Samsung mengambil langkah yang tidak biasa saat harga smartphone global justru naik. Perusahaan ini membawa fitur AI yang selama ini identik dengan ponsel premium ke lini kelas menengah, sekaligus memberi dukungan pembaruan perangkat lunak yang panjang.
Langkah itu menarik karena datang di tengah tekanan biaya industri. Counterpoint mencatat average selling price smartphone global naik 12 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, sementara biaya bill of materials untuk ponsel entry-level naik 20-30 persen dan segmen mid-end serta flagship naik 10-15 persen.
Di tengah kenaikan tersebut, Samsung memasukkan fitur seperti Voice Transcription dan on-device AI ke ponsel kelas menengah. Samsung juga memberi jaminan pembaruan sistem operasi hingga enam kali dan pembaruan keamanan selama enam tahun.
Head of MX Business Samsung Electronics Indonesia Yadi Prayitno menilai perubahan AI saat ini melampaui gelombang transformasi digital sebelumnya. Ia mengatakan perkembangan AI sudah bergerak lebih cepat dari yang pernah dibayangkan.
AI premium tak lagi eksklusif
Strategi ini tidak hanya ditujukan untuk merespons biaya komponen yang meningkat. Samsung juga ingin menambah nilai guna perangkat ketika konsumen kini menahan ponsel lebih lama sebelum mengganti ke model baru.
Menurut riset Counterpoint, siklus pergantian smartphone mencapai 43 bulan atau sekitar 3,6 tahun pada 2023 dan 2024. Pola itu menunjukkan keputusan membeli ponsel kini makin dekat dengan keputusan investasi, bukan sekadar mengejar spesifikasi terbaru.
Yadi mengatakan pengguna kini tidak hanya membandingkan kamera atau kecepatan prosesor. Konsumen juga mempertimbangkan usia pakai perangkat, keamanan data, dukungan perangkat lunak, dan biaya kepemilikan jangka panjang.
Karena itu, Samsung ingin ponselnya dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pendekatan ini terlihat dari keputusan membawa kemampuan AI yang biasanya ada di perangkat flagship ke model kelas menengah seperti Galaxy A37 5G dan Galaxy A57 5G.
Mengapa on-device AI jadi penting
On-device AI bekerja dengan memproses data langsung di perangkat pengguna tanpa mengirimkannya ke server atau cloud eksternal. Teknologi ini sebelumnya lebih banyak hadir di kelas flagship.
Samsung menilai pendekatan tersebut relevan untuk kebutuhan produktivitas sekaligus privasi. Bagi pengguna profesional, pemrosesan langsung di perangkat berarti fitur AI tetap bisa dipakai tanpa selalu bergantung pada koneksi internet.
Yadi menyebut on-device AI sebagai arah masa depan AI di smartphone. Menurut dia, Samsung ingin pemrosesan dilakukan di perangkat pengguna dan tidak seluruhnya bergantung pada cloud.
Konsep ini juga dikaitkan dengan kesiapan menuju era agentic AI. Dengan data tetap berada di ponsel, pengguna mendapat lapisan keamanan tambahan saat memproses informasi yang sensitif.
Voice Transcription jadi contoh paling nyata
Salah satu fitur yang paling mudah dipahami pengguna adalah Voice Transcription. Fitur ini memungkinkan ponsel merekam percakapan, wawancara, rapat, atau diskusi, lalu mengubahnya menjadi teks secara otomatis.
Head of Category Management Samsung Electronics Indonesia Verry Octavianus menjelaskan seluruh proses berlangsung langsung di perangkat. Sistem juga disebut mampu mentranskripsikan percakapan dalam berbagai bahasa tanpa memerlukan kuota internet atau data seluler.
Manfaatnya cukup luas untuk banyak kelompok pengguna. Jurnalis dapat mentranskripsikan wawancara tanpa pencatatan manual, mahasiswa bisa mengubah rekaman kuliah menjadi catatan teks, pekerja kantoran dapat mendokumentasikan rapat, dan pelaku UMKM bisa mencatat diskusi bisnis dengan cepat.
Karena data tidak perlu dikirim ke cloud, aspek keamanan menjadi nilai tambah tersendiri. Ini penting untuk dokumen kerja, hasil rapat, atau percakapan yang bersifat privat.
Lokalisasi jadi kunci demokratisasi AI
Samsung juga menekankan bahwa AI tidak cukup hanya canggih, tetapi harus relevan dengan pengguna lokal. Karena itu, perusahaan memperluas dukungan bahasa Indonesia di berbagai fitur AI.
Verry mengatakan pada awal kemunculan Galaxy AI, sebagian besar fitur masih mengandalkan bahasa Inggris. Kini, bahasa Indonesia sudah diadopsi ke dalam berbagai fitur AI Samsung agar pemanfaatannya lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Pendekatan lokalisasi ini penting dalam upaya demokratisasi AI. Teknologi yang tersedia pada perangkat lebih terjangkau akan sulit benar-benar berguna jika tidak mendukung bahasa yang dipakai pengguna sehari-hari.
Fokus pada biaya kepemilikan jangka panjang
Samsung menilai demokratisasi AI tidak berhenti pada penyediaan fitur premium di harga yang lebih terjangkau. Perangkat itu juga harus terus relevan seiring perkembangan kemampuan AI beberapa tahun ke depan.
Karena itu, Samsung memberi dukungan hingga enam kali pembaruan sistem operasi dan enam tahun pembaruan keamanan untuk smartphone kelas menengah. Yadi menyebut komitmen tersebut membuat biaya kepemilikan perangkat menjadi lebih hemat dibanding mengganti ponsel murah setiap dua tahun, terutama saat harga komponen sedang naik.
Komitmen jangka panjang itu ditopang jaringan 165 service center di 133 kota di Indonesia. Samsung juga menyebut memiliki keunggulan dalam penguasaan rantai pasok perangkat keras, sehingga dapat mengamankan pasokan komponen untuk produksi smartphone hingga 2026 demi menjaga kestabilan harga dan ketersediaan produk.
Dengan strategi ini, ponsel kelas menengah tidak lagi hanya diposisikan sebagai alternatif yang lebih murah. Samsung justru mendorong segmen ini menjadi pintu masuk bagi lebih banyak pengguna untuk mengakses AI yang aman, relevan, dan siap berkembang dalam jangka panjang.
