MacBook Murah Pakai Chip IPhone, Efisiensi Apple Mulai Mengancam Laptop Windows

Persaingan laptop kelas menengah kini berubah arah. Apple mulai menekan pasar yang selama ini dikuasai laptop Windows Rp10 jutaan dengan MacBook termurah yang memakai chip A18 Pro, prosesor yang sebelumnya dikenal sebagai otak iPhone kelas premium.

Langkah itu langsung menarik perhatian karena Apple membawa filosofi efisiensi smartphone ke dalam laptop. Hasilnya bukan hanya soal performa, tetapi juga soal daya tahan baterai, konsumsi daya, dan karakter penggunaan harian yang berbeda dari banyak laptop Windows di kelas harga yang sama.

Chip iPhone di MacBook, tapi bukan sekadar eksperimen

MacBook terbaru ini tetap mempertahankan desain khas Apple dengan bodi aluminium yang terlihat premium. Dari kejauhan, tampilannya bahkan sulit dibedakan dari MacBook seri M yang harganya jauh lebih mahal.

Di kelas harga Rp10 jutaan, desain masih menjadi nilai jual penting. Laptop Windows lokal juga mulai memakai bodi aluminium, tetapi nama besar Apple tetap memberi daya tarik kuat bagi pengguna yang mengejar tampilan, ekosistem, dan kesan premium.

Yang membuat perangkat ini menonjol justru keputusan Apple memakai A18 Pro sebagai dapur pacu. Berdasarkan pengujian yang ditampilkan dalam ulasan sebuah kanal YouTube teknologi Indonesia, performa single-core dan multi-core tergolong kompetitif untuk produktivitas harian.

Menariknya, performa itu hampir tidak turun saat laptop dipakai tanpa adaptor daya. Karakter ini menunjukkan keunggulan arsitektur ARM yang selama beberapa tahun terakhir terus dikembangkan Apple.

Efisiensi jadi senjata utama

Pada pengujian rendering video 4K, MacBook ini menyelesaikan pekerjaan sekitar 4 menit 46 detik. Hasil itu lebih cepat dibanding laptop berbasis Intel Core Ultra 5 yang memerlukan sekitar 6 menit 10 detik.

Namun, laptop Windows dengan AMD Ryzen 5 6600H masih menjadi yang tercepat dengan catatan sekitar 3 menit 56 detik. Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa Apple tidak selalu mengejar skor mentah tertinggi, melainkan keseimbangan antara kecepatan dan efisiensi daya.

Bagian paling mencolok justru ada pada konsumsi dayanya. Saat rendering, MacBook ini hanya memakai sekitar 5 watt, sedangkan laptop Ryzen 5 6600H membutuhkan sekitar 35 watt untuk tugas yang sama.

Selisih besar itu berdampak langsung ke baterai. Meski kapasitas baterainya hanya sekitar 36,5 Wh, lebih kecil dibanding dua laptop Windows pembanding yang memiliki baterai 51 Wh hingga 58 Wh, MacBook ini tetap mampu dipakai lebih dari 10 jam dalam skenario tertentu.

Bagi pekerja kantoran, mahasiswa, penulis, dan editor yang sering berpindah tempat, efisiensi seperti ini sangat penting. Laptop jadi lebih hemat listrik, lebih adem, dan lebih nyaman dipakai dalam waktu lama.

Masih ada kompromi yang perlu diperhatikan

Di sisi layar, MacBook ini memakai panel 13 inci dengan rasio 3:2. Format itu memberi ruang vertikal lebih luas untuk dokumen dan aplikasi produktivitas.

Tetapi hasil pengujian menunjukkan cakupan warnanya belum mencapai 100 persen sRGB, melainkan sekitar 91,7 persen. Angka itu masih layak untuk kelasnya, meski menjadi catatan karena Apple biasanya dikenal unggul dalam kualitas layar.

Keyboard dan trackpad tetap mempertahankan rasa khas MacBook yang nyaman digunakan. Walaupun belum memakai teknologi haptic seperti model premium, pengalaman mengetik masih dinilai solid.

Webcam juga menjadi nilai tambah. Hasil pengujian menunjukkan kamera depannya lebih tajam dan lebih minim noise dibanding banyak laptop Windows di rentang harga serupa.

Bukan laptop untuk semua orang

Di bagian konektivitas, pilihan port masih sangat terbatas. Pengguna hanya mendapat dua USB Type-C dan jack audio, sehingga kebutuhan HDMI, USB-A, atau slot kartu memori kemungkinan tetap memerlukan dongle tambahan.

Penyimpanan dasar juga hanya 256 GB. Kapasitas itu mulai terasa sempit bagi pengguna dengan banyak aplikasi atau file multimedia, sementara varian 512 GB tersedia dengan harga lebih tinggi.

Untuk gim, laptop Windows masih lebih masuk akal. Dalam pengujian yang sama, laptop berbasis Ryzen 5 6600H masih bisa menjalankan sejumlah gim modern, termasuk Cyberpunk 2077 dengan pengaturan tertentu.

MacBook ini memang tidak dirancang sebagai perangkat gaming. Keterbatasan kompatibilitas gim di macOS membuatnya lebih cocok untuk produktivitas, efisiensi baterai, bobot ringan, keamanan sistem, dan ekosistem Apple.

Pilihan akhirnya tetap bergantung pada kebutuhan pengguna. Bagi yang mengutamakan kerja mobile dan daya tahan baterai, MacBook berchip A18 Pro ini jadi alternatif sangat menarik di kelas Rp10 jutaan, sementara laptop Intel dan AMD masih unggul untuk fleksibilitas port, kompatibilitas aplikasi Windows, dan gim.

Terkait