Motor listrik murah di kisaran Rp7 jutaan mulai menunjukkan kemampuan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dalam pengujian jalan menanjak dengan beban dua orang dan total jarak sekitar 17 kilometer, penurunan baterainya tergolong kecil untuk kelas kendaraan entry-level.
Uji jalan ini menarik perhatian karena motor dipakai berboncengan dengan estimasi beban total sekitar 120 kilogram. Kondisi rute juga tidak ringan karena mencakup tanjakan pegunungan, jalan berliku, hingga turunan panjang yang biasanya menjadi titik lemah motor listrik murah.
Tes Tanjakan Berboncengan
Data pengujian menunjukkan baterai berangkat dari kondisi 100 persen. Pada 4 kilometer pertama, kapasitas baterai hanya turun sekitar 2 persen meski motor sudah dipakai berboncengan dan mulai melewati jalan menanjak.
Hasil itu memberi gambaran bahwa efisiensi energi masih terjaga pada fase awal perjalanan. Untuk motor listrik harga terjangkau, angka tersebut terbilang kompetitif karena bobot angkut dan kontur jalan sama-sama menambah beban kerja motor.
Di jalur pegunungan yang lebih curam, motor tetap mampu melaju stabil. Respons tenaga disebut tetap spontan saat throttle dibuka, karakter yang memang menjadi keunggulan umum motor listrik karena torsi puncak tersedia sejak putaran awal.
Penguji dalam video menyebut, “Langsung tarik gas, motornya responsif. Nanjak tetap enteng meski boncengan.” Pernyataan itu memperkuat temuan bahwa motor ini tidak menunjukkan gejala kehilangan tenaga yang biasa dikeluhkan pada kendaraan bermesin kecil saat menanjak.
Fitur Pendukung yang Terasa Fungsional
Selain performa tanjakan, perhatian juga tertuju pada fitur Hill Start Assist atau HSA. Fitur ini membantu menahan motor agar tidak langsung mundur ketika berhenti di tanjakan dan rem mulai dilepas.
Dalam pengujian, HSA bekerja cukup baik pada tanjakan normal. Namun pada kemiringan yang sangat curam, pengendara tetap perlu mengombinasikannya dengan rem manual agar kendaraan lebih aman dan stabil.
Motor ini juga mengandalkan regenerative braking saat melewati turunan. Sistem tersebut membantu memperlambat laju sambil mengembalikan sebagian energi ke baterai, meski efektivitasnya tetap bergantung pada panjang turunan dan kondisi jalan.
Pada turunan ekstrem, rem manual masih menjadi perangkat utama untuk keselamatan. Sementara di turunan yang lebih landai, regenerative braking terasa lebih optimal karena motor bisa melambat tanpa terlalu sering menarik tuas rem.
Kenyamanan dan Nilai Pakai Harian
Dari sisi kenyamanan, suspensi disebut cukup empuk saat dipakai sendiri maupun berboncengan. Karakter ini penting karena motor murah sering dikritik terlalu keras ketika melewati permukaan jalan yang tidak rata.
Handling juga dinilai tetap jinak di rute campuran. Saat melibas jalan rusak, getaran yang diteruskan ke pengendara disebut tidak berlebihan sehingga motor masih layak untuk mobilitas harian di area perkotaan hingga perbukitan ringan.
Berikut poin utama hasil pengujian yang paling menonjol:
- Harga berada di kelas Rp7 jutaan.
- Dipakai berboncengan dengan estimasi beban sekitar 120 kg.
- Jarak uji sekitar 17 km.
- Baterai awal 100 persen.
- Pada 4 km pertama, baterai turun sekitar 2 persen.
- Tanjakan curam masih bisa dilalui dengan respons tenaga yang baik.
- Fitur HSA dan regenerative braking bekerja, meski tetap ada batas pada kondisi ekstrem.
Secara teknis, hasil ini sejalan dengan karakter motor listrik yang unggul di torsi bawah. Karena itu, motor murah sekalipun bisa terasa kuat saat start dan menanjak, selama setelan motor, kontroler, serta kondisi baterainya mendukung.
Bagi konsumen yang mencari kendaraan listrik ekonomis untuk penggunaan harian, hasil uji ini memberi sinyal positif. Motor listrik Rp7 jutaan ternyata tidak hanya menarik dari sisi harga, tetapi juga cukup tangguh untuk menghadapi tanjakan, boncengan, dan perjalanan menengah dengan konsumsi baterai yang masih terbilang hemat.







