Membuat video untuk TikTok, Instagram, atau YouTube tidak selalu menuntut ponsel berharga mahal. Di kelas HP Rp1 Jutaan, tersedia sejumlah pilihan dengan kamera beresolusi tinggi, baterai besar, dan performa yang cukup untuk mengedit video pendek.
Enam model berikut menyasar kreator pemula yang membutuhkan perangkat untuk merekam, mengunggah, serta melakukan Edit CapCut ringan. Kemampuannya tentu lebih cocok untuk proyek Full HD sederhana, bukan pengolahan video berat dengan banyak lapisan efek.
Ringkasan Pilihan HP untuk Ngonten
Mayoritas perangkat dalam daftar ini membawa kamera utama 48 MP hingga 50 MP dan baterai minimal 5.000 mAh. Berdasarkan rangkuman Suara.com, beberapa model juga menawarkan layar 120Hz agar navigasi dan penyuntingan timeline terasa lebih mulus.
| Model | Kamera Utama | Penunjang Konten | Harga |
|---|---|---|---|
| Redmi 14C | 50 MP + 2 MP + AI | Helio G81 Ultra, layar 120Hz, 5.160 mAh | Mulai Rp1.399.000 |
| POCO C75 | 50 MP AI | Helio G81 Ultra, layar 120Hz, 5.160 mAh | Mulai Rp1.449.000 |
| Infinix Hot 50i | 48 MP | Helio G81, Super Night Mode, 5.000 mAh | Sekitar Rp1.499.000 |
| Vivo Y18 | 50 MP | Helio G85, 5.000 mAh | Rp1.599.000 |
| Samsung Galaxy A06 4G | 50 MP + 2 MP | Helio G85, 5.000 mAh | Mulai Rp1.599.000 |
| Redmi A7 Pro | 13 MP AI Dual Camera | Unisoc T7250, layar 120Hz, 6.000 mAh | Rp1.849.000 |
1. Redmi 14C
Redmi 14C membawa kamera utama 50 MP AI yang ditujukan untuk menghasilkan foto tajam dengan warna baik saat cahaya memadai. Kamera depan 13 MP dapat digunakan untuk selfie maupun kebutuhan vlog sederhana.
Layar IPS LCD 6,88 inci dengan refresh rate 120Hz menjadi nilai tambah saat merekam, melihat hasil, dan menggeser timeline video. MediaTek Helio G81 Ultra, RAM 6 GB, memori 128 GB, serta baterai 5.160 mAh membuatnya relevan untuk HP untuk Ngonten dengan anggaran terbatas.
2. POCO C75
POCO C75 memakai kamera 50 MP AI dengan autofocus responsif untuk membantu menjaga fokus objek ketika merekam. Kamera depannya beresolusi 13 MP, sedangkan layar IPS LCD 120Hz memberi pengalaman navigasi yang lebih nyaman.
Chipset MediaTek Helio G81 Ultra dipadukan RAM 6 GB dan penyimpanan 128 GB. Kombinasi ini disebut cukup untuk membuka CapCut, menyunting video Full HD ringan, serta menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan.
3. Infinix Hot 50i
Infinix Hot 50i dapat dipertimbangkan bagi pembuat konten yang sering merekam dalam kondisi minim cahaya. Fitur Super Night Mode diklaim membantu memperbaiki pencahayaan dan mengurangi noise pada foto maupun video.
Ponsel ini mengandalkan kamera 48 MP, layar IPS LCD 120Hz, dan chipset MediaTek Helio G81. Baterai 5.000 mAh dengan pengisian 18W mendukung aktivitas merekam, mengedit ringan, lalu mengunggah konten ke media sosial.
4. Vivo Y18
Vivo Y18 menonjolkan kamera utama 50 MP yang mampu menghasilkan efek portrait dengan pemisahan objek dan latar belakang yang rapi. Karakter warnanya disebut natural sehingga sesuai untuk konten lifestyle atau produk.
MediaTek Helio G85 menopang penggunaan aplikasi penyuntingan video ringan, sementara konfigurasi yang dicantumkan adalah RAM 4 GB dan memori 64 GB. Kapasitas penyimpanannya masih dapat diperluas, sedangkan baterai 5.000 mAh menjadi bekal untuk produksi konten harian.
5. Samsung Galaxy A06 4G
Samsung Galaxy A06 4G menawarkan kamera utama 50 MP yang dapat menghasilkan warna cerah dan detail baik pada siang hari. Kamera depan 8 MP melengkapi kebutuhan selfie serta pembuatan video pendek.
Perangkat ini menggunakan MediaTek Helio G85 dengan RAM 4 GB dan penyimpanan 128 GB. Baterai 5.000 mAh membantu menopang aktivitas harian, termasuk penyuntingan video Full HD ringan di CapCut.
6. Redmi A7 Pro
Redmi A7 Pro membawa layar IPS LCD 6,9 inci dengan refresh rate 120Hz yang luas untuk memantau rekaman dan hasil suntingan. Kamera utama 13 MP AI Dual Camera didampingi kamera depan 8 MP untuk vlog maupun video call.
Chipset Unisoc T7250, RAM 4 GB, dan memori 64 GB yang dapat diperluas melalui microSD menjadi konfigurasi dasarnya. Baterai 6.000 mAh merupakan kapasitas terbesar dalam daftar ini, sehingga cocok bagi pengguna yang memprioritaskan durasi produksi konten lebih panjang.
