yang sesuai agar berfungsi.
Keuntungannya jelas: port USB tetap bebas. Tetapi pemasangannya mengharuskan bodi ponsel dibuka, sehingga risikonya lebih tinggi dibandingkan menyelipkan receiver di balik casing.
Jika tidak menemukan komponen siap pakai, transplantasi kumparan juga bisa dilakukan. Proses ini lebih merepotkan dan berisiko, sehingga panduan pemasangan harus diikuti dengan teliti, dan sumber kumparan bisa berasal dari toko hardware, retailer online, atau ponsel lama yang sudah mendukung wireless charging.
Kompatibilitas tetap jadi kunci
Kendala terbesar bukan hanya soal hardware, tetapi juga soal standar. Saat ini Qi dan Qi2 menjadi acuan utama wireless charging, dan perangkat yang tidak menyatakan dukungan Qi biasanya tidak akan bekerja dengan pad atau receiver yang kompatibel.
Artinya, kompatibilitas harus dicek untuk semua komponen, termasuk charging pad, receiver, dan modifikasi berbasis kumparan. Ini menjadi lebih penting saat ponsel dimodifikasi, karena seluruh rangkaian harus selaras agar pengisian berjalan normal.
Pengguna iPhone lama juga perlu ekstra hati-hati. Model lawas, terutama yang muncul sebelum wireless charging menyebar luas, memakai konektor Lightning, sehingga receiver atau charging case yang dibeli harus memiliki konektor yang sesuai.
Selain kecocokan port, pengguna juga harus memperhatikan voltase dan wattase. Daya yang tidak sesuai bisa membebani baterai, jadi pemilihan aksesori tidak cukup hanya berdasarkan bentuk konektor atau harga.
USB memang tetap unggul dalam keserbagunaan karena kabelnya universal. Namun untuk ponsel lama yang belum punya hardware wireless charging bawaan, receiver eksternal, charging case, atau modifikasi internal memberi jalan praktis agar perangkat lama tetap bisa mengisi daya di atas pad nirkabel.
