Pemerintah menyatakan Indonesia akan menghentikan impor solar tahun ini seiring persiapan penerapan mandatori biodiesel 50 persen atau B50. Kebijakan ini diproyeksikan menjadi titik balik besar karena langsung menyentuh kebutuhan energi nasional yang selama ini masih bergantung pada pasokan impor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut langkah itu akan mulai berjalan saat B50 diresmikan pada Juli. Ia mengatakan kebijakan tersebut akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor solar sekaligus memperkuat pemakaian energi berbasis sumber domestik.
B50 jadi penopang utama pengganti solar impor
Bahlil menjelaskan uji teknis B50 untuk sektor otomotif sudah dimulai sejak 2 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada Juni 2026. Pemerintah juga masih menguji penerapan B50 pada alat dan mesin pertanian, alat pertambangan, sektor perkeretaapian, serta pembangkit listrik.
Meski belum seluruh sektor rampung, pemerintah menargetkan uji teknis untuk alsintan dan alat pertambangan selesai pada semester II 2026. Proses di sektor perkeretaapian dan pembangkit listrik juga masih berlangsung.
Menurut Bahlil, total konsumsi solar di Indonesia saat ini sudah mencapai 39 juta kiloliter. Dari jumlah itu, pemerintah sudah menerapkan mandatori biodiesel 40 persen atau B40 yang memanfaatkan FAME sebagai campuran solar.
Dampak ke petani sawit dan impor BBM
Bahlil menilai penerapan B50 tidak hanya soal energi, tetapi juga soal pasar bagi sawit domestik. Ia menyebut kebijakan itu diharapkan membantu menjaga harga tandan buah segar atau TBS sawit di tingkat petani yang saat ini tengah turun.
Ia menegaskan hilirisasi konsumsi domestik menjadi cara untuk menjaga pasar bagi petani sawit. Dalam pandangannya, semakin besar serapan domestik untuk biodiesel, semakin kuat pula perlindungan terhadap harga komoditas di tingkat petani.
Pemerintah juga memperkirakan B50 mampu memenuhi kebutuhan domestik hingga sekitar 300 ribu barel per hari. Angka itu disebut berasal dari porsi konsumsi solar yang bisa digantikan oleh campuran biodiesel tersebut.
Pengurangan beban impor energi
Bahlil menyebut dengan adanya B50, impor solar dan impor crude yang sebelumnya sekitar 1 juta barel per hari akan turun menjadi sekitar 700 ribu barel per hari. Ia menilai pengurangan itu terjadi karena sekitar 300 ribu barel per hari dikonversi melalui pemakaian B50.
Pernyataan tersebut menunjukkan arah kebijakan energi yang makin menekankan substitusi bahan bakar fosil impor dengan bahan baku domestik. Pemerintah kini mendorong agar transisi itu tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi sektor perkebunan sawit.
Di sisi lain, pemerintah masih harus memastikan kesiapan teknis di berbagai sektor non-otomotif sebelum penerapan B50 berjalan lebih luas. Karena itu, hasil uji pada pertanian, pertambangan, perkeretaapian, dan pembangkit listrik menjadi bagian penting sebelum kebijakan ini benar-benar dipakai secara penuh.
