LPDDR Mulai Mentok, Ponsel AI Generasi Berikutnya Bisa Beralih ke Memori LLW

Ponsel generasi AI berikutnya disebut-sebut tidak lagi mengandalkan LPDDR sebagai memori utama. Sorotan kini mengarah ke LLW, singkatan dari Low Latency Wide DRAM, yang dikabarkan sedang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan AI di perangkat.

Isu ini penting karena hambatan utama ponsel AI saat ini bukan hanya prosesor, melainkan kecepatan memori saat memasok data ke chip. Model bahasa besar yang dijalankan langsung di perangkat membutuhkan aliran data jauh lebih tinggi dibanding beban kerja ponsel konvensional.

Dorongan ke arah AI on-device membuat produsen mencoba menjalankan model yang lebih besar langsung di smartphone. Di sisi lain, prosesor mobile dinilai sudah cukup mampu untuk menangani LLM secara lokal.

Masalahnya, LPDDR yang sekarang dipakai luas di ponsel memiliki batas dalam bandwidth data. Keterbatasan itu membuat potensi chip AI di smartphone belum sepenuhnya terpakai ketika harus memproses model yang makin besar.

Dalam dunia pusat data AI, kebutuhan serupa biasanya dijawab oleh HBM atau High Bandwidth Memory. Jenis memori ini dipakai karena mampu memberi bandwidth sangat tinggi untuk memasok data ke prosesor AI.

LLW disebut mengambil inspirasi dari pendekatan HBM tersebut. HBM mencapai kecepatan tinggi dengan menempatkan beberapa lapisan memori dekat dengan prosesor dan menghubungkannya lewat antarmuka yang sangat lebar.

Hasilnya, bandwidth HBM jauh lebih tinggi dibanding memori mobile saat ini. Laporan yang beredar menyebut pendekatan seperti itu bisa menghasilkan kecepatan 10 hingga 15 kali lebih cepat dibanding LPDDR terbaik saat ini.

Namun HBM punya kelemahan besar jika dibawa ke smartphone. Teknologi itu memerlukan pengemasan yang rumit serta solusi pendinginan yang tidak praktis untuk perangkat tipis dengan ruang sangat terbatas.

Di sinilah LLW diposisikan sebagai alternatif yang lebih realistis untuk ponsel. LLW diharapkan memberi bandwidth lebih tinggi dan latensi lebih rendah daripada LPDDR, tanpa membawa kendala panas dan ruang seperti desain memori bertumpuk ala HBM.

Dengan kata lain, LLW diarahkan menjadi jembatan antara kebutuhan AI kelas tinggi dan keterbatasan fisik smartphone. Jika pendekatan ini berhasil, ponsel AI bisa memperoleh suplai data yang lebih cepat tanpa harus mengorbankan bentuk perangkat.

Apa yang Diklaim Bocoran

Sejauh ini, informasi tentang LLW belum datang dari pengumuman resmi perusahaan. Detail yang beredar masih berasal dari blogger industri dan pembocor informasi, sehingga perlu dibaca dengan hati-hati.

Tipster Fixed Focus Digital menyebut LLW berpotensi memangkas konsumsi daya sekitar 50%. Pada saat yang sama, performanya diklaim bisa meningkat sekitar 1,5 kali.

Dua angka itu menarik karena tantangan ponsel AI bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga efisiensi energi. Menjalankan model AI besar di perangkat dapat menambah tekanan pada baterai dan suhu kerja, sehingga peningkatan efisiensi menjadi sangat penting.

Bila klaim itu terbukti, LLW tidak sekadar menjadi pengganti LPDDR yang lebih cepat. Teknologi ini juga bisa membuka jalan bagi pengalaman AI yang lebih berat di ponsel tanpa lonjakan konsumsi daya yang sama besar.

Kapan Bisa Dipakai di Ponsel

Meski menarik, LLW disebut masih butuh waktu sebelum dipakai luas. Bocoran yang sama menyebut penyebaran dalam skala lebih besar baru dapat diharapkan pada paruh kedua 2027.

Artinya, transisi dari LPDDR ke LLW tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Produsen ponsel kemungkinan masih akan mengandalkan kombinasi optimasi software, peningkatan chip, dan memori yang ada untuk sementara waktu.

Nama Xiaomi dan Huawei disebut sebagai calon pengadopsi awal. Meski begitu, kedua perusahaan tersebut belum membahas teknologi ini secara publik.

Kondisi itu membuat status LLW saat ini masih berada di wilayah spekulatif, meski arah pengembangannya terdengar masuk akal. Semakin besar ambisi menghadirkan AI langsung di perangkat, semakin besar pula tekanan untuk mencari solusi memori yang melampaui kemampuan LPDDR.

Pada akhirnya, pergeseran ke ponsel AI-first tampaknya tidak hanya akan ditentukan oleh kekuatan NPU atau CPU. Memori yang mampu memberi bandwidth tinggi dengan latensi rendah bisa menjadi komponen kunci yang menentukan seberapa jauh AI di smartphone benar-benar dapat berkembang.

Source: www.gizmochina.com

Terkait