Pasar smartphone global diproyeksikan melemah tajam tahun ini. CCS Insight memperkirakan pengiriman smartphone sepanjang 2026 turun 15 persen, di tengah kenaikan harga perangkat yang makin menekan permintaan.
Tekanan terbesar datang dari segmen ponsel murah. Kenaikan harga smartphone entry-level bahkan disebut sudah menembus lebih dari 50 persen dibandingkan tahun lalu, membuat penjualan turun dan memukul pasar secara lebih luas.
Gambaran perlambatan itu sudah terlihat sejak awal tahun. Pada kuartal I-2026, pengiriman smartphone baru tercatat turun 4,4 persen meskipun distributor dan peritel sempat menimbun stok lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga.
Tren pelemahan juga muncul dalam proyeksi bulanan. Pada Januari 2026, pasar smartphone global ditaksir turun paling rendah 5,2 persen saat harga ponsel diperkirakan naik 6-8 persen.
Situasi itu berlanjut pada Februari 2026. Para analis saat itu memprediksi pengapalan smartphone global turun 8 persen, dengan kenaikan harga sekitar 14 persen.
Kenaikan biaya dipicu ledakan AI
Menurut CCS Insight, sumber tekanan utama berasal dari lonjakan kebutuhan komponen memori di era AI. Permintaan besar untuk server berkinerja tinggi membuat produsen chip memori lebih memprioritaskan produk dengan margin tinggi untuk pusat data ketimbang DRAM dan NAND bagi PC serta smartphone.
Akibatnya, pasokan memori untuk smartphone menjadi lebih terbatas. Di saat yang sama, harga komponen memori ikut naik dan mendorong biaya produksi perangkat bergerak lebih tinggi.
CCS Insight menilai kondisi ini bisa memicu supercycle pasar memori hingga 2028. Artinya, tekanan biaya dari sisi komponen belum menunjukkan tanda-tanda akan cepat mereda.
Analis riset CCS, Ben Hatton, mengatakan krisis memori belum memperlihatkan tanda pelonggaran dalam waktu dekat. Kondisi itu disebut terus meningkatkan tekanan bagi produsen sekaligus konsumen.
Hatton juga menyoroti bobot memori dalam struktur biaya pembuatan ponsel. Menurut dia, komponen memori kini menyumbang lebih dari 30 persen dari biaya produksi, terutama pada sejumlah model smartphone.
Ponsel murah paling terpukul
Dampak kenaikan biaya memori tidak merata di semua kelas produk. Smartphone entry-level menjadi kelompok yang paling rentan karena porsi biaya memori dan penyimpanan terhadap total ongkos produksi jauh lebih besar dibandingkan ponsel premium.
Karena itu, kenaikan harga komponen langsung terasa pada harga jual akhir. Sejumlah ponsel murah dilaporkan mengalami lonjakan harga hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut ikut mengubah perilaku konsumen. Ketika harga perangkat baru makin mahal, minat beli terhadap smartphone baru ikut melemah dan memperburuk prospek pasar sepanjang tahun.
CCS Insight menilai dampak penuh dari kenaikan biaya memori juga belum sepenuhnya terasa di semua wilayah. Namun tekanan harga perangkat diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang tahun.
Pasar ponsel bekas justru tumbuh
Saat pasar smartphone baru melambat, pasar ponsel bekas bergerak ke arah sebaliknya. CCS Insight mencatat pasar ponsel bekas terorganisir tumbuh 4 persen pada kuartal I-2026.
Pertumbuhan itu didorong oleh konsumen yang mencari alternatif lebih terjangkau. Di tengah harga smartphone baru yang naik, perangkat bekas menjadi pilihan untuk tetap mendapatkan ponsel dengan biaya lebih rendah.
Sepanjang 2026, CCS Insight memperkirakan pasar smartphone bekas dapat tumbuh sekitar 15 persen. Angka ini menunjukkan adanya pergeseran permintaan dari pasar perangkat baru ke pasar sekunder.
Namun peluang itu tidak datang tanpa hambatan. Pasar ponsel bekas berisiko menghadapi pasokan yang lebih ketat ketika makin sedikit konsumen membeli smartphone baru.
Selama ini, suplai utama ponsel bekas berasal dari pengguna yang menjual perangkat lama saat membeli model baru. Jika pembelian smartphone baru melambat, jumlah unit yang masuk ke pasar bekas juga bisa ikut berkurang.
Tantangan lain datang dari siklus penggantian perangkat yang makin panjang. Banyak pengguna kini memilih mempertahankan smartphone mereka lebih dari empat tahun sebelum beralih ke model baru.
Pola itu berbeda dibanding beberapa tahun lalu, saat konsumen umumnya mengganti smartphone setiap dua hingga tiga tahun. Perubahan kebiasaan ini ikut menahan laju pembelian perangkat baru sekaligus membatasi suplai ke pasar bekas.
Meski begitu, Hatton menilai pasar smartphone bekas tetap punya peluang untuk menyerap sebagian permintaan yang tidak terpenuhi oleh pasar smartphone baru. Dalam jangka pendek, persoalan utamanya ada pada kemampuan menjaga ketersediaan perangkat bekas, terutama ketika peluncuran smartphone flagship baru ikut melambat.
Source: tekno.kompas.com






