Lonjakan harga memori mulai memberi tekanan nyata pada industri smartphone global. TrendForce memperkirakan produksi ponsel pintar dunia akan turun sekitar 16,2 persen secara tahunan menjadi 1,051 miliar unit, menandai tahun yang lebih berat bagi para produsen.
Pada kuartal pertama, output manufaktur ponsel global masih mencapai 284 juta unit. Angka itu tetap menunjukkan penurunan 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski dampak kenaikan harga komponen belum sepenuhnya terasa di awal tahun.
Harga memori mulai mengubah arah produksi
Tekanan biaya belum langsung menghantam seluruh produsen karena banyak vendor masih memakai stok komponen lama yang dibeli saat harga lebih rendah. Namun, kondisi itu mulai bergeser ketika persediaan memori murah menipis dan harga komponen terus naik.
TrendForce menilai tren tersebut mulai mengikis margin keuntungan pelaku industri. Situasi ini mendorong vendor global menyesuaikan ulang target manufaktur, terutama saat mereka harus menjaga keseimbangan antara volume produksi dan profitabilitas.
Jika kenaikan harga komponen tidak mereda, dampaknya diperkirakan akan diteruskan ke konsumen. Produsen berpotensi menaikkan harga jual perangkat berulang kali untuk mempertahankan margin di tengah biaya yang makin tinggi.
Produsen besar lebih tahan, kelas bawah paling rentan
Dampak tekanan pasokan diperkirakan tidak merata. Perusahaan dengan portofolio premium yang kuat dan modal besar dinilai lebih mampu menyerap kenaikan biaya komponen utama.
Sebaliknya, produsen asal China yang kuat di segmen entry-level diprediksi akan bergerak lebih hati-hati. Ruang keuntungan yang makin tipis dan persaingan domestik yang ketat dari Huawei membuat langkah produksi mereka cenderung konservatif.
Segmen ponsel kelas bawah hingga menengah menjadi area paling rentan terhadap guncangan ini. Ketidakpastian pasar itu sudah mulai membayangi performa Xiaomi, Oppo, dan Vivo pada kuartal pertama tahun ini.
Xiaomi mencatat produksi 26 juta unit, Oppo 29,5 juta unit, dan Vivo 22 juta unit. Transsion, induk dari Infinix, Tecno, dan Itel, juga ikut tertekan karena sangat bergantung pada pasar ponsel murah.
Samsung dan Apple masih memimpin
Di tengah tekanan industri, Samsung dan Apple justru tampil paling stabil. Samsung tetap menjadi produsen terbesar dengan produksi 62,6 juta unit, naik 2,3 persen secara tahunan, didorong percepatan produksi untuk lini Galaxy S terbaru.
Apple menyusul di posisi kedua dengan 60,2 juta unit. Produksi globalnya melonjak 19,7 persen berkat dorongan generasi iPhone terbaru dan varian iPhone 17e.
Kekuatan finansial membuat kedua perusahaan lebih fleksibel menghadapi kenaikan harga komponen inti. Kondisi itu juga membuka peluang bagi mereka untuk memperluas pangsa pasar ketika pemain lain memilih memangkas produksi.
Peta produksi kuartal pertama
Samsung menguasai 22 persen pangsa pasar, sementara Apple berada di 21 persen. Di bawah keduanya, Oppo mencatat 29,5 juta unit dengan pangsa 10 persen, disusul Xiaomi 26 juta unit dengan 9 persen.
Vivo membukukan 22 juta unit dan Transsion 19,8 juta unit. Dalam kondisi harga memori yang belum menunjukkan tanda mereda, arah industri sepanjang tahun ini sangat bergantung pada seberapa cepat vendor dapat menyesuaikan biaya dan strategi produksi mereka.







