Kemampuan Membaca Anak Indonesia Terendah di Asia, Ini Penyebab dan Dampaknya

Author: Qoo Media

Kemampuan baca anak-anak di Indonesia menjadi sorotan tajam dalam dunia pendidikan. Berdasarkan data terbaru, Indonesia mencatatkan angka terburuk untuk kemampuan baca anak di kawasan Asia Tenggara. Hal ini memicu kekhawatiran banyak pihak terhadap masa depan kualitas sumber daya manusia di Tanah Air.

Menurut Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, lemahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia seharusnya menjadi perhatian utama. Ubaid menegaskan, pemerintah mesti segera memperbaiki kualitas pendidikan, bukan sekadar memberikan fasilitas teknologi seperti smart tv, smartphone, atau chromebook ke sekolah-sekolah.

Fokus Kebijakan dan Prioritas Pendidikan

Ubaid menyoroti bahwa pemberian perangkat teknologi tanpa memperhatikan kebutuhan dasar belajar belum menyentuh akar persoalan. Ia menyatakan, “Jika program membaca dan berhitung saja masih lemah, maka fasilitas canggih belum dibutuhkan. Pemerintah sebaiknya fokus pada kebutuhan urgen siswa di kelas.” Pendekatan ini ditekankan agar hasilnya lebih nyata dalam peningkatan mutu belajar.

Pemerintah dinilai perlu membuat kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan anak. Program yang bersifat retorika tidak akan cukup menyelesaikan permasalahan mendasar. Peningkatan kemampuan literasi membaca diwujudkan dengan metode belajar efektif dan dukungan sumber daya memadai, bukan sekadar kecanggihan alat.

Penganggaran Pendidikan Masih Rendah

Salah satu kendala utama pembangunan kualitas pendidikan menurut Ubaid terletak pada penganggaran. Ia memaparkan, alokasi anggaran pendidikan di Indonesia belum pernah mencapai porsi ideal sebesar satu per lima dari total APBN. Keterbatasan dana tersebut berdampak luas, mulai dari fasilitas, pelatihan guru, hingga pemerataan sekolah.

Ada fakta penting bahwa pemerataan sekolah di Indonesia juga masih belum merata. Ubaid menyebutkan, “Jumlah sekolah SD, SMP, dan SMA tidak sebanding dengan jumlah anak usia sekolah. Banyak anak usia sekolah tapi jumlah gedung sekolah makin jarang.” Kondisi ini memperparah situasi literasi dan ketimpangan pendidikan antarwilayah.

Langkah Penting Memperkuat Literasi Membaca

Berdasarkan rekomendasi sejumlah pengamat pendidikan, berikut langkah yang perlu dilakukan pemerintah:

  1. Meningkatkan penganggaran untuk pemenuhan fasilitas dasar dan sumber belajar.
  2. Memastikan jumlah sekolah setara kebutuhan anak usia sekolah.
  3. Memperbanyak pelatihan guru untuk metode pembelajaran baca-tulis.
  4. Mengurangi kebijakan populis yang tidak berdampak langsung pada kemampuan dasar siswa.
  5. Fokus pada kebutuhan esensial yakni membaca, menulis, dan berhitung.

Pemerintah juga didesak memperbaiki sistem pemantauan dan evaluasi pendidikan. Setiap kebijakan yang diambil perlu berbasis data dan kebutuhan di lapangan, bukan simbol teknologi semata demi citra atau kepentingan sesaat.

Tingkat literasi membaca anak Indonesia yang terendah di Asia Tenggara menegaskan perlunya perubahan besar dalam kebijakan pendidikan. Investasi anggaran, pemerataan sekolah, dan metode pembelajaran berbasis kebutuhan anak harus menjadi fokus utama ke depan. Sengkarut layanan pendidikan dan lemahnya kemampuan baca menuntut solusi menyeluruh agar generasi muda Indonesia tidak tertinggal dari bangsa lain.

Baca selengkapnya di: www.kompas.tv
Terbaru