Power bank masih jadi penyelamat banyak orang saat baterai ponsel menipis di luar rumah. Tapi di balik popularitasnya, pendiri sekaligus CEO Anker, Meng Yang, justru melihat masa depan yang jauh lebih suram untuk perangkat ini.
Dalam wawancara yang dikutip Gizmochina pada 13/6/2026, Meng Yang memprediksi power bank tidak akan berkembang menjadi kategori produk bernilai ratusan miliar yuan. Ia bahkan menilai perangkat itu bisa mengikuti nasib sejumlah produk elektronik konsumen yang pernah populer, lalu ditinggalkan pasar.
Dibandingkan dengan perangkat yang pernah berjaya lalu hilang
Meng Yang menyamakan power bank dengan pemutar MP3, kaset, dan CD player. Menurut dia, banyak produk elektronik konsumen memiliki siklus hidup yang pendek sebelum digeser oleh inovasi yang lebih praktis.
Ia menyebut jarak waktu sejak orang membeli produk seperti MP3 player hingga berhenti membelinya biasanya hanya sekitar 10 tahun. Pandangan itu bertumpu pada keyakinan bahwa teknologi akan terus melahirkan solusi yang membuat perangkat tambahan seperti power bank makin tidak dibutuhkan.
Kenapa power bank dinilai bisa kehilangan relevansi
Menurut Meng Yang, kebutuhan terhadap power bank bisa menyusut bila baterai perangkat elektronik semakin awet. Pengisian daya yang makin cepat juga dapat mengurangi ketergantungan pengguna pada baterai eksternal.
Ia melihat masa depan di mana daya tahan baterai ponsel dan gadget lain meningkat cukup jauh. Dalam skenario itu, power bank tidak lagi menjadi aksesori wajib seperti sekarang.
Anker sendiri tak lagi bertumpu pada power bank
Pernyataan itu menarik karena Anker dikenal sebagai salah satu merek power bank terbesar di dunia. Perusahaan yang berdiri pada 2011 itu tumbuh besar lewat penjualan pengisi daya portabel di berbagai pasar internasional.
Namun, bisnis Anker kini jauh lebih beragam. Selain power bank, perusahaan juga menjual aksesori pengisian daya, perangkat pintar, dan solusi penyimpanan energi.
Data keuangan publik menunjukkan Anker mencatat pendapatan 30,514 miliar yuan pada 2025, setara sekitar 80 triliun rupiah. Angka itu naik 23,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ada pertumbuhan, tapi juga tekanan bisnis
Pada kuartal pertama 2026, Anker kembali membukukan kenaikan pendapatan. Angkanya mencapai 7,608 miliar yuan atau sekitar 19 triliun rupiah, naik 26,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski begitu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham turun 4,87 persen menjadi 472 juta yuan atau sekitar 1 triliun rupiah. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan bisnis masih berjalan, tetapi persaingan pasar dan tantangan operasional tetap menekan.
Produk pengisian daya dan penyimpanan energi menyumbang 15,402 miliar yuan, atau sekitar separuh dari total pendapatan perusahaan pada 2025. Di sisi lain, power bank tradisional bukan lagi penggerak utama bisnis Anker.
Terlalu banyak model sempat jadi masalah
Komentar Meng Yang juga muncul setelah Anker mengakui pernah terlalu agresif memperluas lini power bank. Dalam rapat pemegang saham tahunan 2025, perusahaan menyebut jumlah model yang dipasarkan sempat terlalu banyak.
Pada 2024, Anker dilaporkan menjual sekitar 100 model power bank berbeda. Jumlah itu dinilai menyulitkan perusahaan menjaga kualitas produk secara konsisten.
Anker sendiri mengakui bahwa tidak realistis mempertahankan standar kualitas tinggi pada 100 model sekaligus. Karena itu, perusahaan mulai mengevaluasi strategi produk agar lebih fokus dan efisien.
Masih dipakai, tapi masa depannya dipertanyakan
Saat ini, power bank masih dibutuhkan banyak pengguna smartphone, terutama saat bepergian, bekerja di luar ruangan, atau berada di tempat yang sulit menemukan sumber listrik. Namun, Meng Yang percaya perangkat ini pada akhirnya bisa bernasib seperti produk populer lain yang perlahan menghilang.
Baterai yang makin tahan lama, pengisian super cepat, dan inovasi penyimpanan energi di masa depan bisa menjadi faktor utama yang mengubah kebiasaan pengguna. Untuk sekarang, power bank masih relevan, tetapi masa depannya tampak tidak lagi sekuat dulu.
Source: www.idntimes.com





