Commodore Balik dengan Ponsel Lipat Anti-Doomscrolling, Aplikasi Android Tetap Jalan

Author: Qoo Media

Commodore kembali ke pasar ponsel dengan pendekatan yang berlawanan dari tren smartphone saat ini. Merek yang lama dikenal di dunia komputasi itu memperkenalkan Callback 8020, ponsel lipat bergaya awal 2000-an yang ditujukan untuk pengguna yang ingin mengurangi kebiasaan doomscrolling.

Perangkat ini menarik perhatian karena sengaja menyingkirkan banyak elemen yang selama ini dianggap standar di ponsel modern. Callback 8020 tidak menghadirkan media sosial, email, dan browser web, sambil tetap mempertahankan fungsi penting seperti pesan, peta, dan musik.

Langkah itu hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran soal kecanduan layar, distraksi online, dan gaya hidup digital anak. Commodore menyebut perangkat ini dibangun untuk mengembalikan teknologi ke fungsi awalnya, yakni melayani pengguna, bukan berebut perhatian mereka.

CEO Commodore, Peri Fractic, mengatakan pengalaman menjadi orang tua membuatnya meninjau ulang kebiasaan memakai smartphone. Ia menyebut pernah mengganti smartphone dengan ponsel dasar dan merasa lebih jarang meraih perangkatnya serta lebih banyak berinteraksi dengan dunia sekitar.

Namun, menurut Fractic, ponsel dasar yang ada selama ini memangkas terlalu banyak fungsi. Karena itu, Callback 8020 ditempatkan di antara feature phone dan smartphone, atau dalam istilah Commodore disebut sebagai “not dumb dumbphone”.

Ponsel retro, sistem operasi anti-Google

Secara visual, Callback 8020 mengusung desain flip phone yang sangat kental dengan nuansa Y2K. Bahasa desain ini jelas mengingatkan pada perangkat era awal 2000-an, tetapi bagian dalamnya memakai fondasi perangkat lunak yang jauh lebih modern.

Ponsel ini menjalankan versi kustom Sailfish OS yang dikembangkan bersama perusahaan Finlandia, Jolla. Sailfish OS sendiri merupakan platform berbasis Linux yang berakar dari upaya perangkat lunak mobile Nokia, sementara Jolla didirikan oleh mantan karyawan Nokia dan telah mengembangkan sistem ini selama lebih dari satu dekade sebagai alternatif untuk Android dan iOS.

Salah satu daya tarik terbesar Callback 8020 justru terletak pada statusnya yang sepenuhnya de-Googled. Meski begitu, Sailfish OS disebut mampu menjalankan lebih dari 99% aplikasi Android melalui lapisan kompatibilitas.

Artinya, pengguna masih bisa mengakses aplikasi yang dianggap penting dalam penggunaan sehari-hari. Daftar yang disebut mencakup WhatsApp, Google Maps, Spotify, Signal, dan iMessage melalui solusi pihak ketiga yang memerlukan akses sementara ke Mac.

Fokus membatasi distraksi

Fitur utama Callback 8020 bukan hanya soal aplikasi yang bisa dijalankan, tetapi juga tentang hal-hal yang sengaja diblokir. Commodore mengatakan teknologi miliknya yang masih berstatus patent-pending memblokir platform media sosial dan browser internet di tingkat sistem.

Pendekatan ini membuat perangkat tersebut berbeda dari smartphone biasa yang justru mendorong notifikasi dan keterlibatan terus-menerus. Sebagai pengganti notifikasi pop-up konvensional, Callback 8020 memakai sistem notifikasi LED berbentuk kubah yang dirancang untuk mengurangi gangguan.

Commodore juga menyebut ponsel ini dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan sekolah. Meski demikian, perusahaan meminta pengguna tetap memeriksa ketentuan lokal sebelum mengandalkannya untuk penggunaan di ruang kelas.

Privasi juga dijadikan nilai jual utama perangkat ini. Commodore menyatakan perusahaan maupun perangkatnya tidak memonetisasi data pribadi, tidak melacak cookie, dan tidak mengumpulkan informasi pengguna tanpa izin.

Tetap membawa fungsi harian

Meski tanpa browser, Callback 8020 tetap ditujukan untuk menjalankan banyak aktivitas sehari-hari. Perangkat ini mendukung kode QR, peta, aplikasi keamanan rumah, band seluler global, predictive text messaging, dan aplikasi komunikasi populer.

Commodore juga membawa kembali beberapa elemen yang kini semakin jarang ditemukan di ponsel modern. Callback 8020 hadir dengan baterai yang bisa dilepas dan cover yang dapat diganti.

Di sisi hiburan, perangkat ini membidik pengguna yang masih menyukai audio kabel. Callback 8020 dibekali DAC kelas audiophile, earphone in-ear dengan jack headphone 3,5 mm yang disertakan dalam paket penjualan, serta dukungan radio FM.

Commodore juga menyebut adanya trek audio definisi tinggi dari artis seperti LukHash dan Anders Enger Jensen. Detail ini memperlihatkan bahwa perangkat tersebut tidak hanya diposisikan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai perangkat musik portabel.

Varian dan harga

Callback 8020 akan hadir dalam lima pilihan penyelesaian. Lini standar Commodore mencakup BASIC Beige, ProtoPET White, dan SX Silver dengan harga masing-masing $500.

Untuk opsi yang lebih istimewa, tersedia Starlight Edition dengan bodi transparan seharga $550. Ada pula Founders Edition yang memakai lapisan emas PVD dan tombol Commodore berlapis emas 24K dengan harga $640.

Commodore menargetkan pre-order dibuka dalam waktu dekat. Pengiriman saat ini ditargetkan berlangsung pada Q4 2026.

Selain spesifikasi dan desain retro, posisi Callback 8020 menonjol karena mencoba menjawab kelelahan pengguna terhadap smartphone tanpa sepenuhnya kembali ke ponsel yang serba terbatas. Di tengah pasar yang berlomba menambah layar, notifikasi, dan layanan online, perangkat ini justru dijual sebagai alat untuk memangkas semuanya ke fungsi yang dianggap paling perlu.

Source: www.androidcentral.com
Terbaru