Toyota Pangkas Produksi RAV4, Inden Makin Mengular Saat Permintaan Masih Meroket

Toyota mengambil langkah yang justru memperpanjang antrean pembeli RAV4. Di saat permintaan terhadap SUV andalan itu masih sangat tinggi, produksi model terbaru malah dipangkas sehingga stok diperkirakan makin sulit didapat dalam beberapa bulan ke depan.

Keputusan ini menjadi sorotan karena RAV4 generasi keenam tetap diburu di banyak pasar. Unit yang sampai ke dealer dilaporkan langsung habis terjual hanya dalam hitungan jam, sementara sebagian konsumen harus masuk daftar tunggu karena pasokan tidak sanggup mengejar minat beli.

Berdasarkan laporan Nikkei yang dikutip Carscoops, Toyota akan mengurangi produksi kendaraan di luar Jepang sebanyak 100 ribu unit hingga Februari 2027. Pengurangan itu merupakan tambahan dari pemangkasan sekitar 40 ribu unit yang lebih dulu dilakukan untuk fasilitas manufaktur di Jepang.

RAV4 bermesin konvensional menjadi salah satu model yang paling terdampak. Selain itu, sejumlah model yang dipasarkan di China, termasuk bZ3X, juga mengalami penyesuaian produksi, meski Toyota belum merinci besaran pengurangan untuk masing-masing model.

Permintaan tetap tinggi, pasokan tertahan

Masalah utama RAV4 bukan pada minat pasar, melainkan keterbatasan suplai. Seorang juru bicara Toyota menegaskan, “Ada masalah pasokan Toyota RAV4, bukan masalah permintaan.”

Kondisi itu berkaitan dengan jeda produksi di pabrik Kentucky, Amerika Serikat, yang belum sepenuhnya siap memproduksi RAV4 terbaru. Toyota sebenarnya sudah berupaya menambah kapasitas dengan mulai merakit RAV4 terbaru di pabrik Georgetown, Kentucky.

Namun, tambahan pasokan tersebut belum cukup menutup kebutuhan pasar. Di sejumlah wilayah, permintaan tetap jauh lebih besar dibanding jumlah unit yang diproduksi, sehingga daftar tunggu masih terjadi.

Dampak terlihat pada penjualan

Tekanan pasokan itu tercermin jelas di angka penjualan global Toyota. Pada Maret 2026, penjualan global Toyota Motor kembali turun dan menjadi bulan kedua berturut-turut performa pabrikan asal Jepang itu memburuk.

Penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan di Timur Tengah serta kendala pasokan untuk salah satu model andalannya. Situasi geopolitik yang tidak stabil juga ikut mengganggu distribusi dan penjualan kendaraan.

Di pasar Amerika Serikat, efeknya terasa langsung pada RAV4. Pada Maret 2026, Toyota hanya menjual 21.693 unit RAV4, turun jauh dari 41.509 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara kumulatif, penjualan tahun berjalan RAV4 juga menyusut menjadi 59.869 unit dari 115.402 unit. Angka itu memperlihatkan betapa besar pengaruh transisi model terhadap ketersediaan mobil di pasar.

Penyesuaian operasional Toyota

Meski produksi dipangkas secara global, Toyota menyebut langkah ini sebagai bagian dari penyesuaian operasional perusahaan. Kondisi geopolitik dan dinamika pasar global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan tersebut.

Bagi konsumen, kebijakan itu berarti waktu tunggu RAV4 berpotensi semakin panjang. Selama permintaan tetap kuat dan produksi belum sepenuhnya stabil, ketersediaan model ini diperkirakan masih akan ketat di berbagai pasar.

Source: www.liputan6.com

Terkait