Laptop tipis biasanya harus memilih: ringan untuk kerja, atau bertenaga untuk main game. Lenovo Yoga Slim 7i Ultra Aura Edition mencoba mematahkan pilihan itu dengan bobot sekitar 975 gram, tetapi tetap sanggup menjalankan game AAA melalui grafis terintegrasi Intel Arc B390.
Hasil pengujian KompasTekno menunjukkan perangkat ini bukan hanya menyasar pekerja kantoran dan kreator konten, tetapi juga menawarkan pengalaman bermain yang mengejutkan untuk kelas laptop ultra-tipis. Dengan ketebalan 13,9 mm dan bodi premium, model ini mengarah ke pengguna yang butuh mobilitas tinggi tanpa ingin sepenuhnya meninggalkan performa grafis.
Desain ringan untuk mobilitas harian
Yoga Slim 7i Ultra Aura Edition hadir dalam warna Seashell dengan finishing matte berwarna putih krem. Tampilan ini membuatnya terlihat elegan sekaligus nyaman digenggam saat dibawa bepergian.
Bobot 975 gram menempatkannya di antara laptop premium paling ringan di kelasnya. Saat dipakai berpindah tempat, membawa perangkat ini ke kantor, ruang rapat, kafe, atau transportasi umum terasa jauh lebih praktis dibanding laptop gaming konvensional.
Lenovo juga menaruh tombol daya di sisi bodi agar area keyboard terlihat lebih rapi. Di sisi lain, tersedia privacy shutter fisik untuk webcam, beberapa port USB-C Thunderbolt, serta paket penjualan yang sudah menyertakan adaptor USB, HDMI, mouse nirkabel, dan charger.
Keberadaan adaptor tambahan ini penting karena laptop ini mengandalkan konektivitas USB-C. Pengguna tetap bisa menghubungkan perangkat eksternal tanpa harus langsung membeli aksesori tambahan.
Layar OLED 2.8K jadi daya tarik utama
Salah satu nilai jual terbesar laptop ini ada pada layarnya. Lenovo memakai panel PureSight Pro OLED 14 inci dengan resolusi 2.880 x 1.800 piksel, refresh rate 120 Hz, tingkat kecerahan hingga 1.100 nit, dan dukungan touchscreen.
Dalam pengujian, panel ini menghasilkan warna tajam dan kontras tinggi untuk mengetik, mengedit foto, hingga menikmati konten multimedia. Bagi kreator konten, akurasi warna membantu proses penyuntingan agar hasil akhir lebih mendekati tampilan asli.
Refresh rate 120 Hz juga membuat navigasi antarmuka terasa lebih mulus. Sementara itu, fitur layar sentuh memberi opsi navigasi cepat saat pengguna ingin bergerak tanpa selalu mengandalkan touchpad.
Performa harian terasa responsif
Varian yang diuji KompasTekno memakai Intel Core Ultra X9 388H, sementara versi resmi Indonesia menggunakan Intel Core Ultra X9 378H. Perbedaan keduanya hanya ada pada kecepatan clock maksimum yang sedikit lebih tinggi pada model Singapura.
Laptop ini dipasangkan dengan RAM LPDDR5X 32 GB, SSD PCIe Gen4 1 TB, GPU Intel Arc B390, dan Windows 11 Pro. Dalam pemakaian harian, performanya terasa responsif untuk booting cepat, membuka banyak tab browser, video conference, pengolahan dokumen, dan penyuntingan foto ringan.
Kombinasi itu menunjukkan bahwa laptop premium modern tidak lagi hanya mengejar desain tipis. Perangkat seperti ini juga harus sanggup menangani multitasking profesional tanpa hambatan berarti.
Intel Arc B390 sanggup jalankan game AAA
Bagian paling menarik justru datang dari sektor grafis. Meski tidak memakai GPU diskret seperti Nvidia GeForce RTX atau AMD Radeon, Intel Arc B390 tetap mampu menjalankan berbagai game AAA dengan hasil yang cukup baik.
Forza Horizon 6 tercatat bisa dimainkan di kisaran 50–60 FPS pada resolusi 1.920 x 1.200 piksel dengan grafis rendah. Hogwarts Legacy berada di sekitar 45–55 FPS pada resolusi native 2.8K dengan pengaturan Low.
Death Stranding juga berjalan di kisaran 40–50 FPS saat memakai pengaturan High pada resolusi Full HD. Untuk game kompetitif, Dota 2 mencapai 55–65 FPS pada resolusi native dengan pengaturan High, sementara Counter-Strike 2 berada di kisaran 40–50 FPS.
KompasTekno juga menguji Pragmata, salah satu game terbaru Capcom. Game ini menjadi beban terberat dalam pengujian, tetapi masih dapat dimainkan pada kisaran 25–30 FPS dengan pengaturan High.
Sebagian besar pengujian dilakukan di resolusi yang lebih tinggi dari Full HD. Artinya, pengguna masih punya ruang untuk memperoleh frame rate lebih tinggi jika menurunkan resolusi permainan.
Kipas senyap, baterai masih panjang
Sistem pendinginnya juga mendapat catatan positif. Saat dipakai bermain game, suara kipas tidak terlalu mengganggu sehingga masih nyaman digunakan di ruang kerja atau kafe.
Bodi memang terasa sedikit hangat saat menjalankan game berat dalam waktu lama, tetapi kondisi itu masih tergolong wajar untuk laptop setipis ini. Dari sisi baterai, pemakaian produktivitas seperti mengetik, browsing, media sosial, rapat daring, dan penyuntingan foto ringan bisa bertahan sekitar 8–9 jam screen-on time.
Jika diselingi mode tidur, total penggunaan dapat mencapai sekitar 15 jam. Saat dipakai bermain game AAA, daya tahannya turun menjadi sekitar 1,5 hingga 2 jam, yang masih tergolong normal karena beban CPU dan GPU meningkat tajam.
Lenovo Yoga Slim 7i Ultra Aura Edition pada akhirnya menegaskan bahwa laptop ultra-tipis kini tidak lagi identik dengan kompromi besar di sisi performa. Perangkat ini lebih cocok diposisikan sebagai laptop produktivitas premium yang punya bonus kemampuan gaming, terutama bagi pengguna yang ingin satu perangkat untuk kerja siang dan bermain game setelahnya.
