Inara Rusli mengakui pernah memukul anaknya sebagai bentuk disiplin. Ia menegaskan tindakan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons terhadap perilaku anaknya yang mencuri secara berulang kali.
Tuduhan kekerasan ini sebelumnya disampaikan oleh mantan mertuanya, Eva Manurung, yang menilai cara Inara mendisiplinkan anaknya terlalu kasar. Dalam sebuah video di Instagram, Eva menggambarkan tindakan Inara seperti menarik rambut dan menyeret anak dari tangga.
Menanggapi tudingan tersebut, Inara Rusli memberikan klarifikasi secara terbuka di kanal YouTube Denny Sumargo. Ia menjelaskan bahwa pukulan yang ia lakukan adalah konsekuensi dari kesalahan fatal yang dibuat sang anak, yaitu mencuri barang milik orang lain tanpa izin.
Menurut Inara, meskipun sudah berkali-kali menegur dan memberikan nasihat secara lisan, anaknya tetap mengulangi perbuatannya. Hal ini membuat dia merasa perlu menerapkan tindakan fisik sebagai bentuk pendidikan agar sang anak menyadari ada konsekuensi dari perbuatan tercela tersebut.
Inara juga menekankan bahwa metode pendidikannya bertujuan untuk mengajarkan pentingnya tanggung jawab atas kesalahan. Ia berpendapat bahwa seorang anak harus memahami batasan dan dampak dari perilaku buruk agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Lebih lanjut, sebagai ibu tiga anak, Inara mengaku terus melakukan refleksi diri untuk memperbaiki perannya. Ia menyadari bahwa figur orangtua harus bisa memberikan contoh yang baik, namun ia juga meminta pengertian jika masih ada kekurangan dalam cara mendidik anak-anaknya.
Tuduhan dari mantan mertua ini memicu banyak reaksi di media sosial, terutama mengenai batasan antara disiplin dan kekerasan dalam keluarga. Kasus Inara membuka wacana penting tentang bagaimana orangtua menegakkan aturan tanpa melanggar hak anak untuk diperlakukan dengan hormat dan penuh kasih sayang.
Penting dicatat bahwa penggunaan tindakan fisik dalam mendidik anak sebaiknya dikaji ulang demi kesejahteraan psikologis anak. Banyak psikolog dan pakar pendidikan mengingatkan bahwa hukuman fisik berisiko menimbulkan trauma dan memengaruhi hubungan emosional antara orangtua dan anak.
Dalam konteks ini, Inara Rusli tetap menegaskan niatnya untuk mendidik anak secara tegas tanpa melewati batas. Namun, dialog terbuka dan pemahaman dari berbagai pihak sangat diperlukan agar kasus seperti ini dapat diselesaikan secara adil dan penuh rasa kemanusiaan.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara tegas dan bijak dalam pengasuhan. Orangtua perlu mencari cara efektif mendisiplinkan anak tanpa harus menggunakan kekerasan fisik yang berpotensi merugikan perkembangan mereka di masa depan.
Baca selengkapnya di: www.suara.com