Commodore kembali ke pasar ponsel dengan langkah yang tidak biasa. Merek yang lekat dengan era komputer rumahan itu meluncurkan Callback 8020, ponsel lipat bergaya retro yang dirancang khusus untuk menekan kecanduan ponsel.
Di tengah dominasi smartphone serba penuh aplikasi, perangkat ini justru dibangun untuk membatasi layar dan media sosial. Fokus utamanya adalah digital well-being, dengan pendekatan yang mendorong pengguna tetap terhubung tanpa terus-menerus terpaku pada ponsel.
Strategi itu terlihat dari cara Commodore membatasi fungsi perangkat. Callback 8020 memblokir browser web tradisional dan aplikasi media sosial, dua elemen yang paling sering dikaitkan dengan penggunaan ponsel berlebihan.
Meski demikian, ponsel ini tidak sepenuhnya “kosong” dari layanan modern. Commodore tetap menghadirkan dukungan untuk WhatsApp, Signal, Spotify, alat QR code, aplikasi navigasi, dan aplikasi pesan open-source OpenBubble.
Fokus pada detoks digital
Callback 8020 menjalankan Sailfish OS, sistem operasi berbasis Linux yang dikembangkan Jolla. Platform ini dikenal luas sebagai penerus MeeGo milik Nokia, dan oleh Commodore disebut sebagai sistem operasi “de-Googled”.
Penyematan label itu mengarah pada absennya keterlibatan dalam ekosistem pengumpulan data Google. Namun, Commodore menyebut pengguna tetap bisa mengakses aplikasi Android saat dibutuhkan.
Pendekatan ini menempatkan Callback 8020 di antara feature phone dan smartphone. Fungsinya masih cukup modern untuk komunikasi dan utilitas harian, tetapi sengaja dibuat tidak ideal untuk konsumsi konten tanpa henti.
Commodore juga menanamkan sentuhan nostalgia yang kuat. Ponsel ini hadir dengan sejumlah game klasik Commodore 64 yang sudah terpasang, sebagai penghubung langsung ke warisan komputasi merek tersebut.
Desain lipat, kendali fisik, layar seperlunya
Dari sisi bentuk, Callback 8020 memakai desain clamshell yang mengingatkan pada ponsel lipat awal 2000-an. Di bagian luar, tersedia layar 1,77 inci untuk menampilkan informasi dasar seperti waktu dan tanggal.
Saat dibuka, pengguna akan menemukan layar sentuh 3,25 inci beresolusi 480 x 640 piksel. Namun layar sentuh ini tidak menjadi pusat navigasi harian karena kontrol sentuh dinonaktifkan secara default.
Sebagai gantinya, pengguna bernavigasi lewat keypad fisik dan D-pad. Kontrol sentuh baru aktif ketika memang dibutuhkan oleh aplikasi yang didukung, sehingga interaksi tetap dibatasi secara sengaja.
Commodore juga menambahkan indikator notifikasi LED yang bisa diprogram pada bodi luar. Setiap lampu bisa ditetapkan untuk aplikasi berbeda agar pengguna dapat mengenali notifikasi penting secara cepat tanpa harus terus membuka perangkat.
Bagian penutup belakang ponsel juga bisa diganti. Commodore menyebut panel ini sebagai Snapbacks, yang memberi opsi kustomisasi pada tampilan perangkat.
Spesifikasi inti dan daya tahan
Untuk dapur pacu, Callback 8020 menggunakan prosesor MediaTek Helio. Ponsel ini dipadukan dengan RAM 4GB dan penyimpanan internal 64GB.
Commodore juga menyertakan slot MicroSD untuk ekspansi hingga 512GB. Dalam paket penjualan, pengguna akan mendapatkan kartu memori 32GB.
Di sektor kamera, tersedia kamera belakang 48 megapiksel buatan Sony. Selain itu, ada kamera depan di sisi dalam untuk panggilan video, meski rincian sensornya tidak disebutkan.
Daya perangkat ditopang baterai 1.550mAh. Commodore mengklaim baterai ini bisa bertahan hingga satu minggu dengan penggunaan moderat, selaras dengan konsep ponsel yang membatasi aktivitas layar.
Harga, varian, dan jadwal ketersediaan
Callback 8020 dibanderol mulai $499 untuk model standar. Varian ini tersedia dalam pilihan warna Beige, White, dan Silver.
Commodore juga menyiapkan varian Blue transparan dengan harga $549.99. Untuk penggemar dan kolektor, tersedia Founder’s Edition berlapis warna emas dengan harga $640.
Pre-order dijadwalkan mulai 30 Juni. Commodore mengatakan pengiriman Callback 8020 direncanakan dimulai pada akhir tahun ini.
Kembalinya Commodore melalui perangkat seperti ini menjadi langkah yang cukup kontras dengan kebiasaan industri saat ini. Setelah sempat melisensikan namanya untuk beberapa ponsel Android yang tidak berhasil pada 2015, merek ini kini memilih jalur yang lebih sempit namun tegas: ponsel modern yang justru dibangun untuk membuat pengguna tidak terlalu sering memakainya.
Source: www.gadgets360.com





