Perbincangan tentang visual aktor Korea tidak pernah jauh dari perhatian publik, terutama ketika mereka dipilih untuk memerankan karakter yang digambarkan sangat menawan dalam drama. Tekanan itu ternyata tidak hanya datang dari penonton, tetapi juga dari para aktornya sendiri yang sempat merasa belum cukup ganteng untuk memenuhi ekspektasi peran.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pesona di layar tidak selalu berangkat dari rasa percaya diri yang utuh. Dalam sejumlah wawancara dan program hiburan, beberapa aktor populer Korea justru mengaku pernah meragukan penampilan mereka saat harus berdiri sejajar dengan karakter atau lawan main yang dianggap terlalu sempurna.
Ju Ji Hoon dan rasa ragu saat masuk ke Princess Hours
Ju Ji Hoon termasuk nama yang paling sering disebut saat membahas aktor Korea yang sempat minder soal visual. Dalam sebuah acara di YouTube pada 2024, ia mengungkap bahwa tawaran membintangi Princess Hours datang saat dirinya masih mengikuti audisi untuk Spring Waltz.
Ia sempat diberi dukungan oleh tim produksi Spring Waltz agar menerima Princess Hours karena peran itu menjanjikan posisi sebagai pemeran utama. Namun, Ju Ji Hoon tetap merasa tidak yakin karena saat itu ia masih minim pengalaman akting dan berangkat dari dunia model.
Keraguannya makin kuat karena karakter Putra Mahkota Lee Shin digambarkan sebagai sosok yang imut, memikat, dan tampan. Bahkan, menurut pengakuannya, ia sempat menerima komentar tajam dari publik di Cyworld yang menyebut dirinya tidak cocok dengan citra karakter tersebut.
Ju Ji Hoon juga menyadari bahwa pada masa itu standar ketampanan publik banyak dikaitkan dengan nama besar seperti Jung Woo Sung, Jang Dong Gun, dan Won Bin. Ia menilai wajahnya tidak berada di kategori yang sama, meski kemudian banyak orang menganggapnya ganteng seiring berubahnya selera visual penonton.
Park Seo Joon dan kritik saat adaptasi webtoon
Park Seo Joon mengalami tekanan berbeda ketika membintangi What’s Wrong with Secretary Kim? yang diangkat dari webtoon. Sejak awal, publik sudah membandingkan dirinya dengan versi tokoh Young Joon yang digambarkan sangat tampan dan menarik.
Dalam konferensi pers, Park Seo Joon mengaku mengetahui komentar negatif yang muncul soal kecocokan visualnya. Ia tak menyangkal bahwa wajahnya mungkin berbeda dari karakter di webtoon, tetapi ia menegaskan ingin menampilkan Young Joon versinya sendiri melalui pendekatan akting yang khas.
Tim produksi juga ikut bekerja keras agar penampilannya sesuai dengan sumber asli. Mereka menyiapkan kostum dengan hati-hati, termasuk setelan jas yang dibuat khusus, demi menjaga karakter tetap terasa dekat dengan bayangan pembaca webtoon.
Kasus Park Seo Joon memperlihatkan bahwa di drama adaptasi, tuntutan visual sering kali sangat tinggi. Penonton tidak hanya menilai kemampuan akting, tetapi juga membandingkan kesesuaian aktor dengan ilustrasi yang sudah lebih dulu populer.
Kang Ha Neul dan perasaan “tidak pantas” di tengah deretan bintang tampan
Kang Ha Neul pernah menceritakan pengalamannya saat terlibat dalam The Heirs dalam program Entertainment Relay pada 2014. Ia mengingat momen pembacaan naskah sebagai titik ketika rasa minder itu muncul jelas.
Saat melihat Lee Min Ho dan Kim Woo Bin duduk di ruangan yang sama, ia sempat bertanya dalam hati apakah dirinya pantas berada di proyek itu. Ia bahkan mengaku heran mengapa penulis memilih dirinya di antara banyak aktor yang dianggap lebih tampan.
Pernyataan Kang Ha Neul memperlihatkan tekanan psikologis yang kadang muncul di industri hiburan Korea. Namun, ia tetap menjalankan perannya dan menunjukkan bahwa daya tarik aktor tidak selalu bergantung pada wajah yang dianggap paling ideal.
Daftar aktor yang pernah mengaku tak cukup ganteng untuk peran drama
- Ju Ji Hoon — ragu memerankan Putra Mahkota Lee Shin di Princess Hours.
- Park Seo Joon — sempat khawatir tak mirip dengan karakter Young Joon di What’s Wrong with Secretary Kim?.
- Kang Ha Neul — mempertanyakan posisinya di tengah jajaran bintang The Heirs.
Tiga aktor ini membuktikan bahwa kepercayaan diri di layar bisa tumbuh seiring waktu, bukan hadir sejak awal. Di tengah standar visual yang terus berubah, mereka tetap berhasil membangun daya tarik lewat akting, karakter, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan drama yang semakin kompetitif.
