Komisi Eropa memerintahkan Meta untuk kembali membuka akses gratis bagi chatbot AI pihak ketiga di WhatsApp. Langkah ini membuat WhatsApp tidak bisa hanya memberi ruang istimewa bagi asisten AI milik Meta sendiri selama penyelidikan antimonopoli masih berjalan.
Perintah itu penting karena menyasar salah satu aplikasi komunikasi konsumen terbesar di Eropa. Otoritas Uni Eropa menilai pembatasan akses ke chatbot pesaing berisiko menimbulkan kerusakan serius dan tidak dapat diperbaiki pada persaingan di pasar AI yang sedang tumbuh.
Komisi Eropa Turun Tangan
Menurut pernyataan resmi Komisi Eropa, Meta harus memulihkan akses untuk “rival general-purpose AI assistants” di WhatsApp tanpa biaya. Ketentuan itu harus dipertahankan sampai investigasi antitrust atas kebijakan Meta selesai dan keputusan final diterbitkan.
Komisi menyebut perintah ini sebagai langkah sementara atau interim measures. Tujuannya adalah mencegah dampak yang dinilai berpotensi langsung mengganggu persaingan sebelum kasus utamanya diputus.
Penyelidikan antitrust tersebut dimulai pada Desember. Pada Februari, Komisi menyatakan telah sampai pada kesimpulan awal bahwa langkah sementara mungkin diperlukan agar perubahan kebijakan Meta tidak menyebabkan kerusakan serius dan tak bisa diperbaiki di pasar.
Dalam penjelasannya, Komisi menilai tindakan Meta pada pandangan pertama melanggar aturan persaingan Uni Eropa. Otoritas itu juga menyoroti posisi dominan Meta di pasar aplikasi komunikasi konsumen di seluruh Wilayah Ekonomi Eropa sejak setidaknya Januari 2023.
Masalah Utamanya Ada di Akses ke WhatsApp
Fokus sengketa ini ada pada akses ke WhatsApp for Business API. Komisi berpendapat Meta telah menyalahgunakan posisi dominannya dengan mencegah asisten AI umum pesaing menggunakan infrastruktur tersebut.
Otoritas Eropa menilai larangan atas chatbot pihak ketiga di WhatsApp merupakan penolakan akses terhadap sebuah infrastruktur yang telah dikembangkan dan sebelumnya dibuka untuk pihak ketiga. Penilaian awal ini menjadi dasar utama keluarnya perintah sementara terhadap Meta.
Kasus ini juga menyentuh isu yang lebih luas soal siapa yang boleh membangun layanan AI di atas platform komunikasi besar. Jika akses ke infrastruktur penting dibatasi oleh pemilik platform, perusahaan pesaing bisa kehilangan peluang menjangkau pengguna dalam skala luas.
Dari Larangan Total Menjadi Berbayar
Meta sempat melarang chatbot pihak ketiga di WhatsApp pada November tahun lalu. Pada saat yang sama, perusahaan tetap memiliki chatbot buatannya sendiri yang terintegrasi langsung di layanan tersebut.
Langkah itu segera memicu perhatian otoritas Uni Eropa. Bagi regulator, situasi ini menimbulkan pertanyaan apakah Meta memberi keuntungan pada produk AI miliknya sambil menutup jalan bagi pesaing.
Pada Maret, Meta kembali mengizinkan asisten AI umum pihak ketiga hadir di WhatsApp. Namun akses itu tidak lagi gratis karena dikenakan biaya.
Komisi Eropa menilai skema berbayar itu pada dasarnya setara dengan larangan akses sebelumnya. Dengan kata lain, perubahan dari larangan total menjadi akses berbayar belum dianggap cukup untuk memulihkan persaingan.
Perintah terbaru memaksa Meta kembali ke kondisi yang berlaku sebelum Oktober 2025. Pada kondisi itu, chatbot AI pihak ketiga dapat mengakses WhatsApp secara gratis.
Mengapa Keputusan Ini Penting
Keputusan ini menunjukkan bahwa Uni Eropa tidak hanya mengawasi merger besar atau dominasi iklan digital, tetapi juga persaingan di layanan AI generatif. Platform pesan seperti WhatsApp kini dilihat sebagai infrastruktur penting yang bisa menentukan siapa yang menang di pasar asisten AI.
Jika satu platform dominan hanya memberi ruang mudah bagi AI miliknya sendiri, pasar bisa bergerak ke arah yang kurang kompetitif. Komisi menilai risiko itu cukup besar untuk dibatasi segera, tanpa menunggu putusan akhir antitrust.
Bagi Meta, perintah ini berarti perusahaan harus mempertahankan akses gratis bagi pesaing AI di WhatsApp sampai ada keputusan final. Selama masa itu, perusahaan tidak bisa menggunakan model berbayar sebagai pengganti larangan yang sebelumnya telah diberlakukan.
Bagi pengembang AI pesaing, keputusan ini membuka kembali jalur distribusi yang penting di dalam ekosistem WhatsApp. Akses itu berpotensi menentukan kemampuan mereka untuk bersaing di pasar asisten AI serbaguna yang kini berkembang cepat.
Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana regulator Eropa menilai hubungan antara dominasi platform dan layanan AI internal. Saat operator platform mengontrol pintu masuk ke pengguna, keputusan soal akses dapat berubah menjadi isu persaingan yang sangat besar.
Untuk saat ini, yang berlaku adalah kewajiban bagi Meta untuk membuka kembali akses gratis tersebut. Hasil akhir kasusnya masih menunggu keputusan Komisi Eropa setelah penyelidikan antitrust selesai.
Source: www.gsmarena.com