Cyberpunk 2077 masih menjadi salah satu game PC yang paling berat dijalankan, tetapi performa yang mulus tidak selalu menuntut perangkat paling mahal. Dengan kombinasi pengaturan yang tepat, pemain bisa menjaga tampilan Night City tetap impresif sambil mempertahankan FPS yang lebih stabil.
Kunci utamanya ada pada pengaturan yang benar-benar memengaruhi performa. Bayangan dan volumetric fog disebut sebagai dua opsi yang paling banyak menggerus FPS, sehingga menurunkannya sedikit dapat memberi peningkatan besar tanpa merusak kualitas visual secara drastis.
Konteks kebutuhan hardware
CD Projekt Red telah memperbarui kebutuhan sistem game ini dibanding rilis awalnya. Karena itu, mengecek spesifikasi dasar menjadi langkah penting sebelum masuk ke menu optimasi.
Untuk spesifikasi minimum, game ini membutuhkan Windows 10 64-bit, prosesor Core i7-6700 atau Ryzen 5 1600, RAM 12 GB, serta GPU GeForce GTX 1060 6GB, Radeon RX 580 8GB, atau Arc A380. DirectX 12 wajib digunakan, dan ruang penyimpanan 70 GB harus tersedia di SSD karena SSD bersifat wajib.
Target dari spesifikasi minimum tersebut adalah rata-rata 30 FPS pada preset low di resolusi 1080p. Artinya, sistem kelas bawah masih bisa memainkan game ini, tetapi perlu kompromi yang jelas pada kualitas grafis.
Untuk spesifikasi rekomendasi, CD Projekt Red mencantumkan Windows 10 64-bit, prosesor Core i7-12700 atau Ryzen 7 7800X3D, RAM 16 GB, dan GPU GeForce RTX 2060 SUPER, Radeon RX 5700 XT, atau Arc A770. Kebutuhan DirectX 12 dan SSD 70 GB tetap sama.
Spesifikasi rekomendasi ini ditujukan untuk menjaga frame rate tetap stabil sambil mempertahankan kualitas visual yang lebih tinggi. Dengan kata lain, pemain tidak hanya sekadar menjalankan game, tetapi bisa menikmati dunia futuristisnya dengan lebih konsisten.
Pengaturan tampilan yang aman untuk FPS
Untuk pengaturan display, pola terbaik di semua kelas PC adalah bermain dalam mode fullscreen. VSync disarankan nonaktif, begitu juga batas maksimum FPS yang juga dimatikan.
Resolusi yang disarankan dibagi berdasarkan kelas sistem. PC low-tier diarahkan ke 1920 x 1080, mid-tier ke 2560 x 1440, dan high-tier ke 3840 x 2160.
HDR mode diposisikan pada None di ketiga kelas sistem. Sementara itu, NVIDIA Reflex Low Latency disarankan aktif untuk low-tier, mid-tier, dan high-tier.
Setelan grafis yang paling efektif
Quick Preset sebaiknya diatur ke Custom agar setiap opsi bisa disesuaikan dengan kemampuan perangkat. Texture Quality berada di Medium untuk low-tier, lalu naik ke High untuk mid-tier dan high-tier.
Frame Generation dipasang On di semua kelas PC dalam panduan ini. Upscaler juga menjadi bagian penting, dengan DLSS, FSR, atau XeSS disarankan pada mode Auto sesuai ekosistem GPU yang digunakan.
DLSS Sharpness ditempatkan di angka 0.4 untuk seluruh kelas sistem. Dynamic Resolution Scaling dimatikan, sedangkan Field of View berada di 90.
Beberapa efek pascapemrosesan juga disarankan dimatikan untuk menjaga kejernihan visual sekaligus meringankan beban sistem. Film Grain, Chromatic Aberration, dan Motion Blur berada pada posisi Off di semua kelas, sementara Depth of Field tetap On.
Lens Flare dimatikan untuk low-tier dan mid-tier, lalu dinyalakan di high-tier. Contact Shadows dan Improved Facial Lighting juga baru diaktifkan mulai kelas mid-tier ke atas.
Pengaturan berat yang paling menentukan
Anisotropy naik bertahap dari 4 di low-tier, 8 di mid-tier, hingga 16 di high-tier. Opsi bayangan juga meningkat bertahap, dengan Local Shadow Mesh Quality, Cascaded Shadows Range, dan Distant Shadows Resolution berada di Low untuk low-tier lalu High untuk dua kelas di atasnya.
Cascaded Shadows Resolution disetel Low di low-tier, Medium di mid-tier, dan High di high-tier. Ini penting karena kualitas bayangan menjadi salah satu titik paling sensitif terhadap performa.
Volumetric Fog Resolution dan Volumetric Cloud Quality menjadi contoh pengaturan yang sangat memengaruhi FPS. Untuk low-tier, keduanya dipasang Low, lalu naik ke High di mid-tier dan Ultra di high-tier.
Screen Space Reflections juga dibedakan cukup tajam. Low-tier memakai Low, mid-tier memakai High, dan high-tier bisa naik ke Psycho.
Subsurface Scattering dan Ambient Occlusion berada di Low untuk low-tier. Dua opsi ini naik ke Ultra pada mid-tier dan high-tier.
Mirror Quality serta Level of Detail berada di Low untuk low-tier dan High untuk dua kelas di atasnya. Crowd Density juga dibuat bertahap, dari Low ke Medium lalu High.
Ray tracing untuk sistem kelas atas
Ray Tracing dimatikan sepenuhnya pada low-tier dan mid-tier. Fitur ini baru diaktifkan pada high-tier, termasuk Ray Traced Reflections, Ray Traced Sun Shadows, dan Ray Traced Local Shadows.
Ray Traced Lighting pada high-tier disarankan di level Psycho. Sementara itu, Ray Reconstruction dimatikan di low-tier dan mid-tier, lalu baru dinyalakan di high-tier.
Path Tracing tetap dimatikan bahkan pada high-tier untuk permainan reguler. Namun, Path Tracing in Photo Mode bisa diaktifkan pada high-tier bagi pemain yang ingin hasil tangkapan gambar dengan kualitas lebih tinggi.
Nvidia DLAA disarankan Off pada low-tier, lalu On pada mid-tier dan high-tier. Meski begitu, upscaling tetap menjadi andalan utama untuk menyeimbangkan kualitas gambar dan performa.
Dengan susunan ini, GPU kelas menengah disebut mampu menembus lebih dari 60 FPS di 1440p dengan pengaturan high tertentu. Sistem low-tier tetap bisa bermain stabil di kisaran 30 sampai 60 FPS pada 1080p dengan bantuan teknologi upscaling.
Untuk sistem kelas atas, 4K dapat dicapai dengan frame rate yang tetap mulus tanpa harus selalu mengandalkan frame generation. Namun saat ray tracing digunakan, fitur itu tetap relevan untuk menjaga pengalaman bermain tetap nyaman di jalanan padat Night City.
