Balita Menangis Dalam Terapi Daun, Dugaan Pengobatan Tradisional Picu Kekhawatiran

Sebuah video terapi balita di Palembang memicu perhatian luas karena memperlihatkan seorang bayi menangis keras saat tubuhnya diusap menggunakan daun oleh seorang terapis. Rekaman itu langsung menimbulkan pertanyaan publik, terutama karena metode yang digunakan dinilai tidak lazim dan membuat banyak warganet khawatir terhadap keselamatan anak.

Unggahan yang menyertai video itu juga memperkeruh diskusi di media sosial. Dalam keterangan akun Rumah SiRiH Palembang tertulis, “Bismillah jadwalnya dedek ketemu kyai lagi,” lalu disusul, “Alhamdulillah kalau malam bobok udah nyenyak ya dek,” yang kemudian memantik perdebatan di kolom komentar.

Kekhawatiran publik soal metode terapi

Akun @teuku.farhan.alf menjadi salah satu pihak yang awal menyuarakan keresahan dan meminta tenaga medis menilai praktik tersebut secara terbuka. Ia menandai sejumlah dokter dan meminta penjelasan dari kalangan profesional, termasuk apakah tindakan itu sudah sesuai dengan standar medis.

Ia juga mempertanyakan peran otoritas daerah dalam pengawasan praktik semacam itu. Menurutnya, tindakan yang terekam dalam video bukan hanya meresahkan, tetapi juga berpotensi bersinggungan dengan standar keselamatan anak dan etika perlindungan anak.

Dalam unggahan lanjutannya, ia meminta perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia. “Kepada Ketua KPAI mohon bantuannya, ini sudah menjurus pada dugaan eksploitasi anak,” tulisnya, sembari mendorong ada tindak lanjut yang jelas atas kejadian tersebut.

Dorongan agar ada penjelasan dari tenaga medis

Setelah video itu ramai, desakan agar dokter anak ikut bersuara juga menguat. Akun yang sama menyebut tim IDAI Sumsel dijadwalkan melakukan kunjungan pada sore hari, sebagai bagian dari respons atas kegaduhan yang muncul di publik.

Harapan utama dari desakan tersebut adalah agar kasus ini tidak berhenti pada klarifikasi semata. Publik ingin ada penjelasan profesional apakah praktik yang disebut sebagai terapi itu aman, serta apakah metode serupa bisa dikategorikan sebagai pengobatan tradisional yang tidak terstandarisasi.

Reaksi warganet dan sorotan pada peran orang tua

Kolom komentar di media sosial dipenuhi respons emosional dari warganet yang mengaku prihatin. Banyak dari mereka menyoroti keputusan orang tua yang membawa bayi ke layanan seperti itu dan mempertanyakan mengapa anak dibiarkan saat tampak menangis.

Salah satu komentar menyebut, “Orang tua bayi tersebut tidak seharusnya membawa anaknya ke terapis seperti ini.” Komentar lain berisi keprihatinan serupa, termasuk pernyataan bahwa melihat bayi diperlakukan demikian sangat menyedihkan.

Ada pula warganet yang mempertanyakan sikap orang tua ketika anak diduga menerima perlakuan kasar. Reaksi-reaksi itu menunjukkan bahwa publik tidak hanya menilai metode terapinya, tetapi juga mempersoalkan tanggung jawab pendamping anak dalam memastikan keamanan selama menjalani perawatan.

Pengawasan dan perlindungan anak jadi sorotan

Kasus ini kembali membuka pembahasan soal pengawasan terhadap praktik kesehatan atau terapi yang belum jelas standarnya. Saat metode yang digunakan tampak membahayakan atau menimbulkan ketakutan pada anak, publik menilai pengawasan dari otoritas kesehatan perlu lebih ketat.

Di sisi lain, ahli kesehatan anak diharapkan dapat memberi penjelasan yang tegas mengenai risiko penanganan seperti dalam video tersebut. Penjelasan profesional dinilai penting agar masyarakat bisa membedakan antara terapi yang benar-benar aman dan praktik yang hanya mengatasnamakan pengobatan tradisional tanpa dasar yang jelas.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button