Bepergian ke luar negeri tidak hanya soal tiket dan hotel, tetapi juga soal barang yang dibawa di dalam koper. Sejumlah gadget yang terasa normal bagi banyak orang ternyata bisa memicu penyitaan, denda, atau masalah hukum saat masuk ke negara tertentu.
Risikonya makin besar karena banyak aturan tidak seragam antarnegara. Perangkat yang aman di satu tempat bisa dianggap melanggar di tempat lain, terutama jika berkaitan dengan komunikasi, privasi, dan frekuensi radio.
Telepon satelit
Telepon satelit masih berguna di lokasi terpencil karena tidak bergantung pada jaringan lokal. Perangkat ini juga bisa dipakai untuk mengirim sinyal SOS saat keadaan darurat.
Masalahnya, beberapa negara melarang atau membatasi keras penggunaannya. Chad disebut melarang telepon satelit tanpa pengecualian, sementara Kuba melarang impor perangkat ini.
Aturan itu makin rumit karena fungsi komunikasi satelit mulai hadir di ponsel biasa. iPhone dan Google Pixel sudah membawa fitur ini, dan layanan 5G satelit serta koneksi langsung ala Starlink juga berpotensi memperluas penggunaan teknologi serupa.
VPN di perangkat apa pun
VPN bekerja dengan mengenkripsi koneksi antara perangkat dan server lain. Teknologi ini membuat aktivitas internet lebih sulit dilihat oleh ISP atau pemerintah.
VPN juga sering dipakai untuk mengubah lokasi digital agar terlihat mengakses internet dari negara lain. Karena itu, sejumlah negara dengan pengawasan ketat menilai penggunaannya bermasalah.
Ada negara yang melarang VPN sepenuhnya, dan ada pula yang hanya mengizinkan layanan resmi yang diawasi pemerintah. Kondisi ini membuat pengecekan aturan lokal sebelum memakai VPN menjadi penting.
Drone
Drone kini jauh lebih canggih dibanding generasi awalnya. Banyak model kecil yang bisa dilipat sudah mampu merekam video 4K dan memiliki fitur autopilot.
Kemampuan itu membuat aturan drone di banyak negara semakin ketat. Mesir melarang wisatawan membawa drone sama sekali, sedangkan Maroko mewajibkan izin resmi agar pengguna tidak terkena denda atau penyitaan.
Ada juga pengecualian di beberapa negara. Kanada menganggap drone di bawah 250 gram sebagai micro drone yang tidak perlu registrasi.
Dashcam
Dashcam populer karena membantu merekam kejadian saat berkendara. Perangkat ini juga sering dipakai sebagai bukti kecelakaan atau pencegah pencurian saat mobil diparkir.
Namun, tidak semua negara menerima perangkat ini dengan baik. Di Uni Eropa, tafsir aturan privasi seperti GDPR berbeda-beda antarnegara.
Portugal, Luksemburg, dan Austria termasuk yang bisa memberi denda karena dianggap melanggar privasi. Sebaliknya, Spanyol dan Belanda punya aturan yang lebih longgar.
Walkie-talkie
Walkie-talkie tetap berguna di area tanpa sinyal atau saat dibutuhkan komunikasi dua arah yang praktis. Meski begitu, perangkat ini sering masuk ke ranah aturan frekuensi radio yang ketat.
Di beberapa negara seperti Uni Emirat Arab dan Thailand, penggunaan walkie-talkie tanpa izin resmi bisa berujung penyitaan atau masalah hukum. Karena itu, membeli perangkat di negara tujuan lewat penjual resmi sering menjadi pilihan yang lebih aman.
Perangkat GPS
Perangkat GPS sekilas tampak aman dibawa ke mana saja. Tetapi di beberapa negara, perangkat ini justru menimbulkan persoalan hukum.
Pada 2025, Kedutaan Besar Amerika Serikat di India sempat memperingatkan warganya terkait kasus penangkapan atas kepemilikan perangkat GPS khusus. HP yang punya fitur GPS tetap diperbolehkan, tetapi aturan itu berjalan beriringan dengan larangan telepon satelit.
Di Cina, kepemilikan perangkat GPS tidak dilarang. Namun, penggunaan datanya diawasi ketat, terutama jika terkait pengiriman atau distribusi data peta ke luar negeri tanpa izin pemerintah.
Semua contoh itu menunjukkan bahwa gadget yang tampak biasa saja bisa berubah menjadi barang bermasalah di negara lain. Karena itu, memeriksa aturan sebelum berangkat menjadi langkah penting agar perjalanan tidak terganggu oleh persoalan yang sebenarnya bisa dihindari.
