Membeli smartphone kini makin mirip keputusan investasi, bukan lagi belanja impulsif. Di tengah harga perangkat yang naik dan siklus ganti ponsel yang makin panjang, Samsung menilai nilai sebuah ponsel justru ditentukan oleh seberapa lama perangkat itu tetap relevan, aman, dan terus mendapat pembaruan.
Perubahan ini terlihat jelas saat konsumen tidak lagi hanya membandingkan kamera atau prosesor. Mereka juga mulai menghitung usia pakai, biaya kepemilikan, dukungan software, dan kemampuan perangkat mengikuti perkembangan AI dalam beberapa tahun ke depan.
Tekanan ekonomi ikut mengubah cara orang berbelanja perangkat elektronik. Kenaikan suku bunga kredit, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan lonjakan harga BBM non-subsidi membuat masyarakat lebih berhitung sebelum membeli smartphone baru.
Pada saat yang sama, harga smartphone juga terus bergerak naik. Counterpoint mencatat average selling price smartphone melonjak 12 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.
Kenaikan harga itu tidak berdiri sendiri. Krisis geopolitik global serta lonjakan harga chipset dan memori ikut mendorong biaya produksi perangkat semakin tinggi.
S&P Global menyebut perkembangan pesat AI dan pusat data membuat produsen chip dan memori mengalihkan sebagian besar kapasitas produksinya untuk kebutuhan tersebut. Dampaknya, stok chipset dan memori konvensional untuk server, PC, dan smartphone menipis, lalu harganya ikut naik signifikan.
Counterpoint juga mencatat biaya bill of materials untuk smartphone entry-level naik 20-30 persen. Kenaikan itu menambah tekanan pada produsen sekaligus konsumen, terutama di segmen harga yang lebih sensitif.
MX Business Vice President Samsung Electronics Indonesia Yadi Prayitno mengatakan perubahan AI saat ini bahkan melampaui gelombang transformasi digital sebelumnya. Menurut dia, istilah inovasi saja tidak lagi cukup untuk menggambarkan kecepatan perubahan yang sedang terjadi.
Dalam situasi seperti itu, umur pakai perangkat menjadi faktor utama. Counterpoint mencatat siklus pergantian smartphone mencapai 43 bulan atau 3,6 tahun pada 2023 dan 2024, jauh lebih panjang dibanding masa ketika upgrade biasa dilakukan setiap 1,5 hingga 2 tahun.
Nilai investasi ada pada umur pakai
Yadi menilai smartphone saat ini harus mampu memberi nilai lebih dalam jangka panjang. Karena itu, pembelian ponsel dinilai sebagai investasi yang bukan hanya bertahan lama, tetapi juga memberi return on investment yang lebih baik bagi pengguna.
Nilai tersebut tidak semata datang dari spesifikasi tertinggi saat hari pertama pembelian. Yang menjadi penentu justru adalah apakah perangkat tetap aman, produktif, dan bisa terus mengikuti perubahan kebutuhan pengguna.
Salah satu faktor yang ditekankan Samsung adalah dukungan pembaruan software. Yadi mengatakan Samsung menghadirkan pembaruan sistem operasi dan keamanan hingga enam tahun.
Menurut dia, Samsung menjadi satu-satunya perusahaan yang menyediakan pembaruan sistem operasi hingga enam kali untuk lini smartphone menengah ke bawah. Dukungan seperti ini dinilai penting karena perkembangan AI diperkirakan masih akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.
Perangkat yang tidak lagi mendapat pembaruan berisiko tertinggal. Akibatnya, pengguna bisa kehilangan akses ke fitur-fitur baru, termasuk kemampuan AI yang disebut akan mengarah ke era agentic AI.
AI jadi alasan ponsel harus tahan lama
Samsung menilai transisi ke agentic AI akan membuat software makin penting. Berbeda dari AI generatif biasa, agentic AI disebut mampu merencanakan strategi multi-langkah, mengambil tindakan, dan memakai berbagai tools secara mandiri untuk mencapai tujuan yang lebih kompleks.
Yadi mengatakan sistem operasi dan antarmuka perangkat Samsung sudah disiapkan untuk era tersebut. Dengan pendekatan ini, pengguna diharapkan tidak perlu buru-buru mengganti smartphone ketika perkembangan AI memasuki tahap baru.
Head of Category Management Samsung Electronics Indonesia Verry Octavianus menambahkan fitur AI juga mulai dibawa ke segmen yang lebih terjangkau. Menurut dia, kebutuhan AI masyarakat tidak lagi terbatas pada pengguna flagship smartphone.
Salah satu contoh yang disebut adalah fitur Voice Transcription di Samsung Galaxy A37. Fitur ini dapat mengubah percakapan menjadi teks secara otomatis langsung di perangkat tanpa koneksi internet.
Verry mengatakan seluruh proses berlangsung di perangkat, sehingga data tidak keluar dari ponsel. Selain lebih aman, pendekatan ini juga memperluas akses fitur AI pada lini smartphone kelas menengah.
Upaya menekan beban pengguna
Di tengah biaya komponen yang terus naik, Samsung menyebut punya keunggulan dalam penguasaan rantai pasok perangkat keras. Menurut Yadi, hal itu membantu perusahaan mengamankan pasokan komponen untuk kebutuhan produksi smartphone hingga 2026 agar harga dan ketersediaan produk lebih stabil.
Samsung juga menyatakan berupaya agar gejolak nilai tukar dan kenaikan biaya komponen tidak langsung dibebankan ke pengguna. Karena itu, perusahaan memperluas program keterjangkauan seperti cicilan, pembiayaan, dan trade-in.
Dukungan itu dilengkapi layanan purnajual melalui 165 service center yang tersebar di 133 kota di 34 provinsi di Indonesia. Jaringan layanan seperti ini ikut menjadi bagian dari nilai jangka panjang, karena kepemilikan smartphone tidak berhenti saat transaksi pembelian selesai.
Dalam lanskap yang dipengaruhi tekanan ekonomi dan percepatan AI, ukuran sebuah smartphone kini bergeser. Bukan lagi sekadar siapa yang paling baru hari ini, melainkan siapa yang paling siap bertahan, tetap aman, dan tetap berguna lebih lama.
Source: tekno.kompas.com






