Jaguar Land Rover menyiapkan langkah besar lewat SUV kompak baru di keluarga Defender yang sementara disebut Baby Defender. Model ini akan hadir dengan pilihan hybrid dan listrik murni, namun tetap memprioritaskan kemampuan off-road yang selama ini menjadi identitas utama Defender.
Kehadiran model ini juga menandai perluasan lini Defender setelah merek tersebut berdiri sebagai brand independen di bawah strategi House of Brands JLR, bersama Range Rover dan Discovery. Peluncurannya diproyeksikan sekitar 2027 dan akan menjadi kendaraan kedua dalam keluarga Defender.
Pilihan powertrain dibuat lebih fleksibel
Awalnya, Baby Defender disebut hanya akan mengandalkan tenaga listrik penuh dan memakai platform Electrified Modular Architecture atau EMA. Kini, JLR mengonfirmasi bahwa platform itu telah dikembangkan agar mampu mendukung Hybrid Electric Vehicle dan Battery Electric Vehicle.
Artinya, calon konsumen nantinya bisa memilih varian hybrid maupun listrik sepenuhnya. Langkah ini menunjukkan JLR tidak ingin membatasi produk baru itu pada satu arah elektrifikasi saja.
Keputusan tersebut juga dibaca sebagai respons terhadap laju adopsi kendaraan listrik yang belum secepat perkiraan di banyak negara. Direktur Pelaksana Defender dan Discovery, Mark Cameron, menilai fleksibilitas pilihan perlu diberikan agar sesuai dengan kebutuhan pasar yang berbeda-beda.
Menurut Cameron, pasar Amerika Serikat menjadi contoh penting karena saat ini merupakan pasar terbesar bagi Defender. Karena itu, JLR masih akan menawarkan mesin bensin, diesel, dan teknologi hybrid selama permintaan pasar masih ada.
Ukuran kompak, karakter tetap tangguh
Baby Defender diperkirakan punya panjang sedikit di atas 4,5 meter. Ukuran itu membuatnya masuk kategori SUV kompak, tetapi JLR tetap menargetkan karakter tangguh khas Defender tidak hilang.
Meski mengadopsi teknologi elektrifikasi, kemampuan melibas medan berat tetap menjadi fokus utama pengembangan. JLR menempatkan aspek itu sebagai bagian penting dari DNA Defender yang tidak boleh berubah.
Cameron mengakui ada tantangan teknis saat beralih ke arsitektur yang berorientasi pada kendaraan listrik. Posisi baterai di bawah lantai kendaraan dapat membatasi jarak gerak suspensi dan artikulasi roda dibandingkan Defender berukuran lebih besar.
Meski begitu, perusahaan tetap berkomitmen menghadirkan kemampuan off-road terbaik di kelasnya. Bagi JLR, elektrifikasi harus berjalan seiring dengan kemampuan jelajah yang selama ini melekat pada nama Defender.
Desain khas tetap dijaga
Tantangan lain muncul pada sisi desain. JLR ingin mempertahankan bentuk Defender yang tegak dan kokoh, tetapi pada saat yang sama tetap harus memperhatikan efisiensi aerodinamika yang penting bagi kendaraan listrik.
Perusahaan menegaskan identitas Defender harus tetap terlihat jelas agar model baru ini tidak kehilangan pembeda utamanya di pasar. Sikap itu menunjukkan JLR ingin memperbarui teknologi tanpa memutus hubungan dengan karakter desain yang sudah dikenal.
Saat ini, Defender memang sudah tersedia dalam versi plug-in hybrid di sejumlah negara. Namun, penggunaan platform D7 membuat model tersebut masih terbatas pada mesin empat silinder dengan jarak tempuh listrik yang relatif pendek.
Ke depan, JLR ingin memanfaatkan platform generasi baru untuk menghadirkan teknologi elektrifikasi yang lebih canggih dan efisien. Baby Defender menjadi salah satu langkah penting dalam transisi itu.
Cameron mengatakan pengembangan Baby Defender kini sudah memasuki tahap yang sangat maju. Namun, JLR belum memberikan kepastian soal nama resmi maupun waktu peluncuran final kendaraan tersebut.







