Vivo X Fold 6 Bawa Kamera 200MP Ala DSLR, Saat Foldable Mulai Serius ke Produktivitas

Vivo menyiapkan X Fold 6 sebagai foldable baru yang paling menonjol lewat kombinasi kamera bergaya DSLR dan fitur AI produktivitas. Menjelang peluncuran resminya di China pada akhir Juni 2026, Vivo mulai membuka kemampuan perangkat ini lewat teaser resmi dan pernyataan eksekutifnya.

Langkah itu menempatkan X Fold 6 sebagai penerus X Fold 5 dengan fokus yang lebih tegas pada kamera, layar, dan pengalaman kerja di layar besar. Vivo juga tampak ingin mengurangi kompromi yang selama ini kerap melekat pada ponsel lipat, terutama di sektor fotografi dan multitasking.

Kamera 200 MP dengan pendekatan flagship

Sektor kamera menjadi sorotan utama pada X Fold 6. Vivo membekali perangkat ini dengan kamera utama 200 megapiksel yang memakai sensor Samsung HPB berukuran 1/1,4 inci dan aperture f/1.68.

Di belakangnya, Vivo juga menanamkan stabilisasi gambar kelas profesional serta chip pemrosesan gambar V3+ yang sebelumnya digunakan di lini flagship perusahaan. Kombinasi ini membuat X Fold 6 diposisikan bukan sekadar ponsel lipat, tetapi juga perangkat foto utama yang serius.

Untuk pemotretan jarak jauh, Vivo menyiapkan kamera periskop telefoto bersertifikasi Zeiss APO. Kamera ini diklaim mampu menjaga reproduksi warna dan detail tetap akurat, sekaligus mendukung aksesori teleconverter Zeiss G2.

Dengan aksesori tersebut, pengguna bisa memperoleh ekuivalen focal length hingga 200mm. Pendekatan ini memperlihatkan upaya Vivo membawa rasa kamera premium ke format foldable tanpa mengorbankan fleksibilitas desain lipat.

Layar besar, lebih terang, dan hemat daya

Di sisi tampilan, Vivo mengonfirmasi penggunaan panel Samsung M14 OLED terbaru pada layar utama 8,02 inci. Panel ini sebelumnya dipakai di smartphone flagship premium dan menawarkan efisiensi daya yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya.

Vivo menyebut layar internal dan eksternal sama-sama bisa mencapai kecerahan puncak hingga 5.000 nits dalam kondisi tertentu. Angka itu membuat layar tetap mudah dibaca saat dipakai di bawah sinar matahari langsung.

Kedua layar juga mendukung teknologi LTPO untuk menyesuaikan refresh rate secara dinamis sesuai kebutuhan. Vivo turut menambahkan sertifikasi TÜV Rheinland Eye Comfort 3.0 demi menjaga kenyamanan mata saat penggunaan jangka panjang.

AI produktivitas jadi senjata baru

Fokus besar lain ada pada sisi perangkat lunak dan AI. Vivo menyiapkan OriginOS 6 Fold yang dirancang khusus untuk smartphone lipat agar pengalaman kerja di layar besar terasa lebih efisien.

Salah satu fitur andalannya adalah Atomic Workbench generasi terbaru. Fitur ini memungkinkan beberapa aplikasi berjalan simultan dalam satu tampilan, sementara tata letak jendela dibuat agar perpindahan antar-aplikasi berlangsung lebih cepat.

Vivo juga menghadirkan rangkaian fitur AI baru untuk produktivitas, pengelolaan tugas, dan fotografi. Dengan arah ini, X Fold 6 tidak hanya mengejar performa tinggi, tetapi juga mencoba menjadi perangkat kerja yang lebih cerdas.

Performa besar dan baterai jumbo

Untuk dapur pacu, Vivo X Fold 6 akan ditenagai chipset MediaTek Dimensity 9500 Super Edition yang dikembangkan bersama MediaTek. Vivo juga memperkirakan perangkat ini membawa baterai berkapasitas sekitar 6.900 mAh hingga 7.000 mAh.

Jika kapasitas itu terwujud, X Fold 6 akan masuk jajaran smartphone lipat dengan baterai terbesar di kelasnya. Kapasitas besar ini penting untuk mendukung layar lebar, kamera resolusi tinggi, dan fitur AI yang berjalan lebih intensif.

Pasar foldable masih premium

Di Indonesia, pasar smartphone lipat terus berkembang seiring hadirnya perangkat dari Samsung, Oppo, Huawei, Honor, hingga Vivo. Meski begitu, pangsa pasar foldable secara global masih di bawah dua persen dari total pasar smartphone dunia.

Samsung masih menjadi pemain paling dominan di Indonesia lewat lini Galaxy Z Fold dan Galaxy Z Flip. Oppo kemudian memberi alternatif lewat Find N Series, sementara Honor kembali masuk dengan Magic V Series dan Vivo memperluas portofolio foldable globalnya.

Tantangan terbesar tetap ada pada harga. Sebagian besar perangkat lipat masih dijual di rentang belasan hingga puluhan juta rupiah, sementara pasar Indonesia masih dikuasai perangkat entry-level dan menengah.

Data IDC menunjukkan pasar smartphone Indonesia tumbuh 15,5 persen sepanjang 2024 dengan pengiriman mendekati 40 juta unit. Pertumbuhan itu terutama datang dari segmen ultra low-end dan menengah, sehingga perangkat premium seperti foldable masih menjadi pasar yang relatif kecil.

Source: selular.id

Terkait