
Keyboard fisik BlackBerry kembali mencuri perhatian setelah lama dianggap kalah oleh layar sentuh penuh. Bukan karena teknologi barunya, melainkan karena banyak pengguna kini justru mencari pengalaman mengetik yang lebih taktil dan terasa berbeda dari smartphone modern yang seragam.
Di tengah pasar yang dipenuhi ponsel berlayar penuh, minat terhadap model bergaya BlackBerry kembali hidup. Sejumlah startup teknologi ikut melihat peluang ini dan mulai menghadirkan perangkat serta aksesori yang membawa kembali tombol fisik ke smartphone.
Fenomena tersebut muncul hampir dua dekade setelah Apple memperkenalkan iPhone pada 2007, yang kemudian mengubah arah industri ponsel pintar. Sejak saat itu, keyboard fisik perlahan tersingkir dari pasar utama dan digantikan oleh antarmuka layar sentuh.
Namun, jejak BlackBerry belum benar-benar hilang. Sebagian pengguna tetap menyukai bentuk ponsel persegi dengan keyboard khasnya, dan loyalitas itu kini kembali terlihat di tengah gelombang nostalgia sekaligus kebutuhan akan pengalaman mengetik yang berbeda.
Ceruk yang Ternyata Masih Hidup
Dua nama yang ikut mendorong kebangkitan ini adalah Clicks Technology asal Inggris dan Unihertz asal China. Keduanya mulai meluncurkan perangkat dan aksesori smartphone berkeyboard fisik untuk menyasar pasar yang selama ini tampak kecil, tetapi ternyata masih punya peminat.
Popularitas aksesori seperti Clicks case juga ikut membantu membuka kembali minat terhadap keyboard fisik. Kehadiran produk semacam ini menunjukkan bahwa gagasan mengetik dengan tombol bukan sekadar nostalgia, tetapi masih punya fungsi praktis bagi sebagian pengguna.
Di sisi lain, ada komunitas yang memperlihatkan bahwa daya tarik BlackBerry tetap bertahan meski perangkatnya lama tidak menjadi arus utama. Sebuah komunitas beranggotakan 25.000 orang disebut masih saling berbagi tips dan kenangan tentang perangkat tersebut.
Gaya Hidup, Bukan Sekadar Ponsel
Menurut profesor komunikasi Jung Younbo dari Nanyang Technological University di Singapura, kembalinya minat pada keyboard fisik mencerminkan pola yang lebih luas. Ia menilai penggunaan ponsel kini semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan menyerupai tren mode yang bersifat siklus.
Jung mengatakan ponsel cerdas juga menjadi sarana ekspresi diri. Dari sudut pandang itu, perangkat dengan keyboard fisik tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga pilihan gaya yang membedakan penggunanya dari mayoritas pemilik smartphone saat ini.
Alasan Praktis yang Ikut Mendorong Tren
Selain faktor nostalgia dan identitas, ada alasan fungsional yang membuat keyboard fisik kembali dilirik. Penggunaan perangkat semacam ini dinilai dapat membantu mengurangi screentime atau waktu yang dihabiskan untuk menatap layar.
Hal itu dirasakan oleh kreator konten berusia 23 tahun, Chonnie Alfonso, yang dikenal menampilkan gadget retro di saluran YouTube miliknya. Ia mengatakan beralih ke perangkat berkeyboard membantunya mengurangi screentime dan lebih sedikit menghabiskan waktu di media sosial.
Menurut Alfonso, doomscrolling kurang cocok dilakukan di ponsel pintar berbentuk persegi bergaya BlackBerry. Ia juga menyebut perangkat dengan keyboard membantunya mengendalikan jadwal dengan lebih baik, sehingga penggunaan ponsel terasa lebih terarah.
Minat baru pada keyboard fisik menunjukkan bahwa pasar smartphone tidak selalu bergerak hanya ke arah desain serba layar sentuh. Di sela dominasi teknologi modern, masih ada ruang bagi bentuk lama yang menawarkan rasa berbeda, fungsi yang terasa lebih fokus, dan daya tarik yang justru semakin kuat setelah lama mati suri.
Source: selular.id








