Memasang SteamOS di desktop PC kini makin menarik bagi gamer yang ingin lepas dari beban Windows, tetapi jawabannya belum sederhana untuk semua orang. Faktor penentu utamanya bukan prosesor atau kapasitas penyimpanan, melainkan kartu grafis yang dipakai dan jenis game yang sering dimainkan.
Untuk pengguna PC berbasis AMD, SteamOS saat ini termasuk opsi yang relatif mudah direkomendasikan. Namun bagi pengguna Nvidia, pengalaman yang tersedia masih jauh dari konsisten dan bisa memunculkan masalah yang cukup serius.
AMD jadi pilihan paling aman
Valve merancang SteamOS dengan ekosistem AMD sebagai fondasi utama. Itu terlihat dari perangkat Steam Machine yang memakai CPU dan GPU AMD, sehingga kompatibilitas pada desktop dengan konfigurasi serupa cenderung lebih baik.
Jika PC memakai GPU AMD, SteamOS bisa menjadi alternatif yang menarik untuk sistem gaming harian. Sistem ini juga dinilai mampu mengurangi banyak elemen tambahan dari Windows yang tidak selalu relevan untuk bermain game.
Meski begitu, ada batas penting yang tetap harus diperhatikan. Game yang secara eksplisit membutuhkan anti-cheat level kernel masih menjadi titik lemah, sehingga tidak semua judul akan berjalan mulus.
Artinya, keputusan memasang SteamOS tidak cukup hanya melihat performa umum sistem. Pengguna juga perlu memeriksa apakah pustaka game yang dimiliki bergantung pada teknologi anti-cheat semacam itu.
Masalah terbesar ada di Nvidia
Kendala paling besar saat ini muncul pada desktop yang memakai GPU Nvidia. Karena SteamOS berbasis Linux, sistem ini mewarisi banyak tantangan yang juga muncul pada distribusi Linux lain ketika dipasangkan dengan driver Nvidia.
SteamOS memang bisa berjalan di perangkat Nvidia, tetapi hasilnya bisa sangat bervariasi. Pengguna dapat menemui performa game yang lebih rendah, gangguan grafis, masalah tampilan, bahkan kegagalan boot tergantung kombinasi GPU dan driver yang digunakan.
Akar masalahnya terletak pada pendekatan driver Linux Nvidia yang masih sangat bergantung pada komponen proprietary. Dibandingkan pendekatan open-source AMD, integrasinya belum semulus yang dibutuhkan untuk pengalaman gaming yang stabil.
Valve sudah mengakui masalah ini dan mulai mengerjakannya. Pierre-Loup Griffais, software engineer di Valve, mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang bekerja sama dengan Nvidia untuk meningkatkan dukungan SteamOS pada GPU GeForce.
Namun perbaikannya tidak diperkirakan datang dalam waktu singkat. Perkiraan yang beredar menyebutkan tumpukan driver yang matang mungkin baru hadir pada akhir 2026, sehingga untuk saat ini SteamOS lebih cocok untuk sistem gaming berbasis AMD.
Bagaimana dengan prosesor Intel?
Di sisi prosesor, kekhawatiran terhadap Intel kini jauh lebih kecil. Isu lama seputar desain hybrid dengan P-core dan E-core disebut sudah banyak teratasi oleh kernel Linux modern.
Penjadwalan thread kini dinilai lebih baik, sehingga game dapat berjalan di performance core sementara tugas latar belakang diarahkan ke efficiency core. Dengan kondisi itu, PC yang memakai prosesor Intel modern seharusnya bisa menjalankan SteamOS tanpa kendala besar dari sisi CPU.
SteamOS juga telah menambah dukungan resmi untuk Intel handhelds dan GPU Intel. Itu membuat opsi pemasangan di desktop non-AMD menjadi sedikit lebih luas, selama titik lemah di sisi grafis Nvidia tidak ikut terlibat.
Kalau ingin mencoba, ini syarat dan risikonya
Valve mulai membuka pintu lebih lebar untuk pemasangan SteamOS di desktop rakitan lewat SteamOS 3.8. Untuk sistem dengan GPU AMD atau Intel, proses awalnya tergolong langsung dan tidak terlalu rumit.
Langkah pertama adalah mengunduh image pemulihan SteamOS terbaru dari halaman dukungan perangkat keras Steam milik Valve. Setelah menyetujui syarat dan ketentuan Steam, proses unduhan bisa dimulai.
Setelah itu, pengguna memerlukan USB drive dengan kapasitas minimal 8GB. Di Windows, media instalasi dapat dibuat memakai Rufus dengan memilih image SteamOS lalu menuliskannya ke USB, dan proses ini akan menghapus seluruh isi drive tersebut.
Tahap berikutnya adalah masuk ke BIOS atau UEFI untuk menonaktifkan Secure Boot dan menjadikan USB sebagai perangkat boot utama. Setelah perubahan disimpan, sistem akan reboot dan memulai proses dari USB.
Saat boot menu muncul, pengguna perlu memilih opsi EFI USB Device. Layar dapat tetap hitam selama beberapa saat sebelum SteamOS selesai dimuat, sehingga jeda singkat ini masih dianggap normal.
Ketika desktop environment sudah muncul, proses pemasangan dilakukan lewat shortcut “Re-image Device”. Langkah ini sangat penting karena akan menghapus total drive target, termasuk Windows, program terpasang, game, dan file pribadi.
Sesudah instalasi selesai, PC perlu direstart dan USB dilepas. SteamOS kemudian akan boot normal, memandu proses setup awal, meminta koneksi internet, lalu login ke akun Steam sebelum game bisa diunduh.
Bagi banyak pengguna desktop, pertanyaan “perlukah memasang SteamOS” pada akhirnya bergantung pada dua hal sederhana. Jika sistem memakai GPU AMD dan game yang dimainkan tidak bergantung pada anti-cheat level kernel, SteamOS sudah cukup layak dicoba sekarang; jika memakai Nvidia, menunggu kematangan dukungan resmi tampaknya masih jadi pilihan yang lebih aman.
Source: tech.sportskeeda.com






