Apple memberi sinyal bahwa harga iPhone generasi mendatang bisa ikut naik saat pasar memori berada dalam tekanan berat. Krisis RAM yang dipicu lonjakan permintaan global membuat biaya produksi perangkat konsumen semakin sulit ditekan.
Dampaknya paling terasa pada perangkat premium yang sedang disiapkan Apple, termasuk iPhone Fold yang ramai dibicarakan akan meluncur akhir tahun ini. Dengan desain lipat model buku dan layar fleksibel berukuran tablet, ponsel itu sudah diperkirakan masuk kategori sangat mahal sebelum faktor memori menghantam lebih jauh.
Tekanan biaya dari pasar RAM
Estimasi harga untuk varian kapasitas tertinggi iPhone Fold disebut berada di kisaran USD 2.000 hingga USD 2.600. Jika mengacu pada nilai tersebut, banderolnya setara sekitar Rp 35 juta sampai Rp 50 jutaan, sebelum pajak impor diperhitungkan di pasar domestik.
Kenaikan harga ini tidak berdiri sendiri. Industri kecerdasan buatan mendorong lonjakan permintaan RAM dalam skala besar karena perusahaan teknologi raksasa membutuhkan pasokan masif untuk server mereka.
Mirror pada Kamis (18/6/2026) melaporkan bahwa produsen memori utama kini mengalihkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan sektor AI. Pergeseran itu membuat rantai pasok perangkat konsumen ikut terguncang dan pasokan memori menjadi semakin ketat.
Rantai pasok ikut tertekan
Situasi di industri semikonduktor juga makin rumit akibat gangguan pasokan gas helium. Bahan baku penting ini terdampak konflik bersenjata yang berkecamuk di Iran, padahal helium memegang peran krusial dalam proses manufaktur semikonduktor.
Gangguan itu ikut mengangkat biaya produksi cip global ke level tertinggi. Saat biaya bahan baku dan komponen naik bersamaan, produsen perangkat konsumen menghadapi ruang gerak yang semakin sempit untuk menjaga harga jual tetap stabil.
Apple sendiri pernah menyinggung langsung tekanan semacam ini melalui Tim Cook. Dalam penjelasan kepada Wall Street Journal, ia mengatakan perusahaan berupaya mengurangi kenaikan harga besar yang dibebankan kepada Apple, tetapi situasinya sudah menjadi tidak berkelanjutan.
Harga memori jadi kunci
Cook juga menegaskan bahwa pasar butuh harga dan pasokan memori kembali ke tingkat yang wajar untuk produk konsumen. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Apple melihat masalah ini bukan sekadar gangguan sementara, melainkan risiko serius bagi keberlanjutan harga perangkat elektronik.
Masalahnya, kelangkaan pasokan muncul saat minat konsumen terhadap gawai baru sedang tinggi. Kondisi itu memberi produsen memori peluang untuk menaikkan harga jual secara signifikan, sementara pembuat perangkat seperti Apple harus menyerap tekanan biaya atau meneruskannya ke konsumen.
Untuk pembeli, situasi ini bisa berarti generasi iPhone berikutnya tidak lagi berada di kisaran harga yang sama dengan model sebelumnya. Untuk Apple, tekanan dari pasar RAM dan rantai pasok semikonduktor membuat strategi penetapan harga perangkat premium seperti iPhone Fold menjadi semakin sulit diprediksi.







