Tinggalkan Kamera iPhone, Saya Justru Tak Rindu Yang Paling Saya Kira Hilang

Seorang fotografer profesional yang terbiasa membawa tas penuh perlengkapan mirrorless justru menemukan bahwa kamera harian paling sering dipakai tetap iPhone. Namun, setelah mencoba memotret tanpa layar selama hampir dua minggu, ia tidak merindukan hal yang paling dulu ia duga akan hilang: layar pratinjau.

Tren kamera digital tanpa layar kini ikut tumbuh di tengah minat pada teknologi analog yang lebih lambat, tanpa biaya film. Dalam uji coba itu, kamera kompak screen-free dipilih untuk memotret berbagai momen sederhana, mulai dari anak-anak hingga matahari terbenam.

Selama tantangan tersebut, iPhone tidak dipakai untuk foto maupun video hampir dua minggu. Sebagai gantinya, ia mencoba beberapa kamera tanpa layar, termasuk Camp Snap CS-Pro dan kamera tiruan disposable dari Flashback.

Satu perangkat yang masih punya layar juga ikut dipakai, yakni Fujifilm X Half. Namun layar itu dikunci, dan pemotretan dijalankan sepenuhnya lewat mode film sehingga layar hanya menampilkan pengaturan kamera tanpa memperlihatkan hasil gambar.

Hasil paling mengejutkan justru datang dari pengalaman memotret itu sendiri. Tanpa layar, ia tidak lagi sibuk mengecek apakah bidikan sudah sesuai bayangan, meski ada beberapa foto yang terlalu terang atau horizon yang miring.

Ia juga merasa tekanan untuk membuat setiap momen tampak sempurna ikut berkurang. Di sisi lain, foto digital tanpa layar menghadirkan sensasi kejutan yang mirip membuka hasil gulungan film setelah dicuci.

Kebiasaan itu membawa konsekuensi praktis yang berbeda. Jika pada iPhone foto sering dibiarkan menumpuk, maka pada kamera screen-free ia harus meluangkan waktu untuk duduk dan melihat ulang hasil jepretan.

Ada juga sisi lain yang membuat sejumlah kamera ini terasa lebih ringan untuk dipakai harian. Banyak model screen-free mengusung preset bernuansa film yang diterapkan langsung di dalam kamera, sehingga proses editing terasa tidak terlalu mendesak.

Dari semua perangkat yang dicoba, Fujifilm X Half menjadi favorit untuk urusan warna dan karakter gambar. Kamera itu punya sensor yang lebih besar, memakai film simulations yang juga ada pada kamera mirrorless Fujifilm, serta menghadirkan efek light leaks dan halation yang sering dianggap sebagai “kecelakaan” menyenangkan ala film.

Ada kompromi yang tetap terasa

Kendati begitu, ada satu hal yang tetap dirindukan: zoom. Sebagian besar kamera kompak tanpa layar yang dipakai adalah kamera fixed focal length, jadi optical zoom memang bukan bagian dari pengalaman memotret.

Mode makro juga umumnya tidak hadir karena lensa fixed focus yang meniru kamera film sekali pakai. Fujifilm X Half menjadi pengecualian, karena masih memungkinkan close-up selain foto potret dan lanskap.

Pengalaman itu juga mengingatkan kembali pada satu keunggulan terbesar iPhone. Saat berjalan bersama anjing pada suatu malam dan langit menunjukkan pelangi ganda yang dramatis, kamera screen-free tidak keburu dibawa.

Ia sempat kembali untuk mengambil kamera, tetapi saat kembali ke lokasi, pelangi itu hampir hilang sepenuhnya. Peristiwa itu menegaskan bahwa kamera terbaik sering kali adalah kamera yang memang sedang dibawa saat momen muncul.

Justru video menjadi hal yang paling membuatnya kembali membuka kamera iPhone untuk pertama kalinya setelah 13 hari. Sebagai fotografer, ia bukan videografer, tetapi beberapa kenangan pribadi memang lebih tepat direkam dalam gambar bergerak.

Di sisi produk, tidak semua kamera screen-free hanya memotret foto diam. Ada Camp Snap CS-8 yang khusus video, tetapi ukurannya besar dan tidak bisa dimasukkan ke kantong, serta tidak menghasilkan foto still.

Fujifilm X Half juga bisa merekam video, tetapi fitur itu tidak tersedia ketika kamera dipakai dalam mode film dengan layar terkunci. Pada akhirnya, pengalaman ini membuat kamera kompak tanpa layar terasa seperti pilihan yang kuat untuk memotret saat ingin lepas dari distraksi, tanpa harus selalu membawa beban mirrorless atau tergantung pada iPhone.

Terkait