Sebelum 2G RI Padam, Nokia Jadul Reborn HMD Dipuji Masa Lalu, Dikecam Fitur yang Menyusut

Menjelang kabar penutupan jaringan 2G di Indonesia pada akhir tahun ini, ponsel Nokia jadul yang dihidupkan kembali oleh HMD justru kembali jadi bahan perdebatan. Bagi sebagian orang, kehadirannya menawarkan nostalgia, tetapi bagi pengguna yang membandingkannya dengan Nokia lawas era 90-an dan 2000-an, rasa kecewanya ikut mencuat.

Sorotan terbesar muncul karena banyak orang masih mengingat Nokia lama sebagai ponsel kecil yang simpel, awet, dan mudah dibawa ke mana-mana. Di sisi lain, versi reborn yang dikelola HMD dinilai tidak lagi menghadirkan pengalaman yang sama seperti saat Nokia masih berada di bawah perusahaan asalnya di Finlandia.

Kritik itu datang dari seorang pembeli yang mengaku terpaksa membeli ponsel Nokia yang dikelola HMD karena kebutuhan orang tuanya. Orang tuanya hanya membutuhkan ponsel untuk menelepon dan tidak nyaman memakai ponsel Android.

Pembeli tersebut mengatakan perangkat itu dibeli dengan harga di bawah Rp500 ribu. Namun setelah melihat isi dan fiturnya, ia merasa ada banyak perbedaan yang jauh lebih buruk dibanding Nokia jadul asli.

Salah satu yang disorot adalah fitur SMS yang disebut tidak menampilkan status pesan sudah terbaca atau belum. Ponsel itu juga dinilai tidak memperlihatkan waktu saat pesan masuk, sehingga pengalaman berkirim pesan terasa kurang praktis.

Kritik lain muncul dari menu permainan yang dianggap memaksa pengguna membeli terlebih dahulu sebelum bisa dimainkan. Pada saat yang sama, ponsel tersebut disebut tidak memberi kebebasan mengganti nada dering dan nada pesan masuk sesuai yang tersedia di kartu memori.

Kritik pada fitur dasar

Pembeli itu juga menyoroti ketiadaan beberapa fitur yang dianggap sederhana. Ponsel tersebut disebut tidak menyediakan bahasa Mandarin dan tidak memiliki mode pesawat.

Bagi orang tuanya, kekurangan itu cukup mengganggu. Ia membandingkannya dengan Nokia tipe 1280 buatan Nokia lama yang menurutnya lebih nyaman dipakai saat dicoba oleh orang tuanya.

Perbandingan itu tidak hanya soal tampilan. Ia menilai Nokia 1280 asli terasa lebih enak dipandang, walau memang tidak punya slot MicroSD, internet, kamera, dan bahasa Mandarin.

Nostalgia yang sulit ditandingi

Nada dering bawaan juga ikut menjadi pembeda yang disorot. Pembeli itu menilai ponsel Nokia lama memiliki pilihan nada dering yang lebih banyak, sementara suara khas Nokia lawas dianggap masih lebih enak didengar.

Keluhan ini menyoroti harapan sebagian pengguna lama yang ingin pengalaman sederhana Nokia tetap dipertahankan. Mereka tidak menuntut banyak fitur modern, tetapi ingin karakter dasar ponsel jadul tetap terasa.

Ada pula kekhawatiran tambahan dari isu jaringan 2G yang disebut akan ditutup akhir tahun ini. Bagi pengguna yang masih bergantung pada ponsel fitur, kabar itu membuat mereka semakin cemas soal masa pakai perangkat semacam ini.

Pembeli tersebut bahkan berharap, jika jaringan 2G belum benar-benar berakhir dalam beberapa bulan ke depan, Nokia bisa kembali merilis ponsel yang lebih mirip model era 2000-an seperti 1280. Ia menilai pembaruan sebaiknya hanya menyentuh hal praktis, seperti menambah bahasa Mandarin atau menyesuaikan port charger dengan perkembangan teknologi.

Ia juga menyebut ponsel Nokia rilisan tahun 2011 sudah memiliki bahasa Mandarin untuk pengguna keturunan Tionghoa. Dari situ, muncul harapan agar pengelolaan bisnis Nokia suatu saat berpindah lagi ke perusahaan lain yang dianggap lebih mampu menjaga keaslian pengalaman pengguna ponsel jadul.

Terkait